Fosil Gurita Tertua Ternyata Bukan Gurita, Ini Dampaknya

detikcom

detikcom

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kata kunci “fosil gurita tertua” mendadak retak setelah Pohlsepia mazonensis, yang lama dicatat sebagai gurita berusia 300 juta tahun, dinyatakan bukan gurita. Re-analisis dengan teknologi pencitraan canggih justru mengarah pada kerabat nautilus, dan itu mengubah cara publik membaca “evolusi gurita” selama dua dekade.

Pohlsepia mazonensis ditemukan di Illinois, Amerika Serikat, lalu dideskripsikan pada 2000 sebagai gurita purba tertua. Klaim ini sempat mendorong teori besar: asal-usul gurita seolah mundur sekitar 150 juta tahun lebih tua dari yang diperkirakan.

Namun, sejak awal ada ganjalan metodologis yang jarang dibicarakan di luar jurnal. Fosil bertubuh lunak mudah “menipu” karena bentuknya sangat bergantung pada proses pembusukan, tekanan sedimen, dan cara fosil itu terawetkan.

Masalah utamanya ada pada asumsi visual: bentuk mirip tentakel dan sirip dianggap bukti gurita. Tim peneliti kemudian menunjukkan bentuk itu bisa muncul karena tubuh membusuk berminggu-minggu sebelum tertimbun, sehingga jaringan melorot dan menyebar seperti lengan.

Ketika fosil dipindai ulang dengan pencitraan detail, muncul petunjuk anatomi yang lebih “keras” dibanding siluet tubuh. Peneliti menemukan radula, organ makan berupa pita dengan deretan gigi kecil, yang jumlah dan polanya tidak sesuai gurita.

Radula itu justru cocok dengan kelompok nautiloid, kerabat nautilus yang bercangkang dan masih hidup hingga kini. Dengan kata lain, “fosil gurita tertua” itu lebih masuk akal sebagai cephalopoda bercangkang, bukan gurita bertubuh lunak.

Thomas Clements dari Universitas Reading menegaskan pembalikan ini terjadi karena pembusukan menciptakan ilusi morfologi yang meyakinkan. “Rupanya fosil gurita paling terkenal di dunia sebenarnya bukan gurita sama sekali,” katanya, dikutip Science Daily.

Temuan kecil itu punya konsekuensi besar pada garis waktu. Jika Pohlsepia bukan gurita, maka bukti gurita tertua kembali bergeser ke periode yang lebih muda, dan para ilmuwan kini memperkirakan kemunculan gurita jauh lebih lambat, yakni pada periode Jurassic.

Studi ini dipublikasikan di Proceedings of the Royal Society B pada 8 April 2026. Publik mungkin melihatnya sebagai “koreksi”, tetapi bagi sains ini adalah mekanisme normal: hipotesis bertahan hanya selama bukti mengizinkan.

Kisah Pohlsepia menunjukkan betapa rapuhnya narasi evolusi ketika bertumpu pada bentuk, bukan struktur. Dalam paleontologi, terutama fosil bertubuh lunak, “mirip” sering kali hanya berarti “terdistorsi dengan cara yang kebetulan familiar”.

Di sisi lain, koreksi ini juga menyingkap bias manusia terhadap cerita yang dramatis. Label “gurita tertua 300 juta tahun” terdengar lebih menggugah ketimbang “kerabat nautilus yang membusuk”, sehingga publikasi populer cenderung mengunci kesimpulan sebelum perdebatan selesai.

Teknologi pencitraan canggih bukan sekadar alat baru, melainkan penguji ulang kepercayaan lama. Ia memaksa ilmuwan memindahkan pembuktian dari estetika fosil ke anatomi fungsional, seperti radula, yang lebih sulit dipelintir oleh waktu dan pembusukan.

Perubahan identitas Pohlsepia mazonensis mengajarkan bahwa sejarah kehidupan tidak ditulis dengan tinta permanen, melainkan dengan pensil yang terus diraut oleh data. Jika deretan gigi kecil bisa mengguncang kronologi evolusi gurita, maka masih berapa banyak “kepastian” lain yang sebenarnya hanya ilusi bentuk?

Pada akhirnya, berita ini bukan sekadar tentang gurita atau nautilus, melainkan tentang kerendahan hati ilmiah. Kita diajak menerima bahwa pengetahuan terbaik hari ini bisa menjadi catatan kaki besok, dan justru di situlah sains bekerja. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)