Permafrost Mencair Lepas Metana, Ancaman Iklim Arktik Menguat

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Permafrost mencair di Arktik melepaskan metana, dan gelembung gas itu kini muncul nyata di danau-danau Alaska. Di tepi Smith Lake, Fairbanks, ekolog Ted Schuur melihat gelembung demi gelembung naik dari lumpur, tanda karbon purba mulai “bocor” ke atmosfer.

Gelembung itu adalah metana, gas rumah kaca yang sangat kuat, terbentuk dari pembusukan tumbuhan dan hewan yang selama ribuan tahun terkunci dalam tanah beku. Tanah beku permanen atau permafrost kini mencair karena Arktik memanas sekitar empat kali lebih cepat daripada rata-rata global.

Permafrost didefinisikan sebagai tanah yang tetap beku di bawah 0°C setidaknya dua tahun, dan sering bertahan berabad-abad hingga milenia. Ia tersebar di Alaska, Kanada, Siberia, Antarktika, dan pegunungan tinggi, sekaligus menjadi “pondasi” bagi jalan, rumah, dan pipa energi.

Dalam kondisi stabil, permafrost menyimpan bahan organik agar tidak terurai menjadi metana dan CO2. Namun pemanasan meruntuhkan fungsi itu, dan membuat karbon yang dulu aman berubah menjadi emisi tambahan di atas pembakaran batu bara, minyak, dan gas.

Schuur mengingatkan, “Begitu Anda mulai membocorkan karbon ini, jumlahnya begitu besar di dalam tanah sehingga tidak akan berhenti.” Ia menyebutnya salah satu titik balik iklim yang menakutkan, karena “pada dasarnya setiap tahun mencetak rekor permafrost.”

Di dalam permafrost tersimpan sekitar tiga kali lebih banyak karbon dibandingkan yang saat ini berada di atmosfer. Ketika lapisan beku melemah, gas-gas penahan panas itu lolos, dan mengubah neraca cara Bumi “mengelola” akumulasi panas.

Dua studi berbeda memproyeksikan, hingga akhir abad ini emisi dari permafrost dapat menambah pemanasan hampir setengah derajat Fahrenheit, atau sekitar seperempat derajat Celsius. Para ilmuwan menilai besarnya setara kontribusi pemanasan tahunan dari negara industri besar seperti Amerika Serikat atau seluruh Eropa dalam periode yang sama.

Ahli permafrost Stockholm University, Gustaf Hugelius, menyebut sistem ini “raksasa tidur” yang mulai terbangun. Dulu Arktik berperan sebagai penyerap karbon, tetapi beberapa tahun terakhir keseimbangannya bergeser sehingga tanah yang mencair justru melepas lebih banyak gas rumah kaca daripada yang diserap.

Ekolog Columbia University, Duncan Menge, menegaskan perubahan itu membuat Arktik tidak lagi mengurangi krisis iklim, melainkan menambah masalah. Studi September yang ikut ditulis Sue Natali dari Woodwell Climate Research Center memperkirakan emisi “dipicu pemanasan” dari permafrost, kebakaran, dan perubahan lahan basah serta danau bisa menambah pemanasan sekitar 20% pada akhir abad.

Andrew Weaver dari University of Victoria, yang menghitung potensi tambahan pemanasan permafrost sejak studi 2012, menyebutnya bukan skenario kiamat. Namun itu beban ekstra “yang harus kita hadapi” di atas semua sumber emisi lain yang sudah menekan sistem iklim.

Masalahnya, banyak pembicaraan politik dan proyeksi publik belum memasukkan tambahan gas rumah kaca dari permafrost yang mencair. Natali dan Hugelius menilai ini membuat estimasi pemanasan global cenderung meremehkan beberapa persepuluh derajat, ketika PBB memproyeksikan dunia menuju sekitar 2,6°C tanpa perubahan kebijakan besar.

Dampak permafrost mencair tidak berhenti pada angka suhu, karena ia juga merusak kestabilan tanah. Natali menekankan tanah yang dulu kaku bisa amblas, runtuh, dan memicu kerusakan infrastruktur serta risiko bencana yang meningkat.

