Seorang Anak Laki-Laki Malaysia Diadili Karena Diduga Membunuh Seorang Gadis di Sekolah

Yap Shing Xuen ditemukan tewas ditikam berkali-kali di toilet sekolahnya.

Yap Shing Xuen ditemukan tewas ditikam berkali-kali di toilet sekolahnya.

Internasional

ORBITINDONESIA.COM - Seorang remaja laki-laki di Malaysia diadili karena diduga membunuh seorang teman sekolah perempuannya, dalam kasus yang menjadi sorotan dan memicu perdebatan tentang pengaruh media sosial terhadap anak-anak.

Remaja laki-laki itu dituduh membunuh Yap Shing Xuen yang berusia 16 tahun pada Oktober lalu.

Gadis itu ditemukan tewas ditikam berkali-kali di toilet sekolah menengah mereka di pinggiran ibu kota Kuala Lumpur.

Remaja laki-laki itu, yang berusia 14 tahun saat itu, mengaku tidak bersalah. Jika terbukti bersalah, ia bisa menghabiskan puluhan tahun di penjara.

Polisi sebelumnya mengatakan mereka menduga media sosial mungkin telah memengaruhi remaja laki-laki tersebut.

Polisi juga mengkonfirmasi bahwa sebuah catatan ditemukan padanya saat penangkapannya. Laporan tentang isi catatan tersebut telah memicu diskusi yang lebih luas tentang peran media sosial.

Berdasarkan hukum Malaysia, identitas anak laki-laki tersebut tidak dapat diungkapkan kepada publik karena ia masih di bawah umur.

Usianya yang masih muda juga berarti ia tidak akan menghadapi hukuman mati jika terbukti bersalah. Namun, ia masih bisa menghadapi hukuman penjara 30 hingga 40 tahun, dan ia juga bisa dicambuk. Usia tanggung jawab pidana di Malaysia adalah 10 tahun.

Kasus ini telah sangat mengejutkan negara dan memicu percakapan nasional tentang dampak negatif media sosial terhadap anak-anak, khususnya paparan terhadap budaya manosphere dan incel.

Manosphere adalah ekosistem komunitas daring yang membahas maskulinitas, hubungan gender, dan persoalan laki-laki. Di dalamnya terdapat berbagai aliran dengan spektrum pandangan yang luas, dari yang berorientasi pada pengembangan diri hingga yang bersifat sangat antagonistik terhadap perempuan.

Incel adalah salah satu subkultur dalam ekosistem tersebut. Istilah ini kini umumnya merujuk pada komunitas pria yang merasa gagal memperoleh hubungan romantis atau seksual dan mengembangkan keyakinan bahwa kegagalan itu disebabkan oleh sistem sosial atau preferensi perempuan.

Fenomena manosphere dan incel menjadi perhatian karena memperlihatkan bagaimana kesepian, perubahan budaya, dan dinamika media sosial dapat membentuk identitas kolektif baru di era digital—dengan dampak yang bisa bersifat konstruktif maupun destruktif, tergantung pada arah komunitas dan cara anggotanya memaknai pengalaman mereka.

Beberapa pihak membandingkan kasus ini dengan serial Netflix Adolescence, yang mengeksplorasi tema serupa yang melibatkan remaja laki-laki, radikalisasi online, dan kekerasan.

Tahun lalu Perdana Menteri Anwar Ibrahim ditanya tentang kasus ini serta kasus-kasus kekerasan di sekolah baru-baru ini.

Ia dikutip oleh media lokal mengatakan bahwa "hampir semua masalah ini berasal dari penggunaan telepon seluler dan media sosial", dan berjanji untuk mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih ketat.

Pihak berwenang sejak itu telah memberlakukan aturan baru yang menurut mereka akan melindungi anak-anak dan mengurangi paparan mereka terhadap konten online yang berbahaya.

Sejak Juni, Malaysia telah melarang semua anak di bawah usia 16 tahun untuk memiliki akun di platform media sosial utama. ***