Zinedine Zidane Pelatih Timnas Prancis: Era Baru Pasca Deschamps

CNN Indonesia

CNN Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Zinedine Zidane resmi menjadi pelatih timnas Prancis, menggantikan Didier Deschamps, dan menyebut jabatan ini sebagai impiannya. Zidane menegaskan ia menolak tawaran klub karena hanya menginginkan kursi Les Bleus, seperti dikutip Reuters.

Kepergian Deschamps meninggalkan ruang besar, bukan hanya di ruang ganti, tetapi juga di imajinasi publik Prancis tentang identitas sepak bola mereka. Prancis selama satu dekade terakhir terbiasa dengan stabilitas, hasil, dan pragmatisme yang terukur.

Dalam konteks itu, Zidane datang membawa reputasi “pemenang alami” dari Real Madrid, sekaligus ekspektasi estetika permainan yang lebih berani. Ia akan memulai tugasnya di UEFA Nations League, dengan dua laga awal melawan Turki dan Italia.

Pernyataan Zidane bahwa “Tim Prancis adalah satu-satunya yang saya inginkan” menutup ruang tafsir bahwa ini sekadar pekerjaan berikutnya. Ini adalah proyek reputasi, karena memimpin tim nasional jauh lebih politis dibanding melatih klub.

Di level klub, Zidane bisa mengatur ritme kompetisi mingguan dan membeli solusi lewat bursa transfer. Di timnas, ia harus menang dengan waktu latihan terbatas, sambil mengelola hierarki bintang yang datang dari klub-klub elite Eropa.

Zidane juga menautkan identitasnya dengan Spanyol, dengan kalimat, “Saya tinggal di Spanyol selama 25 tahun dan kalian tahu artinya.” Ini sinyal gaya permainan yang mungkin lebih proaktif, lebih berbasis kontrol, dan lebih menuntut dominasi bola.

Namun, publik Prancis tidak hanya menuntut “gaya,” mereka menuntut piala. Nations League menjadi ujian awal yang licin, karena turnamen ini sering dianggap kecil, tetapi tetap memengaruhi persepsi momentum dan kepemimpinan.

Dari sisi narasi, Zidane masuk lewat pintu yang rapi: Deschamps memutuskan pada Januari 2025, dan Zidane mengaku langsung bergerak sehari setelahnya. Ia mengatakan bertemu presiden federasi, lalu “kesepakatan itu terkunci,” menandakan transisi yang disiapkan, bukan reaktif.

Kekuatan Zidane selama ini ada pada manajemen ego dan ketenangan di momen besar. Tantangannya adalah membuktikan bahwa kemampuan itu bisa diterjemahkan ke tim nasional, yang tekanannya datang dari media, sejarah, dan nasionalisme.

Pengangkatan Zidane adalah taruhan Prancis pada simbol, bukan semata taktik. Ia bukan hanya pelatih, ia adalah memori kolektif: ikon 1998 yang kini diminta mengulang rasa itu dari sisi pinggir lapangan.

Masalahnya, simbol bisa menjadi pedang bermata dua. Saat menang, Zidane akan dianggap “takdir,” tetapi saat kalah, ia akan ditarik ke medan kritik yang lebih personal dan lebih emosional.

Kalimatnya, “Di lapangan, saya adalah pemimpin,” terdengar seperti klaim otoritas yang ingin dipindahkan ke ruang ganti. Tetapi kepemimpinan timnas modern bukan soal karisma saja, melainkan soal struktur keputusan, komunikasi, dan keberanian melakukan seleksi yang tidak populer.

Jika Zidane terlalu mengejar estetika, ia berisiko mengorbankan efisiensi yang selama ini menjadi ciri Prancis era Deschamps. Jika ia terlalu pragmatis, ia berisiko mengkhianati janji perubahan yang sudah terlanjur dibaca publik dari sosoknya.

Dua laga awal melawan Turki dan Italia akan menjadi etalase pertama, bukan untuk menilai semuanya, tetapi untuk membaca arah. Publik akan mencari petunjuk: apakah ini Prancis yang lebih dominan, lebih cair, dan lebih berani.

Pada akhirnya, Zidane sedang menguji satu hal yang paling sulit dalam sepak bola: mengubah “impian” menjadi sistem kerja yang tahan krisis. Jika ia berhasil, Prancis bukan hanya mendapat pelatih baru, tetapi juga narasi baru tentang bagaimana juara dibangun.

(Orbit dari berbagai sumber, 13 Agustus 2026)