Penetapan Awal Ramadan 1447 H: Antara Hisab dan Rukyat

ORBITINDONESIA.COM – Hilal sebagai penanda 1 Ramadan 1447 Hijriah belum terlihat di Indonesia, memicu diskusi seputar metode penetapan awal bulan puasa.

Kementerian Agama menyatakan hilal belum memenuhi kriteria visibilitas yang disepakati dalam MABIMS, menunda penetapan 1 Ramadan hingga sidang isbat diselenggarakan. Ini menunjukkan kompleksitas dalam penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia.

Penetapan awal bulan Hijriah melibatkan dua metode utama: hisab dan rukyat. Meski hisab menawarkan keakuratan matematis, rukyat memberikan konfirmasi visual yang penting. Ketidaksesuaian kriteria visibilitas hilal mengharuskan verifikasi melalui sidang isbat.

Menghadapi perbedaan penetapan awal Ramadan, seperti yang dilakukan PP Muhammadiyah, penting untuk mengedepankan sikap toleransi. Haedar Nashir menekankan pentingnya sikap tasamuh dalam menghadapi perbedaan ini, menciptakan ruang ijtihad yang sehat.

Metode penetapan awal Ramadan mencerminkan keragaman praktik dalam Islam. Perbedaan ini seharusnya menjadi ajang perenungan bagi umat untuk memperkuat toleransi dan persatuan di tengah keberagaman. Bagaimana kita menyikapi perbedaan ini akan menentukan keharmonisan sosial kita ke depan.

(Orbit dari berbagai sumber, 19 Februari 2026)