Buku dan Industri Budaya: Ekosistem Kreatif Vietnam Butuh Pasar
ORBITINDONESIA.COM – Seminar buku dan industri budaya di Vietnam mengulang satu tesis lama: buku adalah “jantung” industri konten, tetapi jantung itu kerap berdetak lemah ketika bertemu selera pasar. Dari keluhan penerbit sampai mimpi animasi yang tertunda 10 tahun, forum ini membuka fakta bahwa ekosistem kreatif tak bisa hidup hanya dari idealisme.
Seminar “Buku dan Industri Budaya” mempertemukan akademisi, penerbit, dan kreator film untuk membahas simpul paling rapuh dalam rantai nilai: hubungan buku, film, media, dan teknologi. Para pembicara menolak debat teoretis dan memilih memetakan hambatan nyata, mulai dari sumber daya, bias pasar, hingga prasangka terhadap karya lokal.
Profesor Madya Dr. Nguyen Toan Thang menegaskan buku sebagai “landasan pengetahuan yang paling standar” dan “seni berbahasa” yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Namun ia juga memberi garis tegas: dalam industri budaya, buku tidak boleh berdiri sendiri, karena dari buku semestinya tumbuh film, musik, gim, dan seni pertunjukan.
Masalah pertama adalah jurang antara kualitas dan penjualan, yang diceritakan Dr. Nguyen Manh Hung dari Thai Ha Books sebagai “bekas luka” profesional. Ia mengaku hampir bangkrut ketika fokus “membawa yang terbaik dari dunia ke Vietnam” tetapi buku-bukunya tak bergerak di pasar.
Kutipannya tajam dan terasa dekat: orang rela menghabiskan puluhan juta dong untuk pesta, tetapi ragu membeli buku beberapa ratus ribu dong. Itu bukan sekadar soal daya beli, melainkan soal prioritas konsumsi budaya dan lemahnya kebiasaan membaca sebagai gaya hidup.
Masalah kedua adalah adaptasi lintas medium yang tersendat oleh dana, jaringan, dan prasangka genre. Produser Cao Phuong Diem menggambarkan proyek animasi dewasa yang sulit berjalan karena genre baru, riset sejarah yang tidak mudah, dan kekhawatiran menjangkau penonton muda.
Penulis sekaligus moderator Ha Thuy Nguyen memberi contoh paling gamblang tentang “biaya kesempatan” yang hilang. Novel fantasinya “Thien Ma” ditulis dengan harapan menjadi animasi atau gim, tetapi lebih dari satu dekade tak menemukan sumber daya untuk produksi.
Masalah ketiga adalah bias terhadap penulis lokal, terutama di genre fantasi dan konten pop. Direktur Penerbitan Wanita Vietnam, Khuc Thi Hoa Phuong, menyebut prasangka generasi muda bahwa fantasi Vietnam “tidak bagus,” sehingga karya lokal kalah sebelum bertanding.
Di titik ini, seminar menyodorkan jawaban praktis: ekosistem yang mengikat pencipta, penerbit, studio, investor, dan platform distribusi. Tanpa konektor itu, buku tetap menjadi produk tunggal yang sulit naik kelas menjadi IP (intellectual property) lintas platform.
Contoh “Ginger Warrior” menjadi studi kasus yang paling konkret tentang bagaimana IP dibangun dengan napas panjang. Proyek ini disebut menempuh riset 12 tahun sejak 2014 untuk menciptakan karakter ikonik Vietnam, terinspirasi dari cara Jepang menjadikan Doraemon sebagai simbol budaya.
Yang menarik, “Ginger Warrior” tidak diposisikan hanya sebagai komik atau buku, melainkan karakter animasi yang membawa pesan kesehatan dan keberlanjutan. Dr. Nguyen Toan Thang menilai simbol “jahe” punya daya spiritual dalam budaya Vietnam, terkait energi hidup dan kemampuan penyembuhan.
Jika dibaca sebagai strategi industri, proyek ini menunjukkan dua hal: IP butuh narasi nilai yang jelas, dan butuh ekosistem komersialisasi yang konsisten. Tanpa keduanya, karakter lokal mudah berhenti sebagai ide bagus yang tidak pernah menjadi kebiasaan konsumsi publik.
Seminar ini mengungkap paradoks besar: semua pihak sepakat buku adalah sumber, tetapi pasar tidak otomatis menghargai sumber itu. Kita sering mengagungkan literasi sebagai slogan, namun membiarkan harga buku tampak “mahal” dibanding hiburan instan yang justru lebih boros.
Di sisi lain, industri kreatif tidak bisa menunggu negara atau filantropi menutup semua lubang pendanaan. Yang dibutuhkan adalah desain ekosistem: skema pembiayaan IP, inkubasi penulis-creator, perjanjian lisensi yang adil, dan jalur adaptasi yang membuat buku cepat diuji sebagai film, serial, animasi, atau gim.
Prasangka terhadap fantasi lokal juga harus dibaca sebagai kegagalan promosi dan kurasi, bukan semata kualitas penulis. Ketika karya lokal jarang diberi panggung, standar pembanding publik otomatis diambil dari produk global yang didukung modal raksasa.
Karena itu, seruan “kampanye untuk mempromosikan konsumsi budaya Vietnam” terdengar tepat, tetapi harus lebih dari kampanye. Ia harus menjadi kebijakan pasar: distribusi yang kuat, pemasaran modern, transformasi digital perbukuan, dan kolaborasi lintas industri yang membuat konten Vietnam hadir di ruang sehari-hari.
Pelajaran paling penting dari forum buku dan industri budaya adalah bahwa kreativitas tidak cukup hanya diciptakan, ia harus dihidupkan lewat rantai nilai yang utuh. Buku memang “akar,” tetapi akar tanpa tanah pasar, air investasi, dan cahaya distribusi hanya akan menjadi potensi yang membusuk pelan.
Pertanyaannya kini sederhana namun menentukan: apakah publik Vietnam—dan para pemangku kepentingannya—bersedia mengubah kebiasaan konsumsi agar karya lokal punya ruang tumbuh? Jika “Ginger Warrior” bisa menempuh 12 tahun riset untuk menjadi simbol, mungkin tantangan kita bukan kekurangan ide, melainkan kekurangan ketekunan kolektif untuk membelinya, menontonnya, dan membanggakannya. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Mei 2026)