Kisah Satu Keluarga Lulusan UPI Bandung: Satu Atap, Satu Almamater
ORBITINDONESIA.COM - Kabar menggembirakan datang dari keluarga besar Drs. Supratman, seorang tenaga pendidik yang kini mengabdikan diri di SMA Muhammadiyah Toboali. Prestasi keluarga ini menjadi inspirasi bagi masyarakat Bangka Selatan, bahkan Indonesia.
Satu keluarga yang berdiam di Desa Gadung, Toboali, ternyata memiliki kesamaan luar biasa: semuanya adalah alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Jejak Pendidikan Satu Keluarga
Supratman: Alumni UPI (dulu IKIP Bandung) angkatan 1986, lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Novi Noviani Utami, S.Pd (istri): Alumni UPI Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 1993.
Ghiyast Khatami Abdul Rani, S.Pd (putra pertama): Lulusan UPI Jurusan Pendidikan Seni Rupa tahun 2017.
Shidqi Dhiaulhaq, S.Ds (putra kedua): Alumni UPI Jurusan Desain Komunikasi Visual tahun 2019.
Rohan Abdul Kamil (si bungsu): Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar UPI angkatan 2026.
Tekad Tanpa Paksaan
Menurut Ghiyast, pilihan mereka untuk kuliah di UPI murni atas kemauan sendiri.
“Tidak ada paksaan dari Bapak dan Ibu. Saya memang berniat menjadi guru,” ungkap Ghiyast melalui percakapan WhatsApp, Selasa, 2 Juni 2026.
Kini Ghiyast mengajar seni budaya di SMA Muhammadiyah Toboali, sementara adiknya Shidqi bekerja di sebuah agensi desain.
Prinsip Hidup dari Sang Ayah
Tentang kebersamaan mereka sebagai alumni UPI, Ghiyast menuturkan bahwa semua pencapaian berawal dari tekad dan usaha keras.
“Semua itu tidak lepas dari tekad dan usaha keras agar cita-cita bisa tercapai. Jika orang lain bisa, kenapa kita tidak? Itu prinsip yang selalu diajarkan ayah saya,” ujarnya.
Keluarga besar Supratman mengajarkan bahwa kerja keras dan konsistensi adalah kunci meraih cita-cita. Kisah mereka menjadi teladan bahwa pendidikan dapat menjadi fondasi kuat bagi sebuah keluarga.
Terima kasih kepada Pak Supratman atas kisah inspiratifnya. Semoga perjalanan keluarga ini menjadi motivasi bagi keluarga lain di Bangka Selatan, dan tentu saja bagi Indonesia.
(Oleh Rusmin Sopian, penulis yang tinggal di Toboali) ***