The Social Reckoning: Film Aaron Sorkin Terasa Ketinggalan Zaman
ORBITINDONESIA.COM – “The Social Reckoning” dipromosikan seolah mewarisi aura “The Social Network”, tetapi hasil akhirnya justru terasa seperti film proses yang telat datang ke zamannya. Film ini rapi secara teknis dan ditopang deretan aktor kuat, namun nadanya jauh dari ketajaman dingin yang dulu membuat kisah Facebook terasa seperti tragedi modern.
Jika dinilai berdiri sendiri, “The Social Reckoning” tidak memalukan dan jelas bukan bencana. Ia dibuat kompeten, diperankan ansambel yang mengesankan, dan naskahnya memuat detail kecil yang menjadi ciri khas Aaron Sorkin sebagai penulis sekaligus sutradara.
Masalahnya, film ini bukan “The Social Network”, meski pemasarannya sengaja memberi penghormatan pada film David Fincher yang mengantar Sorkin meraih Oscar Skenario Adaptasi Terbaik pada 2011. Cara Sorkin mengemudikan cerita baru ini memunculkan nada yang sangat berbeda dari pendahulunya.
Struktur ceritanya memang mirip, karena film bolak-balik waktu untuk menumpuk konteks. Inti kisah mengikuti pelapor pelanggaran Facebook Frances Haugen (Mikey Madison) dan jurnalis Wall Street Journal Jeff Horwitz (Jeremy Allen White) saat mengerjakan “Facebook Files”, diselingi Mark Zuckerberg (Jeremy Strong) yang bersiap menghadapi sidang kongres beberapa tahun kemudian.
Perbedaan kuncinya ada pada genre rasa, karena “The Social Network” bekerja seperti biopik, sedangkan “The Social Reckoning” lebih mirip film proses. Pembanding yang paling dekat bukan Fincher, melainkan “A Few Good Men”, dengan dua tokoh penyusun bukti melawan institusi besar dan satu figur saksi yang keras kepala.
Namun film ini tidak membangun menuju konfrontasi setingkat “You can’t handle the truth”. Akhirnya justru digambarkan lebih menyerupai “The Breakfast Club”, dengan gestur kemenangan yang terasa ringan dan agak klise.
Di titik ini, kritik utamanya menjadi jelas: “The Social Reckoning” terasa sangat kedaluwarsa. Alih-alih menyengat sebagai potret kekuasaan digital, ia lebih sering tampil seperti drama ruang sidang yang aman, rapi, dan terlalu percaya pada ritme dialog sebagai mesin utama ketegangan.
Pemilihan Mikey Madison, Jeremy Strong, dan Jeremy Allen White sekilas tampak cerdas karena memajang talenta generasi baru, seperti “The Social Network” dulu menjadi panggung lompatan Jesse Eisenberg, Andrew Garfield, dan Rooney Mara. Tetapi praktiknya, tiga bintang yang meledak lewat televisi, dipimpin sutradara yang juga berjejak kuat di televisi, membuat film ini terasa seperti produk blok program kabel dua dekade silam.
Bayangkan film yang cocok tayang rutin di TNT pada awal 2000-an, dan Anda menangkap suasananya. Ini bukan ejekan murahan, karena era itu juga memutar banyak film peraih Oscar, tetapi selera industri dan pemilih penghargaan telah bergeser drastis.
Lihat saja lanskap film yang kini dibicarakan dalam perebutan Skenario Adaptasi Terbaik, yang cenderung bergerak ke dua ekstrem. Skala epik seperti “The Odyssey”, “Project Hail Mary”, atau “La Bola Negra” berdampingan dengan proyek lebih murah dan lebih berisiko seperti “The Invite” atau “All of a Sudden”.
Ruang tengah film berbiaya menengah yang dulu mendominasi slot nominasi Oscar kini makin jarang. Bahkan film konvensional yang mengusung agenda representasi, seperti “Being Heumann” dengan dukungan besar Apple Studios, berpotensi mendapat kredit lebih karena menghadapi tantangan menggambarkan komunitas yang kurang terwakili, termasuk penyandang disabilitas.
Rekam jejak Sorkin tetap patut dihormati, karena semua film yang ia sutradarai sejauh ini pernah masuk nominasi Oscar. Tetapi dua di antaranya lahir di masa puncak pandemi, ketika mayoritas penonton menontonnya via platform streaming dan ekosistem rilis bioskop sedang tidak normal.
Kini sumur rilis teater telah terisi kembali, dan lebih banyak penulis serta sutradara mendorong bahasa sinema ke depan. Dalam konteks itu, “The Social Reckoning” terdengar seperti gema masa lalu, bukan percakapan paling mutakhir tentang teknologi dan kuasa.
Problem “The Social Reckoning” bukan pada kualitas dasar, melainkan pada ambisinya yang terasa salah membaca zaman. Ketika publik sudah terbiasa dengan skandal platform digital yang berseri-seri, film proses yang berjalan aman tanpa puncak konflik yang mengguncang akan tampak seperti laporan yang terlambat.
Keputusan meniru kerangka loncat waktu ala “The Social Network” juga menjadi pedang bermata dua. Alih-alih memantik komparasi yang menguntungkan, strategi itu justru mengundang pertanyaan: mengapa film ini tidak seberani, setegang, dan setajam film yang ia rujuk?
Di sisi lain, film ini tetap punya penonton yang membutuhkan narasi yang jelas, tokoh yang mudah diikuti, dan dialog yang mengalir cepat. Tetapi untuk pasar penghargaan, terutama Oscar, film semacam ini terasa tidak lagi menjadi komoditas yang dicari, karena tidak menawarkan terobosan bentuk maupun risiko tematik yang cukup.
Dengan kata lain, “The Social Reckoning” adalah throwback yang sadar diri, namun terlalu nyaman berada di masa lalu. Ia mungkin memuaskan sebagai drama investigasi yang rapi, tetapi gagal menjadi peristiwa budaya yang memaksa kita menilai ulang hubungan manusia, algoritma, dan institusi.
“The Social Reckoning” mengingatkan bahwa film yang kompeten tetap bisa terasa usang ketika dunia sudah bergerak lebih cepat dari gaya bertuturnya. Ia menawarkan kisah yang tertib dan akting yang kuat, tetapi tidak menancapkan luka yang membuat penonton pulang dengan kegelisahan baru.
Mungkin inilah pelajaran paling jujur dari film ini: di era platform yang terus berubah, sinema juga dituntut menemukan bentuk yang lebih berani untuk mengejar kenyataan. Jika kebenaran hari ini tersebar dalam data, dokumen, dan kebisingan digital, pertanyaannya tinggal satu: apakah kita masih puas dengan film yang hanya merapikan fakta, tanpa mengguncang cara kita memandangnya? (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)