Safety Driving Terminal Kijing: Budaya K3 dan Target Zero Accident

islnewstv.com

islnewstv.com

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Safety driving Terminal Kijing kembali ditegaskan PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) lewat sosialisasi yang melibatkan sekitar 200 pengemudi, perusahaan truk, pemilik barang, vendor, dan TKBM. Di pelabuhan yang ritme logistiknya tinggi, satu kelalaian kecil bisa berubah menjadi kecelakaan besar dan menghentikan arus barang.

Terminal Kijing menghadapi kenaikan intensitas kendaraan operasional dan kendaraan mitra kerja. Situasi ini membuat kepatuhan aturan lalu lintas internal pelabuhan menjadi isu keselamatan kerja yang tidak bisa ditunda.

Branch Manager PTP Nonpetikemas Pontianak, Suwanda, menekankan keselamatan sebagai tanggung jawab bersama. Ia menyebut tujuan utamanya sederhana namun menentukan: pekerja harus bisa pulang selamat kepada keluarga.

Pesan serupa disampaikan ASM HSSE PTP Nonpetikemas Pusat, Arif Paksi, yang menempatkan keselamatan sebagai ukuran moral organisasi. Narasi “pulang selamat” menggeser diskusi dari sekadar target operasional menjadi urusan martabat manusia.

Masalahnya, budaya aman berkendara sering kalah oleh tekanan waktu, antrean, dan target bongkar-muat. Dalam ekosistem pelabuhan, risiko juga berlipat karena campuran kendaraan berat, pejalan kaki, dan area kerja yang padat.

Sosialisasi safety driving di Terminal Kijing pada 13 Agustus menghadirkan KSOP, Dishub, Disnaker, dan SAMSAT sebagai sumber materi. Ini menunjukkan keselamatan tidak cukup diselesaikan oleh operator pelabuhan saja, karena rantai risikonya lintas lembaga.

General Manager Pelindo Regional 2 Kalbar, Yanto, merumuskan empat prinsip praktis: utamakan keselamatan, patuhi aturan, kendalikan kecepatan, dan peduli sesama. Prinsip itu terdengar sederhana, tetapi justru menjadi “bahasa bersama” ketika kepentingan di lapangan sering berbeda.

Di banyak kawasan industri, kecelakaan lalu lintas kerja kerap dipicu faktor manusia seperti kelelahan, distraksi, dan kebiasaan melanggar batas kecepatan. Dalam konteks pelabuhan, faktor itu bertemu risiko alat berat, blind spot, serta manuver sempit, sehingga konsekuensinya lebih fatal.

PTP Nonpetikemas menempatkan program ini sebagai implementasi ESG pada aspek HSSE. Penegasan ini penting, karena ESG sering dipersepsi sebatas laporan, padahal uji nyatanya ada pada perilaku harian di lapangan.

Rangkaian kegiatan seperti pemeriksaan kesehatan gratis dan kuis keselamatan menyasar akar masalah yang sering luput, yaitu kondisi fisik dan atensi pengemudi. Pendekatan partisipatif semacam ini biasanya lebih efektif daripada sekadar poster atau imbauan satu arah.

Namun, sosialisasi hanya langkah awal bila tidak diikuti pengukuran dan penegakan. Target “zero accident dan zero fatality” butuh indikator tegas seperti batas kecepatan yang diawasi, jalur wajib, audit kepatuhan, dan sanksi yang konsisten.

Artikel juga menyinggung pesan “Cegah Tumpahan, Hindari Pencemaran Lingkungan” sebagai bagian dari disiplin operasional. Ini relevan karena insiden berkendara di pelabuhan bukan hanya soal korban manusia, tetapi juga potensi tumpahan muatan dan bahan bakar yang merusak perairan.

Sosialisasi safety driving Terminal Kijing patut dibaca sebagai sinyal perubahan: pelabuhan ingin memindahkan pusat gravitasi dari “cepat” menjadi “selamat dan tertib”. Dalam dunia logistik, kecepatan sering dipuja, tetapi biaya kecelakaan selalu lebih mahal daripada keterlambatan.

Kehadiran regulator, polisi lalu lintas, Jasa Raharja, hingga Organda menunjukkan keselamatan mulai dipahami sebagai ekosistem. Meski begitu, sinergi akan diuji ketika penertiban benar-benar menyentuh kebiasaan lama, seperti ngebut saat mengejar slot bongkar atau melanggar jalur demi memotong antrean.

Di titik ini, komitmen perusahaan harus terlihat pada desain sistem, bukan hanya kampanye. Misalnya, rekayasa arus kendaraan, penerangan, marka, rambu, area istirahat pengemudi, dan manajemen jadwal agar tekanan waktu tidak mendorong perilaku berbahaya.

Budaya aman juga menuntut keberanian menolak praktik yang “sudah biasa” tetapi berisiko. Jika pelabuhan benar-benar ingin zero fatality, maka toleransi terhadap pelanggaran harus mendekati nol, termasuk untuk mitra yang paling besar sekalipun.

Di sisi lain, pengemudi perlu diperlakukan sebagai subjek keselamatan, bukan hanya objek aturan. Ketika kesehatan, jam kerja, dan akses fasilitas dasar diperhatikan, kepatuhan biasanya naik karena rasa adil ikut tumbuh.

Safety driving di Terminal Kijing adalah cerita tentang pilihan: apakah logistik mau dibangun di atas keberuntungan, atau di atas disiplin. PTP Nonpetikemas telah memulai dengan edukasi dan kolaborasi, tetapi konsistensi penegakan akan menjadi penentunya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan jumlah spanduk atau acara, melainkan berkurangnya insiden, meningkatnya kepatuhan, dan pulangnya pekerja dengan selamat setiap hari. Jika pelabuhan bisa membuat keselamatan menjadi kebiasaan, maka keberlanjutan bukan lagi jargon, melainkan kenyataan. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)