Gelombang Panas, Data Center, dan Ancaman Listrik Padam di AS Timur

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Gelombang panas ekstrem menguji ketahanan jaringan listrik AS Timur, dan data center kini diminta menyalakan generator cadangan agar AC tidak mati dan rumah tidak gelap. Menteri Energi AS Chris Wright memerintahkan operator jaringan untuk mewajibkan pusat data beralih ke pasokan listrik cadangan ketika beban sistem memuncak.

Panas ekstrem sedang mengancam stabilitas jaringan listrik di wilayah Timur Amerika Serikat, terutama di kawasan Mid-Atlantik yang menampung konsentrasi data center terbesar di dunia. Dalam kondisi seperti ini, lonjakan penggunaan AC mendorong permintaan listrik mendekati batas kemampuan sistem.

Chris Wright mengatakan banyak generator cadangan yang sebenarnya mampu memasok listrik untuk puluhan data center, tetapi sering menganggur. Karena itu, ia menginstruksikan operator jaringan untuk mengaktifkan kewajiban penggunaan generator cadangan saat perlu mengurangi tekanan pada sistem.

Perintah ini paling mungkin diterapkan di 13 negara bagian Mid-Atlantik yang berbagi jaringan yang sedang tertekan dan sedang dilanda gelombang panas. Pengelola jaringan utamanya adalah PJM, yang membentang dari Chicago hingga Virginia Beach dan mencakup sebagian besar Pennsylvania, Maryland, dan New Jersey.

PJM memperkirakan permintaan listrik pada Kamis akan mencapai titik tertinggi, melampaui rekor yang tercatat dua dekade lalu. Wright menegaskan, “Menjaga listrik yang terjangkau, andal, dan aman di wilayah layanan PJM adalah hal yang tidak bisa ditawar.”

Secara teknis, memindahkan beban data center ke generator cadangan adalah strategi “demand relief” yang cepat, karena tidak menunggu pembangkit baru atau transmisi baru dibangun. Namun langkah cepat ini membawa biaya tersembunyi: polusi lokal yang lebih tinggi di area permukiman.

Pakar energi mengkhawatirkan penggunaan masif sistem cadangan akan meningkatkan pencemaran udara. Generator cadangan umumnya berbahan bakar diesel atau gas alam, dan menghasilkan nitrogen oksida, partikulat, serta emisi berbahaya lain yang lebih tinggi dibanding pembangkit besar atau energi surya dan angin.

Masalahnya tidak berhenti di PJM, karena pasokan listrik lintas batas juga melemah. Di wilayah Timur, jaringan menerima lebih sedikit listrik dari pembangkit hidro di Quebec yang mengalami rendahnya level air waduk selama beberapa tahun.

Jalur transmisi baru yang mengalirkan listrik hidro dari Quebec ke New York City, yang beroperasi sejak musim semi dan ditargetkan memasok hingga 20% kebutuhan listrik kota, sempat berhenti mengirim daya pada Rabu dan Kamis pagi. Menjelang Kamis sore, Hydro-Québec menyatakan masalah terselesaikan, dan kerusakan dipicu perbaikan stasiun konverter yang “memicu masalah sekunder,” kata juru bicara Lynn St-Laurent.

Quebec sendiri juga mengalami panas ekstrem, yang menaikkan kebutuhan listrik domestik mereka. Ditambah level waduk yang rendah, pembangkit hidro tidak bisa memproduksi listrik sesuai rencana, sehingga ekspor daya menjadi lebih rentan.

Di New York State, puncak permintaan Kamis diproyeksikan menjadi yang ketiga tertinggi sepanjang sejarah. Negara bagian itu masih memperoleh lebih dari 60% listriknya dari minyak dan gas, sementara New York City sangat bergantung pada pembakaran fosil karena kapasitas transmisi tegangan tinggi belum cukup untuk menarik listrik dari wilayah lain.

Kontrasnya terlihat pada bagian lain negara bagian New York yang lebih mudah mengakses energi terbarukan dan nuklir. Ketimpangan infrastruktur transmisi ini membuat kota besar berada pada posisi paling rapuh saat panas ekstrem datang.

PJM mengeluarkan peringatan cuaca panas setidaknya hingga Jumat dan meminta pembangkit siap beroperasi pada kapasitas maksimum. Ini menunjukkan sistem sedang ditahan dengan “mode darurat,” bukan ditopang oleh bantalan fleksibilitas yang memadai.

Berbeda dengan California dan Texas, PJM dinilai lambat menambah baterai penyimpanan energi yang bisa menopang sistem saat gelombang panas atau cuaca dingin ekstrem. California, misalnya, beberapa tahun terakhir tidak perlu meminta warga dan bisnis menghemat listrik saat permintaan tinggi, terutama karena penambahan baterai besar seukuran kontainer pengiriman.

Perintah menyalakan generator cadangan di data center mengungkap dilema kebijakan energi modern: menjaga keandalan listrik sekarang, sambil menanggung risiko kesehatan publik di lingkungan sekitar. Jika beban puncak ditangani dengan diesel, maka “ketahanan” berubah menjadi pemindahan biaya dari sistem listrik ke paru-paru warga.

Data center adalah simbol ekonomi digital, tetapi juga konsumen daya yang makin dominan dan sering tak terlihat dampaknya oleh publik. Ketika negara meminta mereka mengaktifkan generator, itu menandai bahwa perencanaan kapasitas, penyimpanan, dan transmisi tertinggal dari laju pertumbuhan komputasi.

Dalam jangka pendek, langkah ini mungkin mencegah pemadaman bergilir yang merusak aktivitas rumah tangga dan ekonomi. Tetapi dalam jangka menengah, ketergantungan pada generator cadangan berisiko menormalisasi solusi darurat, alih-alih mempercepat investasi baterai, efisiensi, dan jaringan transmisi.

Kasus New York City memperlihatkan akar masalah yang lebih struktural, yaitu bottleneck transmisi yang memaksa kota membakar fosil meski sumber bersih tersedia di tempat lain. Ketika panas ekstrem menjadi pola baru, keterlambatan membangun jaringan dan fleksibilitas sistem akan menjadi “pemadaman yang ditunda,” bukan dihindari.

Gelombang panas ekstrem, lonjakan beban AC, dan pertumbuhan data center membuat jaringan listrik AS Timur berada di persimpangan: memilih stabilitas instan atau mempercepat transisi yang lebih bersih dan tangguh. Perintah Chris Wright mungkin menyelamatkan sistem hari ini, tetapi ia juga menyorot betapa mahalnya ketertinggalan investasi penyimpanan dan transmisi.

Pertanyaannya, sampai kapan kota-kota besar akan menanggung polusi dari solusi darurat, sementara ekonomi digital terus berkembang tanpa “biaya sistem” yang sepadan. Jika panas ekstrem menjadi norma, publik berhak menuntut ketahanan listrik yang tidak dibayar dengan kualitas udara yang memburuk.

(Orbit dari berbagai sumber, 9 Juli 2026)