DECEMBER 9, 2022
Kolom

Denny JA: Ganjar Pranowo Kalah di Pilpres 2024 Karena Blunder Fatal Menyerang Jokowi

image
(OrbitIndonesia/kiriman Denny JA)

ORBITINDONESIA.COM - Mengapa Ganjar Pranowo tak hanya kalah dalam Pilpres 2024, tapi nomor buncit, terpuruk sampai 16-17 persen saja?

Bukankah di bulan Maret 2023, elektabilitas Ganjar Pranowo paling top, paling tinggi, melampaui Prabowo Subianto?

Ganjar Pranowo berbeda lagi kasusnya. Ia kalah karena satu blunder yang fatal sekali.

Baca Juga: Survei LSI Denny JA: 66,5 Persen Pemilih di Dapil Jawa Barat 7 Bisa Dipengaruhi Politik Uang

Ganjar mengubah arah permainan di tengah pertarungan. Ibaratnya, ia mengganti kuda di tengah lomba pacuan.

Kisah Ganjar ini bisa dikatakan adalah kisah tragedi politik elektoral di Pilpres 2024. Mengapa?

Ganjar di awal bulan Maret, April, Mei 2023 adalah front runner, calon yang paling mungkin menang di Pilpres 2024.

Baca Juga: LSI Denny JA: 84 Persen Pemilih Ingin Pilpres Selesai Satu Putaran

Dalam survei LSI Denny JA bulan Maret-Juni 2023, Ganjar dan Prabowo hanya saling mengalahkan.

Tiba- tiba di bulan November 2023, terutama setelah Mahkamah Konstitusi membolehkan Gibran Rakabuming Raka menjadi wakil presiden, Ganjar menyerang Jokowi.

Tak hanya Ganjar, kubunya juga ikut menyerang Jokowi. Bahkan Megawati Soekarnoputri sendiri mengatakan: “Orde Baru Lahir Kembali!”

Baca Juga: Prabowo-Gibran Menang Satu Putaran Saja? Inilah Kajian Riset LSI Denny JA

Itulah blunder besar yang terjadi dan direkam oleh aneka lembaga survei. Elektabilitas Ganjar yang tadinya tinggi sekali: 35 ersen, terus merosot ke angka 27 persen, 25 persen, 21 persen, akhirnya di Febuari 2024, ia hanya meraih 16 persen sampai 17 persen.

Kekalahan Ganjar karena blunder yang terjadi di tengah permainan. Sedangkan kekalahan Anies karena disain strategi politiknya memang mustahil bisa menang.

Mengapa Prabowo yang menang?

Baca Juga: Survei LSI Denny JA: Elektabilitas Prabowo-Gibran Capai 53,5 Persen, Peluang Menang Satu Putaran Saja di Pilpres Terbuka

Pada Prabowo, ia “riding the wave,” mengasosiasikan diri dengan Jokowi.

Pusatnya ada di Jokowi yang kala Pilpres 2024 sangalah populer, dengan tingkat kepuasan publik sekitar 75 persen sampai 80 persen. 

Disain kampanye Anies mustahil menang karena mengambil isu perubahan, di tengah Presiden yang sedang berkuasa sangat populer. Mayoritas publik tak ingin perubahan, tapi keberlanjutan.

Baca Juga: Ikuti Analisis LSI Denny JA tentang Hasil Pilpres 2024 Hari Ini Pukul 15.00 WIB di Zoom Meeting

Tragedi Ganjar karena ia tadinya berasosiasi paling dekat dengan Jokowi, sama-sama dari PDI Perjuangan, malah menyerang Jokowi.

Sebaliknya, Prabowo yang menang karena berhasil mengambil secara eksklusif Jokowi’s Effect untuknya sendiri.

Kebetulan, waktu itu saya ada di kubu Prabowo. Saya  ikut merumuskan strateginya, walau tentu saja, strategi itu awalnya datang dari Prabowo sendiri.

Baca Juga: Denny JA adalah Sang Lawan Sesungguhnya dan Petarung yang Sebenanya: Sebuah Catatan dari Rahmi Isriana

Insting Prabowo dalam berpolitik sangatlah tajam. Ia sudah mengikuti Pilpres lima kali berturut- turut. Jika kalah lagi, selesai sudah. Situasi ini yang membuat semua potensi bawah sadarnya keluar.

Saya datang dengan data untuk memperkuat pilihan politik Prabowo.

Saya katakan: “Pak, untuk menang, teruslah terasosiasi dengan Jokowi. Suka tak suka, Jokowi sedang sangat populer. Data survei mendukung pilihan ini.”

Baca Juga: Lewat Sebuah Diskusi Berdua: Inilah Alasan Denny JA Memilih Berdiri di Samping Presiden Jokowi

Tapi waktu itu di bulan maret sampai juni 2023, sampai September sampai Oktober 2023, porsi Jokowi’s Effect ini terbagi antara Prabowo dan Ganjar.

Maka strategi yang jitu, kita bikin pelan-pelan pendukung Jokowi keluar dari Ganjar. Pendukung Jokowi perlahan tapi pasti harus terpisahkan dari Ganjar. Ini agar Jokowi’s Effect bisa tercurahkan jauh lebih banyak ke Prabowo.

Setiap dua minggu, LSI Denny JA membuat survei nasional untuk merekam perkembangan elektabilitas.

Baca Juga: Denny JA Gagas Buku tentang Pilpres 2024 di Mata Penulis SATUPENA

Pemilih yang puas pada Jokowi berkisar 75 persen sampai 80 persen.

Di bulan Maret-Juni 2023, hanya 25 persen dari yang puas kepada Jokowi ini lari ke Prabowo.

Tapi pelan-pelan di bulan Februari 2024, sudah menanjak 60 persen dari yang puas kepada Jokowi pergi ke prabowo.

Baca Juga: Denny JA: Situasi akan Baik-baik Saja di Tengah Isu Pemilu Curang, Hak Angket, dan Koalisi Baru

Mengapa?

Blunder serangan kubu Ganjar kepada Jokowi justru mempercepat dan memperbanyak eksodus, migrasi pemilih Jokowi dari Ganjar pindah ke Prabowo.

Itulah variabel utama yang menjelaskan mengapa Prabowo menang?  Mengapa Anies kalah? Mengapa Ganjar kalah?

Baca Juga: Kutipan Ikonik Pilpres 2024 dalam Lukisan AI Karya Denny JA

Tentu banyak variabel lain yang juga berkerja. Namun variabel utama itu yang dominan dan sederhana untuk dipahami.

Kembali kita teringat Bobby Fisher, seorang pecatur terhebat sepanjang sejarah soal strategi. Saya kemas kutipan Fisher itu untuk marketing politik.

Jika strategi makronya salah, maka semua detail langkah lainnya, walaupun bagus, tapi jika ia ada dalam strategi makro yang salah, maka ujungnya hanyalah kekalahan.

Baca Juga: Denny JA: Anies Baswedan Kalah di Pilpres 2024 Karena Salah Mengibarkan Perubahan di Tengah Kepopuleran Jokowi

Pilpres 2024 akan dikenang salah satunya sebagai contoh terjadinya tragedi politik elektoral yang menimpa Ganjar Pranowo. ***

Berita Terkait