Literasi Keuangan Siswa Menguat lewat Kantor UBI di Plainville High School
ORBITINDONESIA.COM – Kantor UBI Federal Credit Union di Plainville High School menaruh literasi keuangan siswa tepat di pusat aktivitas harian mereka. Di dalam sekolah, siswa kini bisa mengakses materi edukasi, belajar manajemen uang, dan memakai ATM sebagai latihan kebiasaan finansial yang nyata.
Pembelajaran finansial sering berhenti sebagai teori, sementara keputusan uang terjadi setiap hari di kantin, pekerjaan paruh waktu, dan belanja digital. Karena itu, kehadiran layanan finansial di sekolah menjadi eksperimen kebijakan kecil yang berpotensi berdampak besar.
UBI membuka kantor di dalam sekolah di 47 Robert Holcomb Way setelah proses sekitar satu tahun, menurut Fred Brown. Model serupa pernah mereka jalankan di Manchester High School, sehingga Plainville bukan uji coba pertama.
Konteksnya kian kuat karena Connecticut baru menjadikan literasi keuangan sebagai syarat kelulusan pada 2024. Bruce Adams dari Connecticut’s Credit Unions menyebut dorongan kebijakan itu berlangsung sekitar tiga tahun, menandakan ada kehendak sistemik, bukan sekadar program musiman.
Kantor mini ini menawarkan “ruang praktik” yang biasanya absen dalam kurikulum, yakni interaksi dengan layanan finansial yang sesungguhnya. Handout, percakapan edukatif, dan keberadaan ATM mengubah konsep anggaran menjadi tindakan yang bisa diulang.
Brown menekankan pelajaran inti: membedakan keinginan dan kebutuhan, lalu membangun kebiasaan budgeting. Dalam logika pendidikan, kebiasaan yang dipelajari lewat repetisi di lingkungan dekat cenderung lebih bertahan dibanding ceramah satu arah.
Namun integrasi layanan finansial di sekolah memunculkan pertanyaan tata kelola dan batas edukasi versus pemasaran. Adams menyatakan credit union tidak punya “investors looking to take profit out of the community,” tetapi ketidakberadaan investor tidak otomatis meniadakan insentif pertumbuhan anggota.
Di sisi lain, sekolah juga mendapat nilai tambah yang konkret untuk program bisnis dan karier. Kepala sekolah Jennifer DeLorenzo menilai kantor ini membantu siswa “membawa program bisnis menjadi hidup,” karena apa yang dipelajari di kelas bisa langsung diuji.
Rencana magang pada tahun depan di cabang UBI terdekat memperluas dampak dari literasi menjadi kesiapan kerja. Magang dapat menjadi jalur mobilitas, tetapi perlu standar yang jelas agar tidak berubah menjadi tenaga murah berkedok “pengalaman.”
Aspek budaya sekolah juga disentuh lewat mural karya senior Riley Marquez yang dipilih dari tiga finalis, menurut guru seni Mario Pires. Simbol ini penting karena menegaskan ruang finansial di sekolah bukan “benda asing,” melainkan bagian dari identitas komunitas.
State Comptroller Sean Scanlon mengaitkan program ini dengan “financial literacy awareness month” pada April dan pengalaman pribadinya tumbuh tanpa literasi keuangan. Ia menyebut keterampilan finansial bisa membantu siswa “break the cycle,” sebuah klaim yang masuk akal tetapi menuntut ukuran keberhasilan yang terukur.
Kantor UBI di sekolah adalah ide yang tampak sederhana, tetapi ia menggeser pusat gravitasi pendidikan dari pengetahuan ke kebiasaan. Literasi keuangan siswa tidak lagi sekadar ujian, melainkan latihan harian yang menyentuh emosi, disiplin, dan pilihan kecil.
Meski begitu, sekolah harus berhati-hati agar “akses” tidak berubah menjadi normalisasi konsumsi finansial tanpa kritik. Siswa perlu diajari bukan hanya cara menabung, tetapi juga cara menolak utang buruk, membaca biaya tersembunyi, dan memahami risiko produk keuangan.
Di sinilah negara dan sekolah perlu memastikan kurikulum tetap independen, transparan, dan tidak terseret preferensi institusi tertentu. Jika tidak, literasi bisa bergeser menjadi loyalitas merek, dan tujuan “kemandirian” malah menjadi ketergantungan baru.
Kolaborasi ini juga menunjukkan cara baru membangun layanan publik: town manager, superintendent, hingga legislator hadir memberi legitimasi. Namun legitimasi seremonial seperti ribbon cutting harus diikuti akuntabilitas, seperti pelaporan dampak, perlindungan data, dan evaluasi capaian siswa.
Plainville memilih menaruh literasi keuangan siswa di tempat yang paling dekat: sekolah, bukan seminar akhir pekan. Jika dijalankan dengan etika yang ketat, kantor UBI bisa menjadi jembatan dari teori kelas menuju keputusan uang yang lebih dewasa.
Pertanyaan akhirnya sederhana namun menentukan: apakah program ini akan membuat siswa lebih merdeka secara finansial, atau hanya lebih cepat masuk ke ekosistem layanan finansial. Jawabannya bergantung pada satu hal, yakni keberanian sekolah mengutamakan pendidikan kritis di atas segala bentuk kepentingan institusional. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)