Longsor Broad Peak Pakistan Tewaskan Nirmal Purja dan 9 Pendaki
ORBITINDONESIA.COM – Longsor salju di Broad Peak, Pakistan, menewaskan Nirmal Purja dan sembilan pendaki lain dalam ekspedisi yang tersapu pada Kamis. Perusahaan ekspedisinya, Elite Exped, mengonfirmasi kematian mereka dan tim penyelamat kini berupaya mengevakuasi jenazah di tengah cuaca ekstrem.
Terjemahan artikel sumber: Pendaki terkenal Inggris-Nepal Nirmal Purja dan sembilan pendaki lain yang tersapu longsor di Pakistan dipastikan meninggal, dan tim pencari berusaha memulihkan jenazah mereka, kata Elite Exped pada Sabtu. “Dunia telah kehilangan salah satu pendaki gunung terbesar,” tulis perusahaan itu, seraya menyatakan duka atas semua nyawa yang hilang.
Ekspedisi beranggotakan 10 orang itu tersapu longsor pada Kamis di Broad Peak, salah satu gunung tinggi di Pakistan. Pada Jumat, penyelamat menemukan empat jenazah dan berhasil mengevakuasi tiga, sementara cuaca keras menghambat penerbangan helikopter pencarian dan penyelamatan.
Pencarian dilanjutkan pada Sabtu dengan dukungan helikopter militer untuk menemukan korban lainnya. Ketua Alpine Club of Pakistan, Irfan Arshad Khan, menyebut kehilangan para pendaki dari berbagai negara itu sebagai duka besar bagi komunitas pendakian dunia.
Khan memberi penghormatan kepada penyelamat militer dan sipil serta para sherpa yang terlibat dalam misi. Ia mengingatkan bahwa pegunungan memukau dengan keindahannya, namun sekaligus menegaskan risiko besar bagi siapa pun yang memasuki Himalaya dan Karakoram.
Pejabat polisi lokal, Tahir Khan, mengatakan jenazah pendaki Oman Nathira Ahmed diterbangkan ke Islamabad. Sementara itu, jenazah pendaki Amerika Mallory Geis dan pendaki Nepal Bahadur Gurung masih berada di rumah sakit di Skardu, kota utama di Gilgit-Baltistan.
Kedutaan China di Pakistan menyatakan seorang pendaki China juga termasuk yang hilang setelah longsor, menurut laporan Xinhua pada Minggu. Ekspedisi dipimpin Purja, mantan tentara Inggris kelahiran Nepal yang dikenal luas sebagai Nims Dai.
Pada 2019, Purja menaklukkan 14 puncak tertinggi dunia dalam rekor 189 hari, prestasi yang diangkat dalam dokumenter Netflix “14 Peaks: Nothing Is Impossible.” Rekor itu disebut telah dipecahkan pada 2023.
Perusahaan Purja menggambarkannya sebagai pemimpin yang menginspirasi jutaan orang melalui keberanian, kerendahan hati, dan keyakinan bahwa potensi manusia lebih besar dari yang dibayangkan. Keluarga Mallory Geis menyebut Mallory sebagai “cahaya terang” yang sangat dicintai dan akan sangat dirindukan.
Ekspedisi ini adalah upaya pertama Geis mendaki puncak 8.000 meter di Pakistan. Ekspedisi itu juga diperkirakan menjadi yang terakhir bagi Sakhi, pemandu Moving Mountains, yang dikenal sebagai ahli geografi dan fotografer ketinggian serta telah mendaki sejumlah puncak besar dunia.
Kecelakaan kerap terjadi dalam ekspedisi pendakian di Pakistan utara karena longsor, jatuhan es dan batu, ketinggian ekstrem, serta cuaca yang cepat berubah. Kombinasi faktor itu membuat Karakoram menjadi wilayah yang indah sekaligus mematikan bagi pendaki.
Tragedi longsor Broad Peak Pakistan kembali menegaskan pola risiko yang berulang di Karakoram: longsor, jatuhan serak (es), dan perubahan cuaca yang mendadak. Bahkan helikopter SAR pun kerap tak bisa terbang, sehingga “kecepatan respon” sering kalah oleh realitas meteorologi dan ketinggian.
