Persib Bandung Lepas Rezaldi Hehanussa: Cuci Gudang dan Risiko Cedera

detiksport

detiksport

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Persib Bandung melepas Rezaldi Hehanussa setelah Super League 2025/26, menegaskan tren “cuci gudang” yang makin tegas di tubuh Maung Bandung. Keputusan ini bukan sekadar soal performa, tetapi juga soal cedera panjang yang menggerus menit bermain dan nilai strategis pemain.

Rezaldi tidak diperpanjang kontraknya usai 3,5 tahun bersama Persib Bandung, setelah didatangkan dari Persija Jakarta pada pertengahan Liga 1 2022/23. Klub mengirim pesan perpisahan resmi, dengan Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat Adhitia Putra Herawan menyebut dedikasi dan kontribusinya tetap menjadi bagian sejarah klub.

Namun, perjalanan Rezaldi di Bandung lebih banyak diwarnai ruang perawatan ketimbang konsistensi di lapangan. Ia pernah dicap sebagai salah satu bek kiri terbaik Indonesia, tetapi tubuhnya terus “membayar” kerasnya kompetisi.

Data penampilan menunjukkan pola yang tajam: Rezaldi tampil 38 kali di liga selama 3,5 tahun bersama Persib. Rinciannya 12 laga pada musim kedatangan, 25 laga pada Liga 1 2023/24, lalu anjlok menjadi masing-masing 1 laga pada Liga 1 2024/25 dan Super League 2025/26.

Penurunan itu bukan sekadar statistik, melainkan indikator hilangnya keandalan dalam perencanaan skuad. Di pertengahan Super League 2025/26, ia dipinjamkan ke Persik Kediri dan hanya bermain 7 kali, sebuah angka yang tetap tidak cukup untuk menghapus keraguan soal kebugaran jangka panjang.

Riwayat cederanya berat dan berulang, mulai dari robek ligamen lutut, masalah tendon achilles dan tumit, hingga kerusakan tulang rawan lutut. Artikel ini juga menegaskan bahwa bahkan di Persija, Rezaldi disebut tidak pernah bisa menuntaskan satu musim penuh tanpa gangguan cedera.

Di level klub, keputusan melepas pemain seperti ini sering tampak dingin, tetapi logis dalam industri yang menuntut kepastian. Persib sedang merapikan struktur skuad, dan Rezaldi menjadi nama ke-7 yang dilepas setelah Federico Barba, Sergio Castel, Alfeandra Dewangga, Adam Przybek, Zulkifli Lukmansyah (loan), dan Robi Darwis.

Kasus Rezaldi adalah cermin kerasnya sepak bola modern, ketika bakat tidak cukup tanpa ketersediaan bermain yang stabil. Klub tidak bisa membangun proyek musim penuh dengan variabel utama yang terus berubah, sementara pemain pun tidak bisa menunjukkan nilai terbaiknya ketika tubuh menolak diajak kompromi.

Namun, narasi “cuci gudang” juga layak dibaca sebagai strategi komunikasi, bukan sekadar strategi teknis. Ia memberi kesan Persib sedang bergerak cepat dan tegas, meski publik tetap berhak bertanya apakah perombakan besar ini disertai peta kebutuhan yang presisi, bukan reaksi sesaat.

Pernyataan Adhitia Putra Herawan terdengar elegan, “Rezaldi akan selalu menjadi bagian dari perjalanan sejarah klub,” tetapi sejarah juga menyimpan pelajaran tentang manajemen risiko. Ketika klub merekrut pemain dengan rekam cedera panjang, pertanyaannya bergeser: seberapa kuat mitigasi medis, beban latihan, dan rencana rotasi untuk melindungi aset?

Persib Bandung melepas Rezaldi Hehanussa karena satu hal yang tidak bisa dinegosiasikan dalam kompetisi panjang: ketersediaan. Di balik ucapan “hatur nuhun,” ada realitas bahwa sepak bola adalah pekerjaan yang menuntut tubuh hadir, bukan hanya nama besar dan ingatan masa lalu.

Rezaldi tetap bisa memulai ulang, tetapi sepak bola Indonesia juga perlu belajar: karier bisa runtuh bukan karena kurang bakat, melainkan karena sistem pencegahan cedera yang belum cukup kuat. Pada akhirnya, perombakan skuad Persib menantang kita untuk merenung, apakah klub-klub kita sudah membangun budaya performa yang manusiawi, atau masih sekadar mengganti bagian yang rusak tanpa memperbaiki mesin?

(Orbit dari berbagai sumber, 6 Juli 2026)