Workshop Literasi Keuangan Anak: Jr. Money Managers Datangi Komunitas

ORBITINDONESIA.COM – Workshop literasi keuangan anak kini hadir lewat Jr. Money Managers, program dua hari yang mengajarkan budgeting, menabung, dan keputusan belanja untuk usia 9-13 tahun. Di tengah maraknya pembayaran digital dan budaya “beli sekarang”, kelas ini menawarkan keterampilan uang praktis yang bisa dipakai sejak hari pertama.

Di banyak keluarga, uang masih dianggap topik dewasa yang baru dibahas saat anak “sudah besar”. Padahal anak sudah bertransaksi sejak dini, dari uang jajan hingga gim dan belanja daring.

Sejumlah survei global menunjukkan literasi keuangan remaja masih rendah, termasuk temuan OECD PISA tentang kemampuan finansial yang timpang antarnegara. Celah ini sering diisi oleh iklan, influencer, dan impuls belanja, bukan pendidikan yang terstruktur.

Di titik itulah program seperti Jr. Money Managers masuk, dengan janji membuat konsep uang menjadi konkret. Bukan sekadar hafalan istilah, melainkan kebiasaan yang dibangun melalui latihan.

Jr. Money Managers menawarkan workshop dua hari dengan total 9-10 jam materi, dan mensyaratkan minimal enam peserta. Biayanya US$75 per siswa termasuk buku, atau US$50 per siswa untuk nonprofit dengan 10 siswa atau lebih.

Materinya empat pilar: budgeting dan money management, saving dan goal setting, smart spending, serta pengambilan keputusan finansial nyata. Struktur ini penting karena anak sering paham “menabung itu baik”, tetapi tidak tahu cara membagi uang dan menunda keinginan.

Keunggulan program ini adalah model “datang ke komunitas”, menyasar homeschool group, gereja, dan organisasi kepemudaan. Strategi ini menurunkan hambatan logistik, sekaligus memanfaatkan kepercayaan sosial yang sudah ada di lingkungan peserta.

Pengajar utamanya, Katina Potts, membawa kredensial sebagai mantan personal financial advisor dan financial analyst. Kombinasi pengalaman teknis dan pendekatan edukatif berpotensi membuat materi terasa relevan dan tidak menggurui.

Namun efektivitas program literasi keuangan biasanya ditentukan oleh tindak lanjut, bukan intensitas sesaat. Tanpa praktik berulang di rumah, anak bisa kembali pada pola lama, apalagi bila lingkungan konsumtif lebih dominan.

Di sinilah workbook “teacher dan student editions” yang dijual di Amazon menjadi elemen penting, karena memungkinkan pendampingan setelah workshop selesai. Meski begitu, akses dan komitmen orang tua tetap menjadi variabel yang tidak bisa digantikan oleh buku.

Program ini menarik karena menggeser literasi keuangan dari wacana menjadi kebiasaan, dan kebiasaan adalah mata uang paling mahal dalam pendidikan. Anak tidak hanya diminta “hemat”, tetapi diajak memahami konsekuensi pilihan.

Meski demikian, ada pertanyaan publik yang layak diajukan: apakah biaya US$75 cukup inklusif untuk semua komunitas, terutama di luar nonprofit. Diskon untuk nonprofit membantu, tetapi segmen keluarga rentan yang tidak terafiliasi organisasi bisa tetap tertinggal.

Selain itu, literasi keuangan anak seharusnya tidak berhenti pada “cara mengatur uang jajan”. Ia perlu menyentuh etika konsumsi, tekanan sosial, dan risiko digital, karena keputusan finansial anak kini terjadi di layar, bukan di meja kasir.

Jr. Money Managers sudah berada di jalur yang tepat dengan pendekatan interaktif dan konteks nyata. Tantangannya adalah memastikan materi berkembang mengikuti perubahan ekosistem uang, dari dompet fisik ke dompet digital.

Di atas kertas, workshop literasi keuangan anak seperti Jr. Money Managers menawarkan jawaban praktis atas masalah yang sering dibiarkan tumbuh diam-diam. Ia memberi bahasa, alat, dan kebiasaan untuk menghadapi godaan belanja dan keputusan kecil yang membentuk masa depan.

Namun pertanyaan akhirnya bukan hanya “anak belajar apa”, melainkan “kebiasaan apa yang dijaga setelah kelas bubar”. Jika keluarga dan komunitas ikut mempraktikkan disiplin yang sama, uang tidak lagi menjadi sumber cemas, melainkan sarana memilih hidup dengan sadar.

(Orbit dari berbagai sumber, 29 Juni 2026)