Fakta bahwa penyelamat baru menemukan empat jenazah dan mengevakuasi tiga pada hari berikutnya menunjukkan betapa sempitnya jendela operasi penyelamatan. Di medan seperti Broad Peak, keterlambatan beberapa jam dapat mengubah misi penyelamatan menjadi misi pemulihan jenazah.
Nama Nirmal Purja memberi bobot simbolik yang besar pada peristiwa ini, karena ia adalah figur yang mempopulerkan narasi “batas manusia bisa didobrak.” Rekor 14 puncak tertinggi dalam 189 hari pada 2019, yang terdokumentasi luas, ikut membentuk ekspektasi publik bahwa teknologi, tim kuat, dan pengalaman bisa “mengendalikan” gunung.
Namun gunung tidak pernah tunduk pada reputasi atau rekam jejak, dan itulah pelajaran pahitnya. Ketika seorang pendaki sekaliber Purja tersapu longsor, publik dipaksa melihat bahwa risiko objektif—struktur salju, suhu, angin, dan kemiringan lereng—lebih menentukan daripada narasi heroik.
Kasus ini juga memperlihatkan dimensi global pendakian modern: korban berasal dari Oman, Amerika Serikat, Nepal, dan disebut juga ada pendaki China yang hilang. Pendakian puncak 8.000 meter kini adalah industri lintas negara, tetapi ketika bencana datang, koordinasi evakuasi, diplomasi jenazah, dan logistik daerah terpencil menjadi ujian nyata.
Data kuantitatif dalam artikel memang terbatas, tetapi ada angka penting yang tak bisa diabaikan: 10 orang tersapu sekaligus dalam satu kejadian. Dalam analisis risiko, ini mengarah pada pertanyaan tentang keputusan taktis di lapangan, seperti pemilihan waktu lintasan, jarak antaranggota, serta penilaian stabilitas salju.
Pernyataan Irfan Arshad Khan menempatkan tragedi ini dalam konteks komunitas pendakian global, bukan sekadar berita duka. Ia menekankan paradoks pegunungan: keindahan yang mengundang, sekaligus ancaman yang tidak bisa dinegosiasikan.
Sudut pandang tajamnya ada pada cara kita mengemas pendakian ekstrem sebagai tontonan prestasi, lalu terkejut ketika alam “mengambil kembali” kendali. Dokumenter, rekor, dan branding ekspedisi sering mendorong imajinasi bahwa semua bisa diprediksi, padahal longsor adalah peristiwa yang kerap melampaui model dan intuisi.
Tragedi longsor Broad Peak Pakistan juga memunculkan pertanyaan etis tentang batas komersialisasi pendakian. Ketika semakin banyak pendaki mengejar puncak 8.000 meter, tekanan jadwal, target, dan biaya dapat menggeser kehati-hatian menjadi optimisme berlebihan.
Di sisi lain, penghormatan kepada penyelamat militer, sipil, dan sherpa penting untuk disorot karena merekalah yang menanggung risiko lanjutan setelah bencana. Publik sering mengingat nama pendaki terkenal, tetapi jarang menaruh perhatian setara pada ekosistem kerja berbahaya yang membuat ekspedisi dan penyelamatan mungkin terjadi.
Kisah Mallory Geis yang baru pertama kali mencoba puncak 8.000 meter di Pakistan menegaskan bahwa “langkah pertama” di ketinggian ekstrem bisa menjadi yang paling mahal. Sementara narasi tentang Sakhi yang diduga menjalani ekspedisi terakhirnya mengingatkan bahwa pengalaman pun tidak menjamin kepulangan.
Broad Peak kembali menjadi pengingat bahwa di pegunungan tinggi, keberanian dan kompetensi hanya mengurangi risiko, tidak menghapusnya. Kematian Nirmal Purja dan sembilan pendaki lain menutup satu bab besar dalam sejarah pendakian, tetapi juga membuka percakapan yang lebih penting tentang budaya keselamatan.
Jika prestasi manusia begitu mudah memikat, maka duka ini menuntut kita menimbang ulang apa yang disebut “pencapaian” di tempat yang nyaris tak memberi ruang untuk kesalahan. Apakah komunitas pendakian dan industri ekspedisi siap menempatkan keputusan mundur sebagai kemenangan yang sama terhormat dengan berdiri di puncak?
(Orbit dari berbagai sumber, 15 Agustus 2026)