Seorang Mark Ruffalo vs Paramount!
ORBITINDONESIA.COM - Perseteruan panas antara Mark Ruffalo dan raksasa media Paramount-Skydance mendadak viral setelah menembus ranah geopolitik dan industri film.
Konflik ini bermula saat Ruffalo menentang keras megamerger bernilai USD 111 miliar antara Paramount dan Warner Bros. Discovery (WBD) yang dinilainya akan memicu PHK massal, mematikan independensi kreatif, dan melahirkan monopoli media.
Namun, situasi memuncak ketika Ruffalo mengaitkan pendanaan akuisisi tersebut dengan perusahaan teknologi Oracle milik Larry Ellison yang menyokong militer Israel (IDF).
Ruffalo mengunggah ulang rekaman video pimpinan Oracle (yang juga anggota dewan Paramount), Safra Catz, saat membahas keterlibatan teknologi mereka dalam membantu militer Israel.
"Ini adalah perusahaan yang digunakan Larry Ellison untuk mendanai akuisisi Warner Bros oleh anaknya. Teknologi yang sangat menakutkan ini kemungkinan besar akan digabung ke dalam salah satu konglomerasi media terbesar di dunia dan suatu hari nanti digunakan pada Kalian," tegas Ruffalo.
Ia menambahkan bahwa teknologi tersebut menyokong apa yang ia sebut sebagai "genosida dan sistem penindasan apartheid" di Gaza.
Sang aktor secara blak-blakan siap jika harus di-blacklist oleh studio, sembari menyerukan: "Pilihan kalian cuma melawan atau menyerah. Hasilnya akan tetap sama kalau kalian memilih diam. Begitulah cara kerja setiap pembully di dunia".
Pihak Paramount-Skydance merespons keras tuduhan tersebut dan menuduh Ruffalo menyebarkan narasi serta pola pikir antisemit (antisemitic tropes) demi kepentingan perselisihan bisnis.
"Penggunaan kata seperti 'genosida' dan 'apartheid' dalam konteks transaksi korporasi tidak hanya salah, tetapi sudah melampaui batas dan merendahkan penderitaan nyata," ujar perwakilan Paramount, sembari menegaskan bahwa studio mereka menjamin tidak ada daftar hitam (blacklist) bagi siapa pun.
Tidak tinggal diam, Ruffalo langsung menepis tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai taktik tidak jujur untuk membendung kritik.
"Tuduhan bahwa saya seorang antisemit sungguh mengerikan dan sangat tidak jujur. Mengkritik tindakan perdana menteri Israel, kontrak teknologi militer, atau eksekutif yang memasoknya tidak sama dengan mengkritik kaum Yahudi," pangkas Ruffalo menanggapi tuduhan Paramount.
Perselisihan ini pun berubah dari sekadar kasus persaingan bisnis (antitrust) menjadi benturan sengit antara isu kemanusiaan, idealisme pekerja seni, dan kepentingan raksasa/propaganda korporasi Hollywood.
See less