Mantan PM Israel Ehud Barak: Pernyataan Terbaru Netanyahu tentang Turki "Ceroboh dan Bodoh"
ORBITINDONESIA.COM - Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel saat ini, Benjamin Netanyahu, telah melenceng dari jalur yang semestinya. Ia mengkritik keras langkah pemerintahannya yang meningkatkan ketegangan dengan Turki di tengah perkembangan situasi militer di Suriah.
Dalam sebuah unggahan di platform "X", Ehud Barak mengatakan bahwa ia tidak bisa membeberkan semua rinciannya, namun ia menegaskan bahwa eskalasi "yang disengaja" oleh Netanyahu dalam menghadapi Turki merupakan tindakan yang "ceroboh dan bodoh". Ia menambahkan bahwa sulit untuk menentukan mana dari kedua sebutan tersebut yang lebih tepat menggambarkan tindakan Netanyahu.
Ia menambahkan bahwa eskalasi tersebut mengindikasikan adanya hasrat politik untuk mencapai tanggal pemilihan umum di tengah serangkaian ketegangan keamanan yang memicu kekhawatiran dan ketakutan di kalangan masyarakat Israel.
"Turki bukanlah Iran ataupun Suriah di bawah kekuasaan Assad," tulis Barak.
Ia menegaskan tidak ada masalah strategis dengan Turki yang tidak dapat diselesaikan, diredam, atau ditunda untuk jangka panjang melalui kontak rahasia dan koordinasi dengan Amerika Serikat, yang pengaruhnya di Turki dan Suriah dapat dimanfaatkan.
Barak menuduh Netanyahu telah "benar-benar kehilangan kendali".
Ia menambahkan bahwa mengingat "kegagalan total" Netanyahu dalam mencapai tujuan perang serta "kekalahan politik" yang diperkirakan akan dialaminya dalam waktu sekitar dua bulan ke depan, Netanyahu kini tidak lagi memikirkan keamanan Israel, melainkan sibuk melakukan manuver demi kelangsungan karier politiknya—layaknya tindakan "seorang penjudi kompulsif".
Pemilihan umum Knesset dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober; ini merupakan pemilu pertama sejak peristiwa 7 Oktober 2023 serta perang dan konfrontasi regional yang menyusul setelahnya.
Barak memperingatkan bahwa perilaku "ceroboh" Netanyahu menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan sekutu dan sahabat Israel, baik di kawasan maupun di dunia internasional.
Ia juga mencatat bahwa penerus Netanyahu nantinya akan lebih mampu memikul tanggung jawab atas keamanan Israel.
Ia menyerukan penundaan segala bentuk "penanganan radikal" terhadap situasi tersebut hingga setelah pemilu usai. Ia menambahkan bahwa upaya memperbaiki kerusakan yang—menurutnya—telah ditimbulkan Netanyahu terhadap Israel selama tiga tahun terakhir, baik di bidang keamanan maupun politik, akan memakan waktu yang lama. ***