Serangan Israel di Suriah Dekat Turki: Netanyahu dan Risiko Eskalasi

republika.co.id

republika.co.id

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Serangan Israel di Suriah dekat perbatasan Turki kembali menguji batas rapuh “pencegahan” di Levant, setelah pangkalan udara Abu al-Duhur dibom sepihak dan Damaskus memilih menahan diri. Di balik ledakan yang disebut tanpa korban itu, terselip kalkulasi politik Benjamin Netanyahu, manuver Ankara, dan upaya Washington merajut kanal de-eskalasi tiga arah.

Haaretz melaporkan Turki dan Suriah menghindari eskalasi perang setelah Israel membom pangkalan Abu al-Duhur di barat daya Suriah. Serangan itu menghantam landasan pacu dan gudang penampungan, namun dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa.

Menurut dua pejabat Suriah yang dikutip Haaretz, Damaskus menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sengaja memancing konflik yang tak bisa dilawan Suriah. Mereka juga menautkan serangan itu dengan kebutuhan panggung politik domestik Israel menjelang pemilu Oktober 2026.

Di sisi lain, kantor perdana menteri Israel mengklaim Suriah nyaris melanggar kesepakatan keamanan karena mengizinkan pasukan Turki ditempatkan di Abu al-Duhur. Damaskus membantah, dengan menyebut kunjungan militer Turki hanya untuk latihan dan bukan pengerahan permanen.

Kontradiksi makin tajam ketika Kementerian Pertahanan Turki justru menegaskan tidak ada delegasi Turki mengunjungi Abu al-Duhur sebelum maupun sesudah serangan. Perbedaan versi ini menandai masalah utama: siapa mengendalikan narasi, dan siapa yang diuntungkan oleh kabut informasi.

Serangan Israel di Suriah dekat Turki bukan sekadar soal target militer, melainkan sinyal strategis pada tiga audiens sekaligus: Damaskus, Ankara, dan pemilih Israel. Ketika Israel menyebut ada “peringatan yang diabaikan”, ia sedang membangun justifikasi pre-emptive untuk tindakan sepihak berikutnya.

Damaskus, menurut Haaretz, memilih jalur komunikasi dengan Amerika Serikat dan Prancis serta menginginkan kesepakatan keamanan dengan Israel. Ini menarik karena Suriah juga disebut ingin mengubah perjanjian 1974 yang membentuk zona penyangga pascaperang Arab-Israel 1973.

Perjanjian 1974 selama puluhan tahun menjadi pagar prosedural yang mencegah benturan langsung, meski ketegangan tetap hadir. Ketika Suriah ingin meninjau ulang, itu dapat dibaca sebagai pengakuan bahwa arsitektur lama tidak lagi memadai untuk realitas baru, termasuk keterlibatan Turki.

Namun, Israel tampak memanfaatkan celah transisi itu untuk memperluas “hak bertindak” tanpa harus menunggu perubahan formal. Menyerang landasan pacu dan gudang adalah cara melumpuhkan kemampuan operasional tanpa memicu kemarahan publik global sebesar serangan yang menelan korban sipil.

Turki, lewat sumbernya kepada Haaretz, menyatakan akan tetap mendukung Suriah dalam diplomasi dan pertahanan serta berharap Washington menghentikan Israel. Tetapi Ankara juga menegaskan tidak melihat eskalasi sebagai kesempatan meraih poin politik atau media, sebuah penyangkalan yang justru mengindikasikan betapa sensitifnya panggung opini publik.

Di Washington, Tom Barrack menyebut serangan Israel sebagai “eskalasi yang tak perlu” dan mengakui Turki telah menerima peringatan. Ia juga mengatakan minimnya pemberitahuan sempat membuat Turki hampir merespons, namun kemudian menahan diri agar konflik tidak berkembang.

Pernyataan Barrack mengandung dua pesan: Israel bertindak, Amerika mencoba mengerem, dan Turki diminta disiplin agar tidak salah langkah. Reuters melaporkan Washington sedang membangun saluran diplomatik antara Turki, Israel, dan Suriah untuk mencegah pertempuran yang tak diinginkan.

Secara tren, pola ini menunjukkan de-eskalasi kini lebih bergantung pada hotline dan “manajemen insiden” ketimbang perjanjian besar yang mengikat. Ketika mekanisme formal lemah, satu miskomunikasi saja dapat mengubah serangan terbatas menjadi krisis regional.

Jika benar Netanyahu mengejar perhatian jelang pemilu, maka serangan Israel di Suriah dekat Turki adalah contoh klasik politik domestik yang diekspor menjadi risiko keamanan regional. Dalam skenario seperti ini, lawan bukan hanya pangkalan udara, melainkan persepsi: siapa terlihat tegas, siapa terlihat lemah.

Suriah tampak membaca jebakan itu dan memilih tidak memberi panggung eskalasi, sambil merapat ke kanal AS dan Prancis. Tetapi menahan diri bukan berarti aman, karena setiap serangan yang “tanpa balasan” bisa dibaca Israel sebagai izin tak tertulis untuk mengulang.

Turki berada di posisi paling rumit karena harus menjaga kredibilitas dukungan pada Suriah sambil menghindari benturan langsung dengan Israel. Bantahan Ankara soal kunjungan ke Abu al-Duhur juga bisa dibaca sebagai upaya memotong dalih Israel, sekaligus menjaga ruang manuver diplomatik.

Amerika Serikat, melalui Barrack, tampak memainkan peran pemadam kebakaran yang datang setelah percikan muncul. Namun, ketika Washington “membangun saluran” alih-alih memaksakan garis merah, pesan yang tertangkap bisa ambigu: Israel merasa masih punya ruang, sementara Turki dan Suriah diminta menahan diri.

Di tengah kabut klaim dan bantahan, publik seharusnya menaruh perhatian pada satu hal: stabilitas tidak ditentukan oleh siapa paling keras berbicara, melainkan siapa paling konsisten menutup celah salah hitung. Di kawasan yang dipenuhi aktor bersenjata dan kepentingan silang, eskalasi sering lahir bukan dari niat perang, melainkan dari rangkaian keputusan kecil yang dibiarkan tanpa koreksi.

Serangan Israel di Suriah dekat Turki memperlihatkan betapa rapuhnya pagar keamanan lama, dan betapa mudahnya ia dipakai sebagai alat politik baru. Damaskus menahan diri, Ankara berhitung, Washington merajut kanal, sementara Tel Aviv menguji batas.

Pertanyaannya bukan hanya apakah perang bisa dicegah hari ini, melainkan apakah kawasan ini punya mekanisme yang cukup kuat untuk mencegah perang besok. Jika de-eskalasi hanya bergantung pada “peringatan” dan “menahan diri”, maka satu kali saja ego politik menang atas kalkulasi dingin, seluruh wilayah bisa terperosok ke babak yang lebih gelap.

(Orbit dari berbagai sumber, 25 Agustus 2026)