Tanjak Depati: Kepala yang Melayu, Ingatan yang Terlupa

Sukma Wijaya, Pengurus LAM NSS Kep. Babel dan Praktisi Kehumasan Unmuh Babel.

Sukma Wijaya, Pengurus LAM NSS Kep. Babel dan Praktisi Kehumasan Unmuh Babel.

Culture

Oleh Sukma Wijaya, Pengurus LAM NSS Kep. Babel dan Praktisi Kehumasan Unmuh Babel.

ORBITINDONESIA.COM - "Kemarin saya melihat seorang anak muda memakai tanjak. Saya senang. Sampai lima menit kemudian saya sadar: ia bahkan tidak tahu mengapa tanjak itu dipakai."

Kalimat itu menyimpan ironi kita hari ini. Kita mulai rajin memakai simbol budaya, tapi belum rajin membaca maknanya. Bangga mengenakan tanjak, tapi belum tentu memahami nilai yang bertengger di atas kepala. Tidak apa-apa. Setidaknya tanjak sudah naik kelas: dari lemari budaya ke kepala manusia. Hanya saja, jangan sampai yang naik hanya kainnya, sementara pengetahuannya tertinggal di bawah.

Dalam tradisi Melayu, penutup kepala bukan aksesori. Ia adalah identitas, kehormatan, dan penanda kedudukan sosial. Di Bangka, kita mengenal kain cual — atau Limar Muntok — sebagai destar. Warisan tenun ikat dan sungkit yang melahirkan Tanjak Depati.

Maka membicarakan Tanjak Depati bukan membicarakan sepotong kain yang dilipat untuk difoto. Kita sedang membicarakan kepala. Dalam kebudayaan Melayu, kepala adalah tempat akal, adab, dan tahu diri bersemayam. Metaforanya jelas: tanjak berada paling dekat dengan kepala agar manusia tidak kehilangan akal.

Sayangnya, hari ini kita sering melihat yang terbalik: tanjaknya tegak, sikapnya tidak tahu tegak. Tanjaknya rapi, adabnya miring.

Depati sendiri bukan sekadar nama. Dalam sejarah Bangka, Depati adalah struktur kepemimpinan tradisional, sistem yang mengatur tanggung jawab, aturan, dan hubungan sosial. Ketika nama itu melekat pada tanjak, ia seharusnya membawa pertanyaan: apa arti menjadi pemimpin dan menjaga marwah?

Pemimpin tidak cukup tampak berwibawa. Ia harus menjaga amanah. Di sinilah tanjak menjadi metafora: semakin tinggi ia diletakkan di kepala, semakin tinggi pula tanggung jawab yang harus tumbuh di dalam diri.

Jika hanya untuk gagah, kita baru dapat kostum. Jika membuat pemakainya menjaga tutur kata dan tanggung jawab, barulah kita dapat kebudayaan.

Jangan sampai tanjak menjadi helm budaya. Fenomena kita lucu: ketika acara resmi tiba, semua mendadak Melayu. Baju Melayu dikenakan, tanjak bertengger, foto diambil, selesai. Besok kembali seperti biasa. Budaya diperlakukan seperti seragam upacara.

Dan di sinilah letak ironi yang paling telanjang: pemerintah yang seharusnya menjadi penjaga marwah, justru sering kali menjadi pihak yang paling abai memahaminya. Tanjak Depati diperlakukan sebagai hiasan panggung sambutan, bukan sebagai identitas strategis Melayu Bangka yang harus dijaga narasi, regulasi, dan ekosistemnya.

Kita punya Perda, kita punya branding Serumpun Sebalai, tapi kita tidak punya kurikulum, tidak punya pusat dokumentasi, bahkan tidak punya keberanian untuk menetapkan Tanjak Depati sebagai pakem identitas visual daerah.

Kita lebih fasih menganggarkan spanduk dan baliho acara budaya daripada menganggarkan riset, regenerasi perajin, dan perlindungan hak kekayaan intelektual atas warisan itu sendiri. Akhirnya, negara hadir sebagai panitia, bukan sebagai penjaga ingatan.

Padahal budaya tidak hidup hanya karena dipakai. Ia hidup karena dipahami. Kita keliru mengira pelestarian adalah memperbanyak orang memakai atribut. Yang lebih penting adalah memperbanyak orang mengerti mengapa atribut itu ada.

Anak muda yang memakai tanjak tanpa tahu maknanya bukan untuk ditertawakan. Itu alarm. Tugas kita bukan sekadar berkata "Kamu harus tahu budaya!", tapi bertanya: "Sudahkah kita menyediakan pengetahuan agar mereka bisa tahu?"

Maka Tanjak Depati harus bergerak dari atribut menjadi pengetahuan.

Ada enam jalan:

Pertama, buat bangga, bukan memaksa. Gerakan Sehari Bertanjak Bangka dengan kalender yang jelas, agar tanjak menjadi normal di ruang publik, bukan sekadar seremoni.

Kedua, masuk ke ruang anak muda. Budaya harus berani masuk TikTok, Instagram, YouTube. Lomba fotografi, video pendek, tanjak styling, cerita satu menit tentang filosofi. Tidak semua tradisi harus serius untuk bermartabat.

Ketiga, Tanjak untuk Semua. Jangan hanya untuk pejabat atau pengantin. Guru, mahasiswa, nelayan, UMKM, seniman, pengemudi ojek pun boleh bertanjak. Yang penting kesadaran budayanya, bukan statusnya.

Keempat, bangun rantai ekonominya. Libatkan penenun, perajin, desainer, UMKM. Setiap tanjak disertai story card atau QR code berisi sejarah, filosofi, dan cara pakai. Pembeli bukan hanya membeli benda, ia membeli cerita.

Kelima, Kelas Tanjak Depati yang menyenangkan di sekolah dan komunitas. Bukan menghafal sampai mengantuk, tapi mencoba memakai, mewawancarai perajin, membuat konten. Satu anak yang bisa menceritakan makna tanjak ke sepuluh temannya lebih berharga dari seratus anak yang memakai karena disuruh.

Keenam, standar narasi budaya. Bentuk, istilah, sejarah, dan filosofinya harus dikaji bersama budayawan, sejarawan, dan pemangku adat. Budaya boleh berkembang, tapi harus punya pijakan agar tidak menjadi legenda yang membingungkan.

Pada akhirnya, budaya bukan apa yang kita taruh di kepala, tapi apa yang kita tanam di dalam kepala. Tanjak boleh menjulang, jangan sampai kesombongan ikut menjulang. Tanjak boleh indah, jangan sampai adab menjadi lusuh.

Ketika anak muda memakai Tanjak Depati, saya tidak ingin buru-buru bertanya "Bagus tidak?" Saya ingin bertanya: "Nak, kau tahu tidak apa yang sedang kau bawa di kepalamu?"

Jika ia tahu, saya akan tersenyum. Karena tanjak bukan lagi sekadar kain, melainkan pengingat agar kita tidak hanya tampak Melayu, tetapi juga berperilaku sebagai manusia yang berbudaya.

Pangkalpinang, 22 Agustus 2026