Ruben Onsu Ganti Nomor? Kuasa Hukum Bantah Sulit Dihubungi Sarwendah
ORBITINDONESIA.COM – Isu Ruben Onsu ganti nomor telepon kembali memanaskan ruang publik, setelah muncul tudingan ia sengaja sulit dihubungi Sarwendah saat kabar pindah rumah mencuat. Kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, menegaskan ada nomor lain yang tetap aktif dan sudah diketahui Sarwendah serta anak-anak.
Polemik ini berawal dari pertanyaan wartawan soal kepindahan Sarwendah bersama anak-anak dari rumah di Cilandak. Minola menyebut Ruben tidak mengetahui informasi itu saat diwawancarai, sehingga ia menolak anggapan kliennya berbohong.
Menurut Minola, pihak Sarwendah sempat mengirim pesan ke salah satu nomor lama Ruben. Namun nomor tersebut disebut sudah lama tidak digunakan, sehingga pesan wajar tidak terbaca.
Minola menambahkan Ruben masih memakai nomor lain yang aktif. Nomor itu, klaimnya, pernah dipakai Sarwendah untuk berkomunikasi dan juga diketahui anak-anak.
Di era komunikasi instan, “nomor tidak aktif” sering berubah menjadi bahan tuduhan yang lebih besar: menghindar, menutup akses, atau menghilang. Padahal, secara teknis, pergantian nomor bisa terjadi karena alasan keamanan, privasi, atau sekadar pergantian perangkat.
Kunci masalahnya bukan sekadar nomor mana yang dipakai, melainkan alur komunikasi yang bisa diverifikasi. Minola menyatakan, “Ada nomor satu lagi yang memang saya gunakan, anak-anak juga tahu, S juga pernah berkomunikasi,” lalu mempertanyakan mengapa pesan tidak dikirim ke nomor aktif itu.
Di titik ini, konflik bergeser dari fakta ke persepsi. Ketika satu pihak merasa sudah menghubungi, sementara pihak lain merasa tidak menerima, ruang kosong itu cepat diisi framing dan narasi saling curiga.
Minola juga menolak narasi bahwa Ruben “tahu tapi tidak mau mengakui” soal kepindahan. Ia menegaskan Ruben baru mengetahui adanya pesan setelah polemik membesar, dan baru pada hari berikutnya mendapat informasi bahwa ada WA yang dikirim ke nomor lama.
Persoalan kedua menyangkut mediasi di luar persidangan yang disebut batal. Minola menyatakan pembatalan datang dari kubu Sarwendah yang ingin mediasi dipusatkan melalui mekanisme pengadilan, bukan di dua tempat sekaligus.
Kasus Ruben Onsu dan Sarwendah menunjukkan bagaimana konflik personal kini mudah berubah menjadi sengketa narasi di ruang media. Yang dipertarungkan bukan hanya kejadian, tetapi juga siapa yang tampak paling “masuk akal” di mata publik.
Pernyataan Minola berupaya memindahkan fokus dari dugaan kesengajaan ke persoalan prosedural: nomor mana yang benar-benar aktif, kapan informasi diterima, dan bagaimana komunikasi seharusnya dilakukan. Namun pembelaan seperti ini juga mengandung risiko, karena publik cenderung menilai lewat potongan cerita, bukan kronologi utuh.
Di sisi lain, jika benar ada nomor aktif yang sudah diketahui bersama, pertanyaan kritisnya adalah mengapa komunikasi tetap masuk ke jalur yang buntu. Jika itu terjadi karena kekeliruan, maka masalahnya adalah koordinasi, bukan niat menghindar.
Tetapi jika itu terjadi karena pilihan, maka konflik ini menggambarkan strategi komunikasi yang sengaja dibiarkan kabur. Dalam perkara relasi dan keluarga, ambiguitas sering dipakai sebagai alat tawar, sekaligus senjata untuk membentuk simpati.
Isu Ruben Onsu ganti nomor telepon pada akhirnya menguji satu hal sederhana: seberapa jujur dan rapi komunikasi dijalankan ketika hubungan sedang retak. Minola menegaskan kliennya tidak menghindar, tetapi publik menuntut lebih dari sekadar bantahan.
Jika mediasi kini dipusatkan di pengadilan, maka ruang klarifikasi akan bergeser dari panggung opini ke forum pembuktian. Pertanyaannya, apakah kedua pihak siap menukar drama persepsi dengan disiplin fakta, demi anak-anak yang paling terdampak? (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)