Screen Time Anak dan Perkembangan: Studi JAMA Ungkap Dampaknya
ORBITINDONESIA.COM – Screen time anak kembali disorot setelah studi besar di JAMA Pediatrics menemukan kaitan antara durasi layar dan perkembangan anak. Temuannya konsisten: makin lama anak menatap layar, makin terlihat penurunan kecil namun nyata pada belajar, bicara, perilaku, dan regulasi emosi.
Studi ini meninjau riset puluhan tahun tentang dampak screen time terhadap perkembangan anak. Tim peneliti merangkum data hampir tiga juta anak usia 18 tahun ke bawah dari 64 negara.
Penulis senior Sheri Madigan, profesor psikologi Universitas Calgary, mengatakan hasil umumnya jelas. “Secara keseluruhan, screen time yang lebih besar terkait dengan luaran yang lebih buruk pada beberapa area perkembangan,” ujarnya kepada CNN.
Madigan menekankan bahwa besaran efeknya sering kali kecil, tetapi tidak boleh dianggap sepele. Paparan layar nyaris universal dalam hidup anak, sehingga “kecil” dapat terakumulasi menjadi bermakna pada skala populasi.
Temuan utama menyebut hubungan antara screen time dan indikator perkembangan yang lebih rendah pada cara anak berpikir, belajar, berbicara, berperilaku, serta mengatur emosi. Studi juga mencatat riset yang lebih baru menunjukkan asosiasi lebih kuat dibanding riset lama.
Salah satu penjelasan yang masuk akal adalah perubahan bentuk layar itu sendiri. Dua dekade lalu anak mungkin menonton TV satu jam, sedangkan kini gawai ada di tangan, selalu hadir, dan interaktif.
Madigan menyebut teknologi modern “menarik, responsif, dan dipersonalisasi” sehingga pola keterlibatan anak berubah. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya bagaimana anak memakai teknologi, tetapi bagaimana teknologi “memakai” perhatian anak.
Namun studi ini tidak menyimpulkan layar sebagai penyebab langsung. Madigan mengakui temuannya bersifat korelasional, sehingga bisa juga anak yang sedang kesulitan justru lebih sering lari ke layar.
Catatan kritis datang dari Esther van Sluijs, profesor epidemiologi perilaku dari Loughborough University. Ia mengingatkan data belum cukup untuk menarik kesimpulan kuat tentang jenis penggunaan spesifik seperti media sosial atau gim.
Tatiana Íñiguez Berrozpe dari University of Zaragoza menilai artikel ini metodologisnya sangat kuat karena sampelnya sangat besar. Ia juga menaruh temuan ini dalam konteks, bahwa hubungan dengan kesehatan mental dan prestasi akademik memang ada, tetapi “sangat kecil.”
Di sinilah debat publik sering meleset: masyarakat terjebak pada dikotomi “layar itu jahat” versus “layar itu masa depan.” Padahal studi ini justru mendorong disiplin baru, yaitu mengukur biaya peluang dari screen time.
Madigan menyebut layar bisa “menggeser” kebutuhan dasar anak untuk tumbuh. Yang tergeser bukan sekadar jam belajar, tetapi tidur, aktivitas fisik, koneksi manusia, bermain, dan pengalaman belajar yang hidup.
Rekomendasi praktisnya tidak ekstrem, melainkan terarah. Orang tua diminta mengidentifikasi momen ketika layar mengganggu kebutuhan inti, misalnya makan malam bebas gawai atau jam harian untuk menaruh perangkat dan saling terhubung.
Namun menaruh beban pada orang tua saja juga tidak adil. Madigan menuntut pemerintah memperlakukan penggunaan layar seperti faktor kesejahteraan lain, melalui panduan, edukasi, riset, dan perlindungan anak dari bahaya daring.
Sudut pandang yang tajamnya begini: jika desain aplikasi sengaja memaksimalkan waktu pakai, maka masalahnya bukan hanya “kebiasaan anak.” Masalahnya juga ekosistem perhatian yang diproduksi industri, dan itu menuntut kebijakan publik, bukan sekadar nasihat rumah tangga.
Studi JAMA Pediatrics tidak memerintahkan kita mematikan semua layar, tetapi memaksa kita menghitung ulang jam-jam yang hilang. Efeknya mungkin kecil per anak, tetapi besar ketika terjadi pada hampir semua anak.
Pertanyaan yang perlu kita bawa pulang sederhana namun menohok: layar hari ini sedang menambah kemampuan anak, atau diam-diam menggantikan hal yang paling mereka butuhkan. Jawaban jujur atas pertanyaan itu akan menentukan seperti apa generasi berikutnya tumbuh. (Orbit dari berbagai sumber, 1 Oktober 2026)