Cegah DBD dengan 3M Plus, KKN Unhas Gerakkan Kalosi Alau
ORBITINDONESIA.COM – Pencegahan DBD lewat 3M Plus kembali digencarkan di Desa Kalosi Alau, Sidrap, saat mahasiswa KKN Unhas menggelar penyuluhan di aula kantor desa. Di tengah musim yang kerap memicu lonjakan kasus, pesan utamanya sederhana: musuhnya kecil, tetapi risikonya besar.
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang berulang datang, lalu sering dilupakan ketika kasus menurun. Padahal, Aedes aegypti hanya butuh genangan kecil di sekitar rumah untuk berkembang biak.
Di Kalosi Alau, mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Unhas Angkatan 69 Gelombang 116 memilih jalur edukasi sebagai pintu masuk perubahan. Program bertajuk “Masseddiki Cegah DBD” diarahkan untuk menanamkan kebiasaan 3M Plus sebagai rutinitas, bukan respons sesaat.
Kepala Desa Kalosi Alau, Andi Apris, menegaskan dukungan pemerintah desa terhadap edukasi pencegahan. “Saya berharap masyarakat yang hadir memperhatikan dan menerapkan Gerakan 3M,” ujarnya, sambil menekankan manfaat jangka panjangnya.
Format kegiatan dibuat terukur, dimulai dari pretest dan ditutup dengan posttest. Pola ini penting karena edukasi kesehatan sering gagal bukan karena materi kurang, tetapi karena tidak ada evaluasi perubahan pengetahuan.
Materi yang disampaikan mencakup definisi DBD, lokasi sarang nyamuk, gejala, hingga pertolongan pertama pada dugaan kasus. Penekanan pada “tanda bahaya” relevan, karena keterlambatan rujukan sering menjadi pembeda antara pulih dan komplikasi.
Gerakan 3M Plus ditekankan sebagai strategi rumah tangga yang murah dan realistis. Menguras, menutup, dan mendaur ulang menargetkan sumber jentik, sementara “Plus” mengingatkan bahwa pencegahan juga butuh kelambu, repelan, dan kebiasaan menghindari gigitan.
Kegiatan ini diikuti sekitar 40 warga, lengkap dengan leaflet dan sesi tanya jawab yang interaktif. Doorprize dan yel-yel “Bersatu Cegah DBD” mungkin terdengar sederhana, tetapi ia bekerja sebagai penguat ingatan dan pemicu partisipasi.
Hasil evaluasi internal menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta setelah penyuluhan. Klaim ini sejalan dengan praktik promosi kesehatan, meski dampak paling menentukan tetaplah perubahan perilaku yang bertahan setelah acara selesai.
Secara lebih luas, Indonesia masih menghadapi beban dengue yang fluktuatif dari tahun ke tahun. Data WHO menempatkan dengue sebagai ancaman yang meningkat di banyak negara tropis, dan perubahan iklim ikut memperluas peluang nyamuk bertahan di berbagai wilayah.
Karena itu, pencegahan berbasis komunitas menjadi kunci, terutama ketika fogging sering disalahpahami sebagai solusi utama. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan sumber masalahnya ada pada jentik yang terus muncul dari genangan rumah tangga.
Penyuluhan KKN Unhas di Kalosi Alau menunjukkan satu hal: perang melawan DBD tidak bisa mengandalkan momen darurat. DBD menuntut disiplin harian, dan disiplin tidak lahir dari ketakutan, melainkan dari kebiasaan yang diulang.
Namun, ada risiko klasik dalam program edukasi: pengetahuan naik, praktik tetap sama. Warga bisa hafal 3M Plus, tetapi jika tidak ada pemantauan lingkungan, jadwal gotong royong, dan dukungan fasilitas, genangan akan kembali muncul.
Di titik ini, sinergi desa menjadi penentu, bukan sekadar pelengkap. Pemerintah desa dapat mengubah edukasi menjadi sistem, misalnya lewat kader jumantik, inspeksi berkala, dan aturan sederhana pengelolaan sampah rumah tangga.
Mahasiswa KKN juga perlu memastikan pesan tidak berhenti pada ruangan aula. Materi akan lebih kuat bila diterjemahkan menjadi peta titik rawan, daftar rumah prioritas, dan rencana tindak lanjut yang bisa diteruskan kader setelah KKN selesai.
DBD sering diperlakukan sebagai “penyakit musiman,” padahal yang musiman adalah perhatian kita. Ketika perhatian turun, Aedes aegypti naik kelas menjadi ancaman yang kembali memakan biaya, waktu, bahkan nyawa.
Kalosi Alau mendapat pengingat penting bahwa 3M Plus adalah tindakan kecil dengan dampak besar. Penyuluhan KKN Unhas memberi awal yang baik, tetapi awal tidak otomatis menjadi perubahan.
Pertanyaannya kini sederhana dan menantang: setelah posttest selesai, siapa yang memastikan bak mandi benar-benar dikuras dan wadah air benar-benar ditutup. Jika jawabannya adalah “kita semua,” maka DBD punya lawan yang lebih besar daripada nyamuknya sendiri.
(Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)