Sarah Azhari 49 Tahun Tetap Awet Muda, Tolak Botox

detikHOT

detikHOT

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Sarah Azhari kembali jadi sorotan karena awet muda di usia 49 tahun, dan publik mencari rahasia skincare naturalnya. Ia menegaskan tak memakai botox atau filler, dan memilih rutinitas sederhana yang ia sebut “masih natural”.

Di Indonesia, standar cantik semakin dipengaruhi tren prosedur estetika medis yang cepat menyebar lewat klinik dan media sosial. Dalam lanskap itu, figur publik yang menolak botox sering diposisikan sebagai “pengecualian” sekaligus bahan perbandingan.

Sarah Azhari, yang pernah menetap di Amerika Serikat, mengaku terkejut melihat intensitas perawatan di Indonesia. Ia menyebut banyak orang melakukan perawatan “gila-gilaan”, sementara dirinya merasa biasa saja.

Pernyataan “belum ada botox, belum ada ini itu” menyorot dua arus yang bertabrakan: normalisasi prosedur injeksi dan munculnya kerinduan pada kecantikan natural. Ketika botox dan filler makin dianggap rutinitas, pilihan untuk tidak melakukannya ikut menjadi narasi yang dijual.

Secara medis, botulinum toxin dan filler memiliki profil manfaat dan risiko yang berbeda, dan hasilnya sangat bergantung pada dosis serta kompetensi tenaga medis. Literatur dermatologi dan panduan klinis menekankan pentingnya indikasi yang tepat, informed consent, serta penanganan efek samping seperti asimetri, ptosis, atau komplikasi vaskular pada filler.

Namun yang jarang dibahas adalah dampak psikologis dari budaya “harus selalu tampak muda”, terutama pada perempuan yang hidup di ruang publik. Paparan standar visual yang seragam dapat memicu ketidakpuasan tubuh, dan riset psikologi tentang media sosial berulang kali mengaitkan intensitas paparan konten penampilan dengan meningkatnya body dissatisfaction.

Di titik ini, rutinitas Sarah yang menekankan kebersihan kulit dan nutrisi terasa seperti perlawanan kecil terhadap logika instan. Ia menyebut cukup “pakai moisturizer”, “cuci muka”, dan “makan makanan yang sehat”, yang menggeser fokus dari prosedur ke kebiasaan.

Yang menarik bukan semata wajah Sarah Azhari, melainkan cara publik memaknai wajah itu sebagai proyek yang harus terus diperbarui. Pujian “awet muda” sering terdengar positif, tetapi diam-diam mengandung tuntutan agar penuaan tidak terlihat.

Ketika Sarah berkata “biasa aja”, ia seperti menolak panggung kompetisi kecantikan yang tak pernah selesai. Ia juga mengakui rasa takut terhadap injeksi, dan ketakutan itu sah dalam industri yang kadang memasarkan prosedur seolah tanpa risiko.

Meski begitu, narasi “natural” pun bisa berubah menjadi standar baru yang sama menekannya, jika dipakai untuk menghakimi pilihan orang lain. Pilihan paling sehat adalah memberi ruang pada keragaman keputusan, asalkan informasinya jernih dan keselamatannya dijaga.

Kisah Sarah Azhari menunjukkan bahwa “awet muda” tidak selalu identik dengan jarum suntik, dan tidak harus lahir dari prosedur yang mahal. Ia memilih konsistensi, kebiasaan dasar, dan kehati-hatian, sementara publik diingatkan bahwa kecantikan bukan hanya soal menghapus tanda usia.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting mungkin bukan “pakai botox atau tidak”, melainkan “untuk siapa” kita merawat diri dan “dengan risiko apa” kita melakukannya. Di tengah industri yang terus tumbuh, keberanian terbesar bisa jadi adalah menerima penuaan sebagai bagian normal dari hidup, tanpa kehilangan rasa hormat pada diri sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Agustus 2026)