My FanCam Galaxy Z Flip 8: Fitur AI Kamera Ikuti Subjek

ANTARA News Gorontalo

ANTARA News Gorontalo

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – My FanCam di Galaxy Z Flip 8, Fold 8, dan Fold 8 Ultra menawarkan cara baru membuat video fokus satu orang dari satu rekaman. Samsung menyebutnya seperti punya “personal videographer” yang mengikuti subjek otomatis tanpa perlu rekam ulang.

Budaya video pendek mendorong orang merekam konser, olahraga, dan panggung sekolah dalam format yang cepat dibagikan. Masalahnya, tangan gemetar, subjek bergerak, dan momen sering terlewat ketika kamera harus terus mengejar satu orang.

Di titik ini, ponsel bukan lagi sekadar alat rekam, tetapi mesin keputusan tentang apa yang layak ditampilkan. Karena itu, fitur AI yang menyentuh “framing” dan “fokus” menjadi medan baru persaingan merek.

Samsung Electronics Indonesia memperkenalkan My FanCam sebagai jawaban praktis untuk kebutuhan itu di lini ponsel lipat terbarunya. “Daripada bingung, momennya kehilangan, kita rekam saja semuanya,” kata Ilham Indrawan, Head of MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, Kamis (23/7).

Secara teknis, My FanCam bekerja dengan melacak subjek yang dipilih lalu memotong area video (crop) agar subjek tetap berada di pusat perhatian. Proses ini terjadi di aplikasi Galeri, sehingga pengguna tidak perlu pindah ke aplikasi edit pihak ketiga.

Konsekuensinya sederhana namun penting: kualitas hasil sangat bergantung pada kualitas rekaman awal. ANTARA mencatat pemakaian resolusi dan FPS tertinggi disarankan, terutama saat subjek jauh, karena crop memperbesar bagian kecil dari frame.

Dari sisi pengalaman, fitur ini menggeser beban kerja dari “perekaman presisi” menjadi “pemilihan subjek setelah kejadian”. Pengguna merekam adegan lebar dulu, lalu menentukan siapa yang ingin “diikuti” oleh AI.

Samsung juga memberi kontrol rasio aspek seperti 9:16 untuk vertikal, serta 1:1 dan 3:4 untuk format lain. Ini bukan detail kosmetik, karena rasio aspek menentukan apakah video cocok untuk TikTok, Reels, atau feed yang lebih persegi.

Nilai jual paling kuat ada pada konsistensi framing yang biasanya sulit dilakukan oleh orang awam. Ilham menggambarkannya, “Subyek bergerak ke kanan, berjalan ke kiri, dia bisa mengikuti,” sehingga hasilnya terasa seperti direkam juru kamera.

Namun ada batas yang jarang dibicarakan dalam brosur: AI hanya bisa mengikuti subjek selama subjek masih ada di dalam rekaman. Jika subjek keluar frame karena perekam terlalu jauh melenceng, AI tidak punya “bahan” untuk menyelamatkan momen.

Di pasar, konsep fancam sebenarnya bukan hal baru karena sudah lama hidup di komunitas penggemar dan aplikasi edit. Yang baru adalah integrasi langsung di Galeri Samsung, yang memangkas langkah, waktu, dan hambatan teknis bagi pengguna harian.

My FanCam menarik karena AI-nya tidak “menciptakan dunia baru”, melainkan merapikan dunia yang sudah terekam. Ini berbeda dari tren AI visual yang kerap menghapus, mengganti, atau menambah objek hingga realitasnya kabur.

Tetapi tetap ada pertanyaan etis yang halus: framing adalah bentuk narasi. Ketika AI memutuskan komposisi paling “rapi”, ia ikut menentukan siapa yang terlihat penting dan siapa yang tersisih dari cerita.

Di konser atau pertandingan, ini bisa memperkuat budaya “subjek tunggal” dan mengurangi konteks keramaian yang justru menjadi pengalaman kolektif. Video menjadi lebih efektif untuk media sosial, namun bisa lebih miskin sebagai dokumentasi peristiwa.

Di sisi lain, fitur ini bisa mendemokratisasi produksi video yang stabil dan enak ditonton. Orang tua yang merekam anak tampil tidak perlu panik mengejar gerak, karena koreksi bisa dilakukan setelahnya.

Klaim Samsung bahwa fitur ini belum didapat pada Google dan Apple memberi sinyal kompetisi AI mobile makin bergeser ke ranah pascaproduksi instan. Pertarungan bukan hanya sensor kamera, tetapi juga “siapa paling cepat mengubah rekaman mentah jadi konten jadi”.

My FanCam membuat satu hal menjadi jelas: masa depan kamera ponsel bukan cuma soal menangkap cahaya, tetapi juga mengelola perhatian. Dengan sekali rekam, pengguna bisa menghasilkan video fokus subjek yang siap unggah, selama perekaman awal cukup baik.

Namun kemudahan selalu membawa pilihan baru tentang apa yang dianggap penting, dan siapa yang dibiarkan menjadi latar. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar apakah AI bisa mengikuti subjek, melainkan apakah kita masih mau melihat keseluruhan cerita. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)