Trisno Pas Band Sakit: Gagal Ginjal dan Risiko Stroke

detikcom

detikcom

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kabar Trisno Pas Band sakit mengguncang panggung rock Indonesia, setelah sang bassist legendaris disebut mengalami gagal ginjal dengan fungsi tinggal 5 persen. Sandy, drummer Pas Band, mengonfirmasi Trisno kini harus menjalani cuci darah dan baru menjalani operasi akibat sumbatan darah di kepala yang berisiko stroke.

Menurut Sandy, tanda penurunan kesehatan Trisno sebenarnya sudah terlihat beberapa tahun terakhir. Kaki membengkak dan tubuh makin kurus, tetapi ia disebut enggan memeriksakan diri secara menyeluruh.

Pemeriksaan beberapa bulan lalu mengarah pada gangguan liver dan tekanan darah tinggi. Kondisi memuncak ketika Trisno drop dan lemah di rumah pada pekan lalu, lalu dilarikan ke rumah sakit.

Vonis rumah sakit menyebut gagal ginjal dengan fungsi tersisa 5 persen sehingga perlu hemodialisis rutin. Dokter juga menemukan sumbatan darah di kepala, sehingga operasi dilakukan untuk menghentikan risiko komplikasi berat.

Kunjungan ke ruang perawatan dibatasi ketat karena kondisi pascaoperasi masih rawan kejang. Sandy menyebut Trisno juga harus menghindari aktivitas berpikir yang terlalu berat agar pemulihan lebih stabil.

Kasus Trisno menyorot pola klasik di dunia musik: tubuh dipaksa kuat, sementara pemeriksaan kesehatan dianggap urusan belakangan. Kultur “tahan banting” sering membuat gejala awal seperti bengkak dan penurunan berat badan dipersepsi sebagai kelelahan biasa.

Dalam konteks medis, bengkak pada kaki bisa terkait gangguan ginjal, jantung, atau hati, dan perlu evaluasi cepat. Hipertensi juga dikenal sebagai salah satu faktor risiko besar penyakit ginjal kronik, sekaligus memperberat risiko stroke.

Rujukan kesehatan publik menunjukkan hemodialisis adalah terapi penunjang hidup ketika fungsi ginjal turun drastis. Di Indonesia, BPJS Kesehatan menempatkan layanan cuci darah sebagai salah satu pembiayaan terbesar, yang menandakan beban penyakit ginjal bukan isu kecil.

Wacana cangkok ginjal yang disebut Sandy membuka bab lain yang lebih kompleks. Transplantasi membutuhkan donor yang cocok, kesiapan biaya dan logistik, serta kedisiplinan obat imunosupresan seumur hidup.

Di sisi lain, operasi sumbatan darah di kepala menegaskan bahwa krisis kesehatan Trisno bukan tunggal, melainkan berlapis. Saat ginjal, tekanan darah, dan pembuluh darah bermasalah bersamaan, risiko komplikasi meningkat dan pemulihan menuntut ketenangan total.

Trisno bukan sekadar musisi yang sedang sakit, melainkan cermin bagaimana industri hiburan memperlakukan stamina sebagai modal utama. Ketika jadwal manggung dan citra “rock n roll” menjadi standar, tindakan preventif sering kalah oleh tuntutan tampil.

Publik juga punya peran, karena kita kerap merayakan mitos musisi yang hidup tanpa batas. Padahal, tubuh punya batas biologis yang tidak bisa ditawar, dan menunda pemeriksaan adalah perjudian yang mahal.

Kutipan Sandy tentang Trisno yang “gak mau bener-bener periksa ke dokter” terdengar akrab di banyak keluarga Indonesia. Ini bukan sekadar soal keras kepala, tetapi juga soal literasi kesehatan, ketakutan diagnosis, dan budaya menormalisasi rasa sakit.

Di tengah simpati, pembatasan kunjungan menjadi keputusan yang perlu dihormati. Dukungan terbaik bukan keramaian di kamar rawat, melainkan ruang tenang agar Trisno bisa melewati fase rawan pascaoperasi dan rutinitas cuci darah.

Kabar Trisno Pas Band sakit mengingatkan bahwa legenda pun bisa rapuh ketika sinyal tubuh diabaikan. Sandy menyebut cuci darah masih intensif dan opsi cangkok ginjal mungkin dipertimbangkan, yang berarti perjuangan ini panjang.

Jika ada pelajaran yang bisa dipetik, itu adalah keberanian untuk memeriksa diri sebelum terlambat. Kita boleh mengagumi energi rock, tetapi kita juga perlu merawat manusia di balik panggung, sebelum musik berubah menjadi kabar duka. (Orbit dari berbagai sumber, 6 Agustus 2026)