Tragedi di Balik Sukses: Menguak Budaya Kerja Ola yang Beracun
ORBITINDONESIA.COM – Dua kejadian bunuh diri dalam setahun terakhir di perusahaan Ola Group memicu kekhawatiran serius tentang budaya kerja perusahaan ini.
Budaya kerja beracun menggambarkan lingkungan kerja yang tidak sehat di mana karyawan mengalami stres, beban kerja berlebih, kurangnya dukungan, komunikasi buruk, favoritisme, atau pelecehan, yang berdampak negatif pada kesejahteraan mental dan fisik mereka.
Insiden bunuh diri di Ola Group dan tuduhan tentang tekanan kerja ekstrem menunjukkan bahwa masalah ini tidak hanya terjadi di satu perusahaan, tetapi mencerminkan tren yang lebih luas di dunia korporat. Dengan meningkatnya laporan insiden serupa di berbagai industri, dari EY hingga Ola, jelas bahwa budaya kerja telah menjadi faktor kunci yang mempengaruhi pertumbuhan, kinerja, dan keseimbangan kerja-hidup karyawan.
Kritik terhadap Bhavish Aggarwal, pendiri Ola, menunjukkan pola kepemimpinan yang agresif dan menekan. Pernyataannya yang menyebut tidak semua orang cocok dengan budaya perusahaan menunjukkan sikap defensif yang mungkin memperparah masalah budaya kerja di perusahaan. Kegagalan untuk mengakui dan memperbaiki masalah ini dapat berdampak jangka panjang pada reputasi dan kemampuan perusahaan untuk menarik serta mempertahankan talenta.
Insiden-insiden ini mengangkat pertanyaan penting tentang bagaimana perusahaan besar menangani kesehatan mental dan kesejahteraan karyawannya. Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, menjaga budaya kerja yang sehat bukan hanya tanggung jawab moral, tetapi juga strategi bisnis yang bijak. Mampukah Ola dan perusahaan lain belajar dari kesalahan ini dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih mendukung?