DA Ajukan Tuntutan Pidana Manajer Munisipal atas Audit Disclaimer

Mail & Guardian

Mail & Guardian

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – DA mengumumkan rencana melayangkan tuntutan pidana kepada 10 manajer munisipal dari sembilan pemerintah daerah, dengan tuduhan kelalaian berat dan kegagalan akuntabilitas. Isunya bukan sekadar laporan keuangan, melainkan pola audit disclaimer bertahun-tahun yang menandai uang publik bocor dan layanan dasar tersendat.

Dalam pernyataannya, DA menuding para pejabat ini memimpin pemerintahan lokal yang berulang kali menerima opini audit “disclaimed” dari Auditor-General. Opini disclaimer berarti auditor tidak bisa memperoleh bukti memadai untuk menyatakan laporan keuangan dapat dipercaya, sebuah sinyal bahaya paling keras dalam tata kelola.

DA menyebut kasus-kasus ini sebagai “repeat offenders” berdasarkan temuan laporan Auditor-General, dengan rentang kegagalan hingga satu dekade. George Michalakis menegaskan, “The charges will be pursued under Section 173(1) of the Municipal Finance Management Act,” yang mengatur pelanggaran terkait kelalaian berat, material accounting irregularities, dan informasi palsu kepada auditor.

Daftar yang dipublikasikan DA menunjukkan pola yang sulit dibantah: Makana dan Sundays River Valley masing-masing mencatat tujuh tahun berturut-turut audit disclaimer, sementara Masilonyana disebut mengalami satu dekade opini disclaimer. Ditsobotla bahkan digambarkan menghadapi sembilan tahun kegagalan audit, menandakan kerusakan sistemik, bukan insiden sesaat.

Di Free State, rangkaian kasus tampak seperti “klaster krisis”: Nketoana disebut memiliki tujuh tahun disclaimer dan lima material irregularities, sedangkan Mohokare tiga tahun disclaimer dengan tujuh material irregularities. Jika angka-angka itu akurat, maka problemnya bukan hanya kompetensi individu, tetapi juga ketahanan institusi yang gagal menghentikan pengulangan kesalahan.

Kasus paling konkret ada di Ngaka Modiri Molema District Municipality, di mana manajer munisipal Olehile Allan Losaba disebut pernah dinyatakan bertanggung jawab pribadi oleh Auditor-General sebesar R4,6 juta terkait kontrak pengadaan truk tangki air yang membengkak. Ironinya tajam: warga “sit with dry taps,” sementara kontrak air justru menjadi sumber dugaan pemborosan, dan kasusnya disebut sudah dikirim untuk rujukan pidana.

DA memilih jalur hukum melalui Section 173(1) MFMA, yang menempatkan kelalaian dan penyimpangan akuntansi sebagai tindak pidana, bukan sekadar pelanggaran administrasi. Strategi ini, bila konsisten, dapat mengubah audit dari dokumen tahunan yang diabaikan menjadi pemicu konsekuensi nyata.

Namun, ada pertanyaan penting tentang rantai komando dan ekosistem politik di balik manajer munisipal. Banyak dari mereka baru diangkat pada 2022–2024, sementara “rekor” disclaimer terjadi tujuh hingga sepuluh tahun, sehingga tanggung jawab tak mungkin berhenti pada satu nama saja.

Di sisi lain, jabatan “acting” yang berulang, seperti disebut pada Mohokare dan Kannaland, menandakan instabilitas kepemimpinan administratif. Dalam birokrasi, status sementara sering membuat keputusan besar ditunda, kontrol internal melemah, dan akuntabilitas menjadi kabur karena semua pihak merasa “bukan pemilik masalah.”

Langkah DA ini dapat dibaca sebagai upaya menutup celah “consequence-free mismanagement” yang selama ini menjadi penyakit kronis pemerintahan lokal. Jika tuntutan pidana hanya berhenti pada pengumuman, publik akan menganggapnya sekadar politik simbolik, tetapi jika berlanjut ke pembuktian, ia bisa menjadi preseden.

Meski begitu, ada risiko penyederhanaan: audit disclaimer sering lahir dari kombinasi buruknya sistem pencatatan, lemahnya pengendalian internal, dan konflik politik di dewan. Menjadikan manajer munisipal sebagai satu-satunya “wajah bersalah” bisa menguntungkan secara komunikasi, tetapi tidak otomatis menyembuhkan mesin yang rusak.

DA juga menawarkan narasi solusi: “appoint competent officials on merit, enforce accountability without exception and professionalise municipal administration through continuous skills development.” Narasi ini terdengar benar, tetapi tantangan sesungguhnya adalah memastikan rekrutmen berbasis merit bertahan dari tekanan patronase dan kompromi koalisi di tingkat lokal.

Publik perlu mengawasi dua hal sekaligus: proses pidana yang adil dan perbaikan administratif yang terukur. Tanpa pemulihan sistem—mulai dari rantai pengadaan, pencatatan aset, hingga disiplin anggaran—kemenangan hukum pun bisa menjadi kosmetik yang tidak mengalirkan air ke keran warga.

Audit disclaimer bertahun-tahun adalah alarm yang terlalu lama dibiarkan berbunyi, sementara masyarakat membayar dengan layanan dasar yang gagal dan uang publik yang menguap. Ketika DA membawa isu ini ke ranah pidana, pertaruhannya bukan hanya reputasi pejabat, melainkan standar baru tentang apa yang dianggap “kejahatan” dalam pengelolaan negara.

Pertanyaan yang tersisa sederhana namun menentukan: apakah tuntutan ini akan memutus budaya perlindungan politik, atau justru menjadi episode lain yang menguap tanpa putusan tegas. Jika negara serius, maka ukuran keberhasilan bukan jumlah konferensi pers, melainkan berkurangnya disclaimer, pulihnya tata kelola, dan kembalinya layanan dasar yang layak. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)