Trilogi Baru Skywalker Saga: Jon Watts dan Rey Kembali

Deadline

Deadline

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Trilogi baru Skywalker Saga kembali menguak keluarga Skywalker setelah delapan tahun jeda layar lebar. Lucasfilm dikabarkan menunjuk Jon Watts, sementara Daisy Ridley disebut-sebut akan kembali sebagai Rey.

Terjemahan artikel sumber: Setelah delapan tahun dan tak terhitung jumlahnya entri dalam semesta Star Wars di layar yang terus melebar, Star Wars kembali menengok keluarga Skywalker lewat proyek berikutnya. Deadline mengonfirmasi Lucasfilm menggandeng Jon Watts, salah satu kreator Skeleton Crew dan sutradara trilogi Spider-Man versi Tom Holland, untuk menyutradarai film pertama dari trilogi baru Skywalker Saga yang ditulis Simon Kinberg.

Terjemahan artikel sumber: Kinberg, yang ikut menciptakan serial animasi Star Wars Rebels (2014–2018), disebut mengerjakan trilogi baru ini sejak 2018. Daisy Ridley kabarnya dipertimbangkan untuk mengulang peran Rey, karena proyek itu akan menjadi bab berikutnya dari Skywalker Saga, meski Disney disebut belum memberi lampu hijau resmi.

Terjemahan artikel sumber: Skywalker Saga dimulai dari Episode IV: A New Hope (1977) dan berlanjut ke Episode V (1980) serta Episode VI (1983), lalu diteruskan dengan trilogi prekuel Episode I (1999), Episode II (2002), dan Episode III (2005). Terakhir, saga ini ditutup sementara oleh trilogi sekuel Episode VII (2015), Episode VIII (2017), dan Episode IX (2019) yang dipimpin karakter Rey, sementara film berikutnya yang sudah dijadwalkan adalah Star Wars: Starfighter untuk rilis 28 Mei 2027.

Keputusan kembali ke Skywalker Saga adalah sinyal bahwa Lucasfilm membaca ulang pusat gravitasi Star Wars. Setelah era serial streaming dan spin-off memperluas peta, merek ini tampaknya ingin kembali ke “jalan utama” yang paling mudah dijual: garis keturunan, mitologi Jedi, dan konflik warisan.

Nama Jon Watts membawa pesan industri yang jelas: studio menginginkan sutradara yang terbukti mengelola IP besar dan penonton lintas generasi. Rekam jejak Watts di Spider-Man menunjukkan kemampuan menjaga ritme blockbuster, menyeimbangkan humor dan emosi, serta patuh pada ekosistem studio yang ketat.

Simon Kinberg juga bukan pilihan tanpa kalkulasi. Ia pernah membangun narasi jangka panjang di waralaba besar, tetapi juga memikul catatan kontroversial lewat X-Men: Dark Phoenix, sehingga publik akan menuntut bukti bahwa pelajaran dari kegagalan franchise lain benar-benar diterapkan.

Fakta bahwa proyek ini “belum mendapat greenlight Disney” adalah titik paling menentukan. Ini menandakan strategi kehati-hatian setelah beberapa proyek Star Wars film sempat tersendat di pengembangan, sekaligus menguji apakah proposal kreatifnya cukup kuat untuk menjustifikasi risiko anggaran raksasa.

Jika Daisy Ridley benar kembali sebagai Rey, taruhannya bukan sekadar nostalgia. Episode IX pada 2019 menutup trilogi sekuel dengan respons penonton yang terbelah, sehingga bab baru harus menjawab dua hal sekaligus: merangkul basis penggemar setia dan menawarkan alasan segar bagi penonton yang lelah oleh siklus reboot.

Secara kalender, kehadiran Star Wars: Starfighter yang dijadwalkan rilis 28 Mei 2027 memperlihatkan Lucasfilm menata ulang jalur filmnya. Trilogi Skywalker yang baru, bila benar berjalan, harus menemukan jarak napas agar tidak saling memakan momentum, sekaligus memastikan tiap rilis punya identitas tonal yang tegas.

Trilogi baru Skywalker Saga berpotensi menjadi “pemulihan merek” yang paling aman sekaligus paling berbahaya. Aman karena Skywalker adalah jangkar budaya pop, tetapi berbahaya karena publik kini alergi pada pengulangan yang hanya mengganti kemasan tanpa memperbarui gagasan.

Rey sebagai pusat cerita adalah ujian keberanian naratif. Ia bisa menjadi jembatan menuju generasi baru Jedi, namun hanya jika film berani menulis konflik yang lebih manusiawi daripada sekadar duel warisan, dan memberi konsekuensi yang terasa nyata bagi galaksi.

Watts dan Kinberg perlu menunjukkan bahwa Star Wars bukan hanya katalog referensi. Mereka harus membuktikan bahwa saga bisa kembali relevan lewat tema kekuasaan, trauma perang, dan identitas, bukan semata parade cameo yang memancing tepuk tangan sesaat.

Star Wars sedang memilih antara memperluas semesta tanpa pusat, atau kembali ke inti mitologi keluarga Skywalker. Jika trilogi baru ini benar terwujud, ia harus menjadi bab yang menutup luka lama sekaligus membuka arah baru yang berani.

Pertanyaannya sederhana tetapi tajam: apakah Lucasfilm akan menulis masa depan Star Wars, atau hanya mengulang masa lalu yang paling laris. Jawaban itu akan ditentukan bukan oleh nama besar di kredit, melainkan oleh keberanian cerita saat lampu hijau benar-benar menyala. (Orbit dari berbagai sumber, 28 September 2026)