Program KEJAR Bank Jakarta Dorong Literasi Keuangan Pelajar
ORBITINDONESIA.COM – Program KEJAR (One Account One Student) 2026 dari Bank Jakarta dan OJK masuk ke SMAN 28 Jakarta, membawa misi literasi keuangan pelajar dan inklusi keuangan sejak dini. Di ruang kelas, narasi “menabung itu cuma setor uang” mulai digeser menjadi “menabung itu strategi mengelola masa depan.”
Kebiasaan menabung remaja masih rapuh, sementara arus konsumsi digital makin agresif dan cepat menggoda. Banyak siswa sudah memegang uang sendiri, tetapi belum punya peta sederhana untuk membagi kebutuhan, keinginan, dan tabungan.
Di titik ini, sekolah menjadi arena penting karena keputusan finansial pertama sering terjadi saat usia SMA. Program literasi keuangan seperti KEJAR mencoba masuk sebelum kebiasaan impulsif berubah menjadi pola permanen.
Respons siswa menunjukkan masalahnya bukan sekadar “tidak mau menabung,” melainkan “tidak tahu cara menabung yang relevan.” Zahwa Azalea Reza, siswi kelas XI, mengaku baru memahami bahwa menabung bukan hanya menyimpan uang di rekening, tetapi juga mengenal layanan dan manfaat perbankan untuk pelajar.
“Saya tahunya menabung itu cuma nabung uang di bank,” kata Zahwa, lalu menambahkan bahwa ada banyak program bank yang ternyata bisa diakses siswa. Pengakuan ini penting karena menandai jurang informasi yang sering tak terlihat oleh orang dewasa.
Musthafa Ahmad Hermana menilai pendekatan edukasi KEJAR lebih ringan dan mudah dipahami. Ia menekankan manfaat praktisnya, yaitu belajar mengelola uang dan pentingnya punya tabungan untuk masa depan.
Dari sisi kebijakan, kolaborasi Bank Jakarta dan OJK memperlihatkan model intervensi yang langsung menyasar titik pembentukan kebiasaan. Ketika edukasi dibawa ke sekolah, hambatan psikologis bahwa dunia finansial itu “rumit” bisa dipangkas sejak awal.
Data Bank Jakarta memberi gambaran skala yang tidak kecil. Hingga April 2026, Bank Jakarta mengelola lebih dari 2,4 juta rekening pelajar dengan total simpanan mencapai Rp1,81 triliun dari Student Savings, SimPEL, dan KJP Plus.
Angka itu mengindikasikan dua hal yang berjalan bersamaan. Ada penetrasi rekening yang luas, tetapi tantangannya adalah memastikan rekening itu aktif, dipahami, dan dipakai sebagai alat pembelajaran, bukan sekadar wadah penyaluran.
Bank Jakarta juga berperan sebagai penyalur bantuan pendidikan seperti KJP Plus dan KJMU. Pada satu sisi, ini memudahkan akses dan akuntabilitas, tetapi pada sisi lain berpotensi membuat rekening dipersepsikan hanya sebagai “rekening bantuan,” bukan “rekening kebiasaan menabung.”
Penghargaan sebagai bank pelaksana KEJAR terbaik kategori Bank Pembangunan Daerah pada 2025 memberi legitimasi pada program. Namun legitimasi bukan akhir, karena ukuran keberhasilan literasi bukan piala, melainkan perubahan perilaku yang terukur.
KEJAR terlihat menjanjikan karena menyasar akar masalah, yaitu pemahaman dasar dan kedekatan emosional siswa dengan uang. Ketika siswa merasa materi “ringan,” itu berarti bahasa yang dipakai tidak menggurui dan lebih dekat dengan realitas mereka.
Namun literasi keuangan pelajar tidak boleh berhenti pada pembukaan rekening dan pengenalan produk. Tanpa bekal kritis, siswa bisa paham “cara menabung,” tetapi tetap rentan pada jebakan biaya, promosi, dan gaya hidup yang membuat tabungan hanya numpang lewat.
Program ini akan lebih tajam jika menambahkan latihan sederhana yang mengikat perilaku, seperti target tabungan mingguan, catatan pengeluaran, dan simulasi keputusan finansial. Siswa perlu diajak memahami risiko, bukan hanya manfaat, agar inklusi keuangan tidak berubah menjadi sekadar perluasan pasar.
KEJAR Bank Jakarta dan OJK di SMAN 28 Jakarta menunjukkan bahwa literasi keuangan bisa dibuat dekat, praktis, dan terasa relevan bagi remaja. Tetapi pekerjaan sesungguhnya adalah memastikan pengetahuan itu menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengalaman satu kali di aula sekolah.
Pertanyaannya kini sederhana namun menentukan: setelah rekening dibuka dan materi selesai, apakah siswa benar-benar lebih berdaulat atas uangnya. Jika jawabannya ya, maka menabung bukan lagi slogan, melainkan cara baru generasi muda membaca masa depan.
(Orbit dari berbagai sumber, 9 Juli 2026)