Di Alaska Utara, ilmuwan menemukan lubang mirip kawah sedalam sekitar 3 meter yang baru terbentuk di Galbraith. Fenomena ini disebut slump, terjadi saat es mencair dan tanah kolaps, sekaligus membuka jalur pelepasan metana.

Tim Woodwell mengidentifikasi lebih dari 40.000 slump di seluruh Arktik melalui satelit, menurut ilmuwan Kyle Arndt. Skala ini menunjukkan pencairan bukan insiden lokal, melainkan gejala sistemik yang menyebar lintas wilayah.

Geofisikawan University of Alaska Fairbanks, Vladimir Romanovsky, mengingat suasana 1970-an ketika banyak orang menganggap permafrost “sangat stabil” dan “selamanya.” Kini, katanya, keyakinan itu runtuh bersama tanah beku yang berubah menjadi lumpur.

Romanovsky menekankan paradoks waktunya: butuh ribuan hingga puluhan ribu tahun untuk “mengunci” karbon ke dalam permafrost. Untuk mengembalikan es itu ke tanah, katanya, “Anda butuh zaman es baru,” sesuatu yang jelas bukan rencana mitigasi manusia.

Di bawah sebuah bukit di Fairbanks, terowongan riset permafrost milik Angkatan Darat AS memperlihatkan dinding es bertabur tulang bison dan mamut. Bau menyengat seperti limbah menjadi ilustrasi kasar tentang dari mana metana Arktik berasal, yaitu pembusukan organik purba yang kini kembali aktif.

Natali berkata setiap kunjungan ke sana mengingatkannya pada besarnya masalah. “Anda menciumnya, melihatnya, merasakannya,” ujarnya, dan ia menutup dengan kalimat tegas: ini bukan masalah 100 tahun lagi, melainkan masalah hari ini.

Permafrost mencair adalah “utang iklim” yang ditagihkan oleh masa lalu kepada masa kini, dan bunganya berupa metana yang mempercepat pemanasan. Kita sering memperlakukan krisis iklim sebagai soal emisi pabrik dan kendaraan semata, padahal alam yang dipanaskan juga mulai memproduksi emisi tambahannya sendiri.

Di sinilah ketidaknyamanan politik muncul, karena target dan skenario sering dibangun dari angka yang “rapi” tetapi tidak lengkap. Jika tambahan beberapa persepuluh derajat dari permafrost diabaikan, maka ruang aman kebijakan menyempit tanpa disadari, sementara publik diberi rasa aman semu.

Lebih mengkhawatirkan, permafrost bukan hanya angka di grafik, melainkan tanah tempat orang tinggal dan industri berdiri. Ketika tanah runtuh, biaya sosial, keselamatan, dan ekonomi datang lebih cepat daripada negosiasi kebijakan yang biasanya lambat.

Pelajaran paling tajamnya sederhana: sistem Bumi punya umpan balik, dan manusia bukan satu-satunya sumber emisi ketika pemanasan sudah terlanjur terjadi. Maka pencegahan terbaik tetap pengurangan emisi fosil secepat mungkin, sebelum “raksasa tidur” itu sepenuhnya bangun dan bekerja melampaui kendali.

Gelembung metana di Smith Lake adalah berita kecil yang menyimpan makna besar tentang masa depan iklim. Ia menandai pergeseran dari krisis yang kita sebabkan, menuju krisis yang juga dipercepat oleh respons alam yang kita panaskan.

Jika permafrost menyimpan tiga kali karbon atmosfer dan kini mulai bocor, maka setiap penundaan kebijakan adalah pertaruhan ganda. Kita bukan hanya menambah emisi baru, tetapi juga membuka brankas emisi lama yang selama ribuan tahun terkunci.

Pertanyaannya bukan lagi apakah permafrost mencair, melainkan seberapa cepat kita menahan pemanasan agar kebocoran itu tidak menjadi “normal baru.” Dan ketika tanah yang dulu dianggap “selamanya” berubah, apa lagi yang masih kita anggap stabil tanpa benar-benar mengukurnya. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)