IPO SpaceX di Nasdaq: Elon Musk Triliuner, Saham Diperdebatkan

Forbes

Forbes

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – IPO SpaceX di Nasdaq dibuka pada harga $150 per saham dan sempat melonjak hampir 20% sesaat setelah debut, mengantar Elon Musk menyandang status triliuner pertama di dunia. Di balik euforia pasar, pertanyaan keras muncul tentang valuasi, tata kelola, dan siapa yang menanggung risikonya ketika hype bertemu angka-angka laporan keuangan.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Terjemahan akurat artikel sumber: SpaceX mulai diperdagangkan di Nasdaq dengan kode SPCX setelah IPO terbesar sepanjang sejarah, yang membuka jalan bagi Elon Musk menjadi triliuner pertama. Pada 12 Juni 2026, saham dibuka $150 dan naik ke sekitar $161,75, sementara proyeksi awal sempat menyebut pembukaan di $175.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Sehari sebelumnya, SpaceX menetapkan harga IPO $135 per saham, menegaskan valuasi sekitar $1,77 triliun dan menghimpun rencana dana $75 miliar. Permintaan investor dilaporkan sangat besar, dengan Reuters menyebut demand mencapai $250 miliar dan Bloomberg melaporkan investor ritel memesan lebih dari $100 miliar.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Namun, Senator Elizabeth Warren meminta SEC menunda IPO melalui surat 12 halaman, menyoroti valuasi, struktur tata kelola, dan perlindungan investor. Warren menekankan Musk menguasai 85% hak suara pemegang saham, sehingga investor publik dinilai memiliki hak yang jauh lebih kecil dari biasanya.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Skala IPO ini bukan sekadar rekor, melainkan sinyal perubahan pusat gravitasi pasar modal ke perusahaan berisiko tinggi namun berstatus ikon. Pada debutnya, kapitalisasi pasar SpaceX disebut mencapai sekitar $2,1 triliun, menempatkannya di jajaran terbesar dunia dan melampaui beberapa raksasa lama.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Di sisi permintaan, oversubscription hampir empat kali dari rencana penawaran menunjukkan pasar mengejar kelangkaan dan cerita besar, bukan hanya arus kas. BlackRock dilaporkan memesan sedikitnya $5 miliar, sementara permintaan ritel disebut menembus puluhan miliar dolar, mempertegas bahwa IPO ini menjadi “peristiwa budaya” finansial.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Namun angka operasional menuntut pembacaan dingin, karena SpaceX melaporkan rugi bersih $4,28 miliar hingga kuartal terakhir setelah rugi $4,94 miliar pada 2025. Sekitar 69% pendapatan kuartalan berasal dari Starlink sebesar $4,69 miliar, dan unit konektivitas disebut satu-satunya yang menguntungkan.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Belanja modal kuartalan mencapai $10,1 miliar dan lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, dengan porsi terbesar $7,7 miliar diarahkan ke AI. Ini menggeser narasi SpaceX dari semata perusahaan roket menjadi perusahaan infrastruktur data dan komputasi, yang secara valuasi memang “seksi” tetapi juga membakar kas.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Di sinilah ketegangan utama muncul, karena Morningstar memperkirakan nilai wajar sekitar $63 per saham, jauh di bawah harga yang ditetapkan. Mereka menilai proyeksi pendapatan Starlink yang lebih realistis $129 miliar, bukan gabungan proyeksi perusahaan yang mencapai $1,6 triliun dari bisnis mobile dan broadband.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Michael Burry bahkan menulis tidak ada yang meyakinkan dalam dokumen IPO untuk menyimpulkan nilai $1 triliun, apalagi $2 triliun. Jika kritik ini benar, maka lonjakan awal lebih mencerminkan premi reputasi dan kelangkaan, bukan premi kinerja yang sudah terbukti.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Masalah lain adalah tata kelola, karena kontrol 85% hak suara oleh Musk membuat saham publik berpotensi menjadi “ekuitas tanpa kendali.” Profesor hukum Ann Lipton menyebut SpaceX pada dasarnya menutup hampir semua jalur agar pemegang saham punya pengaruh, dan ini memperbesar risiko moral hazard.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Warren juga menyoroti risiko “pemaksaan” melalui indeks, ketika perusahaan raksasa masuk indeks utama dan dana pasif ikut membeli tanpa pilihan. Kekhawatiran ini relevan, sebab jutaan investor ritel kini berinvestasi lewat ETF indeks, sehingga keputusan alokasi bisa terjadi secara otomatis, bukan sadar risiko.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Dari sisi akses, SpaceX membuka alokasi ritel melalui Schwab, Fidelity, Robinhood, SoFi, dan E*Trade, dengan syarat berbeda-beda. Demokratisasi akses ini terlihat positif, tetapi juga berarti volatilitas bisa ditopang massa investor baru yang rentan FOMO ketika harga bergerak liar.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Dampak sosial-ekonomi internal juga besar, karena lebih dari 4.400 karyawan dan mantan karyawan diproyeksikan menjadi jutawan, dan sekitar 400 orang disebut bisa meraih $100 juta atau lebih. IPO ini menciptakan kelas kaya baru di sektor antariksa, sekaligus memperlebar jurang persepsi antara “pemenang ekuitas” dan publik yang hanya menjadi penonton.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

IPO SpaceX memperlihatkan bagaimana pasar modern sering membeli masa depan dalam bentuk cerita, lalu baru belakangan menuntut bukti dalam bentuk laba. Ketika Musk sendiri berkata dulu ia memberi peluang sukses SpaceX kurang dari 10%, ia sedang menjual kerendahan hati yang berubah menjadi mitologi bisnis.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Mitologi itu kuat, tetapi juga berbahaya jika mengaburkan prinsip dasar investasi, yaitu hak pemegang saham dan disiplin valuasi. Jika struktur hak suara membuat investor publik “membayar mahal untuk kursi tanpa setir,” maka yang dibeli bukan kepemilikan, melainkan tiket menumpang pada keputusan satu orang.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Spekulasi merger SpaceX dengan Tesla menambah lapisan drama, karena sinergi bisa nyata tetapi juga membuka konflik kepentingan dan rekayasa valuasi lintas entitas. Ketika analis bahkan memberi peluang tinggi penggabungan pada 2027, pasar seolah memperdagangkan skenario, bukan kepastian.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Dalam lanskap seperti ini, peringatan Warren tentang perlindungan investor tidak bisa diperlakukan sebagai gangguan politik semata. Itu adalah pengingat bahwa inovasi finansial dan inovasi teknologi sama-sama butuh pagar, agar euforia tidak mengubah bursa menjadi arena perjudian berskala triliunan dolar.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

IPO SpaceX di Nasdaq menandai momen ketika antariksa, internet satelit, dan AI dilebur menjadi satu narasi raksasa yang menghipnotis pasar. Tetapi rugi miliaran dolar, belanja modal agresif, dan tata kelola super-terkonsentrasi membuat pertanyaan paling penting tetap menggantung: siapa yang memegang kendali, dan siapa yang menanggung jatuhnya jika cerita tidak seindah proyeksi.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Pada akhirnya, IPO terbesar bisa menjadi tonggak kemajuan, atau monumen kesombongan valuasi, tergantung disiplin yang menyertainya. Jika publik ingin tercerahkan, mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukan “berapa cepat SpaceX naik,” melainkan “berapa mahal harga keyakinan kita pada satu orang dan satu cerita.”

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)