DECEMBER 9, 2022
Humaniora

Peneliti BRIN Abdul Jamil Wahab: Bulan Ramadan Bisa Jadi Momentum Mengurangi Polarisasi Antaragama

image
Peneliti Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Abdul Jamil Wahab. ANTARA/HO-Pusat Media Damai BNPT.

ORBITINDONESIA.COM - Peneliti Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Abdul Jamil Wahab mengatakan, bulan Ramadan dapat dijadikan sebagai momentum mengurangi polarisasi antaragama ataupun mengatasi berbagai macam konflik.

"Seperti yang bisa kita lihat pada berbagai pemberitaan, bulan Ramadan ternyata tidak hanya dirayakan oleh umat Islam yang berpuasa, namun juga banyak non Muslim yang membagikan makanan untuk berbuka puasa,” kata Abdul Jamil Wahab dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat, 22 Maret 2024.

Menurut Abdul Jamil Wahab, hal tersebut menjadi salah satu kehebatan bulan Ramadan karena bisa menjadi penghubung bagi semua umat beragama ataupun antargolongan.

Baca Juga: Safari Ramadan di Masjid Ukhuwah Islamiyah UI Gelar Kajian Ramadan dan Doa Bersama untuk Palestina 

Selain itu, ia mengatakan, bulan Ramadan dapat menambah intensitas interaksi antarmasyarakat, terutama hidup bertetangga, karena hal ini terdapat buka puasa bersama atau saling memberikan makanan untuk disantap ketika adzan Maghrib berkumandang.

Menurut Abdul, bulan Ramadan tidak sebatas mengenai kerukunan dan kebersamaan, melainkan juga dapat menurunkan tensi Islamofobia yang diakibatkan oleh kelompok radikal dan efek negatifnya masih dirasakan hingga saat ini.

Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa saat ini diperlukan penanganan terhadap Islamofobia secara holistik.

Baca Juga: Kalistenik yang Sangat Minim Gunakan Alat, Bisa Jadi Pilihan Olahraga yang Cocok Ketika Puasa Ramadan

"Pertama-tama, dari pihak Muslim sendiri, penting untuk menghindari tindakan atau sikap yang dapat memberikan alasan bagi pihak lain untuk menilai negatif terhadap Islam," ujar Abdul.

Kemudian, kata Abdul, dari pihak Barat yang memerlukan pemahaman lebih objektif terhadap Islam dan umat Muslim. Menurut dia, ketidaktahuan akan karakteristik dan ajaran Islam sering kali menjadi penyebab Islamofobia.

Ia pun berharap agar bulan Ramadan kali ini tidak hanya dipandang sebagai momen untuk beribadah, tetapi juga sebagai kesempatan untuk menguatkan kerja sama antarumat beragama, dalam merespons tantangan radikalisme serta Islamofobia.

Baca Juga: Safari Ramadan bersama Nahdlatul Ulama, AQUA Salurkan Donasi Tahap Kedua untuk Palestina Melalui LazisNU

"Tantangan umat Islam dengan adanya fenomena Islamofobia harus disikapi secara lebih bijaksana dan toleran. Tidak hanya kita mengharapkan untuk dimengerti oleh pihak lain, namun kita juga harus bisa menyediakan ruang yang sehat bagi semua golongan. Semoga upaya-upaya ini dapat terus dilakukan untuk menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan damai di Indonesia, dan di seluruh dunia,” katanya. ***

Sumber: Antara

Berita Terkait