Strategi AS Tekan Iran Lewat Perang dan Negosiasi Berakhir

Ahlulbait Indonesia

Ahlulbait Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Strategi Amerika Serikat yang memadukan tekanan militer dan negosiasi terhadap Iran dinyatakan “telah berakhir” oleh Mayor Jenderal Mohsen Rezaei. Ia memperingatkan, bila Washington kembali melanjutkan perang dalam dua hingga tiga hari, Iran akan beralih dari pembalasan setara ke fase ofensif yang menyasar pasukan dan fasilitas militer AS di kawasan.

Pernyataan itu disampaikan Rezaei dalam wawancara televisi pemerintah Iran pada 17 Juli 2026 di Teheran, dengan rujukan laporan Mehr News. Ia menyebut “Kesepahaman Islamabad” tidak lagi berlaku, karena prasyarat yang diminta Washington justru dilanggar oleh Washington sendiri.

Rezaei menautkan pola ini dengan pengalaman Iran saat AS keluar dari JCPOA pada 2018, yang kala itu mengguncang kepercayaan terhadap diplomasi berbasis tanda tangan presiden. Ia menilai, sejak awal kesepahaman terbaru diperlakukan sebagai alat “perang dan negosiasi” untuk memaksa Iran menerima tuntutan politik.

Dalam narasi Rezaei, pelanggaran dimulai dari gencatan senjata yang tidak dijalankan penuh dan isu penarikan Israel dari Lebanon. Ia juga menuding pembentukan jalur pelayaran di Selat Hormuz dilakukan di luar mekanisme yang disepakati dengan Iran.

Ia menambahkan daftar serangan yang diklaim menyasar wilayah pesisir Iran, Bandara Bandar Abbas, Pulau Qeshm, dan fasilitas penyulingan air. Bila klaim ini akurat, maka garis batas “tekanan” berubah menjadi serangan atas infrastruktur sipil yang secara politik sulit diredam dengan diplomasi.

Rezaei juga menyoroti paket pendanaan US$12 miliar yang disebut tidak pernah benar-benar hadir sebagai manfaat ekonomi. Ia menyatakan skema itu berubah menjadi pembatasan impor dan kewajiban membeli produk AS, sehingga lebih menyerupai instrumen kontrol ketimbang bantuan.

Keyword “strategi perang dan negosiasi AS terhadap Iran” penting karena menggambarkan pendekatan ganda yang pernah dipakai Washington di berbagai krisis. Dalam versi Rezaei, negosiasi dipakai untuk membeli waktu, sementara tekanan militer dan blokade maritim dipakai untuk mengubah kalkulasi Teheran.

Rezaei menyebut perundingan 20 jam di Islamabad hanya membahas isu nuklir. Namun ia menuduh selama gencatan senjata dua pekan, AS justru memperketat blokade maritim dan menambah aset tempur seperti kapal perang serta pesawat pengisian bahan bakar di udara.

Jika benar, maka “gencatan senjata” berubah fungsi menjadi fase penataan ulang kekuatan. Ini membuat Iran membaca diplomasi sebagai jeda operasional, bukan jembatan damai.

Rezaei juga menyatakan mekanisme penyelesaian sengketa yang dimediasi Perdana Menteri Pakistan dan Emir Qatar tidak dimanfaatkan AS. Ia menyiratkan alasan utamanya: mekanisme itu berisiko membuka bukti pelanggaran Washington sendiri.

Dari sisi medan konflik, Rezaei mengklaim serangan meluas ke Khuzestan, Bushehr, Hormozgan, dan Sistan-Baluchestan, termasuk pangkalan militer, rumah sakit, dan jembatan strategis. Klaim semacam ini, bila diperkuat verifikasi independen, akan menaikkan tekanan internasional karena menyentuh isu perlindungan warga sipil.

Ia juga memproyeksikan opsi AS untuk meraih keuntungan politik, mulai dari menyerang Pulau Khark hingga menghantam fasilitas nuklir Iran. Di titik ini, sub-keyword “Selat Hormuz” dan “pangkalan AS di kawasan” menjadi penanda risiko eskalasi regional yang cepat dan mahal.

Rezaei menyatakan Iran mampu meluncurkan hingga 1.000 rudal dan 2.000 drone per hari, tetapi belum digunakan penuh demi efek maksimum pada fase menentukan. Angka itu adalah klaim sepihak, namun ia berfungsi sebagai sinyal deterrence yang ditujukan pada publik domestik dan pihak lawan.

Di sisi lain, ia mengakui Iran selama ini menahan diri untuk tidak menyerang pangkalan AS di negara tetangga. Pernyataan ini adalah pesan ganda: menenangkan negara Teluk, sekaligus memberi ultimatum bahwa “jaminan keamanan” dapat berakhir bila perang berlanjut.

Selat Hormuz menjadi pusat retorika strategis karena menjadi jalur energi global yang sensitif. Rezaei menegaskan kontrol Iran dimaksudkan untuk keamanan nasional dan stabilitas ekonomi dunia, sementara AS dituduh ingin mengendalikan jalur energi untuk memengaruhi pasar minyak.

Pernyataan Rezaei adalah bentuk “penutupan pintu” terhadap model diplomasi yang dianggap manipulatif, tetapi juga membuka pintu eskalasi yang lebih berbahaya. Ketika satu pihak menyebut fase “perang dan negosiasi” berakhir, itu berarti kanal kompromi dipersempit dan ruang salah hitung diperlebar.

Frasa “revolusi nasional” yang ia gunakan menunjukkan fokus pada konsolidasi internal, bukan sekadar respons militer. Ia mengingatkan agar persatuan tidak direduksi menjadi perdebatan politik, karena menurutnya itu target yang diinginkan Amerika dan Israel.

Namun, narasi ini juga mengandung risiko: ketika konflik dibingkai sebagai ujian eksistensial, kompromi mudah dicap sebagai kelemahan. Dalam situasi seperti itu, keputusan ofensif bisa menjadi lebih mudah dijustifikasi, walau konsekuensi regionalnya jauh lebih luas.

Rezaei juga mengirim pesan langsung ke Kuwait, Yordania, UEA, dan Qatar agar mencegah perang regional. Pesan itu terdengar seperti imbauan, tetapi ia juga dapat dibaca sebagai peringatan bahwa fasilitas atau wilayah tuan rumah pangkalan bisa terseret bila eskalasi terjadi.

Di tingkat global, isu utamanya kembali pada kredibilitas perjanjian dan mekanisme verifikasi. Pengalaman JCPOA menjadi bayang-bayang, karena keluar sepihak pada 2018 membuat setiap “kesepahaman baru” rentan dianggap sementara dan transaksional.

Rezaei menutup dengan kalimat kunci: respons Iran ditentukan di medan operasi, bukan retorika politik. Ia menyebut dua agenda utama terhadap AS, yakni menuntut ganti rugi dan menjalankan pembalasan yang diperlukan untuk keamanan jangka panjang Iran.

Jika strategi “perang dan negosiasi” benar-benar berakhir, maka yang tersisa adalah kalkulasi kekuatan dan biaya, bukan kepercayaan. Pertanyaan paling mendesak bagi kawasan adalah siapa yang mampu membuka jalur de-eskalasi tanpa terlihat kalah, sebelum Selat Hormuz dan pangkalan-pangkalan di Teluk berubah menjadi titik api yang tak terkendali.

(Orbit dari berbagai sumber, 30 Juli 2026)