Xavier Becerra Calon Gubernur California: Latino, Kekuasaan, dan Ujian
ORBITINDONESIA.COM – Dekorasi meja bergaya lotería di sebuah acara Los Angeles menarasikan ambisi Xavier Becerra menuju kursi gubernur California, lengkap dengan kartu “El Gobernador”. Namun Becerra justru menolak menjadikan identitas Latino sebagai bahan bakar kampanye, meski banyak pemimpin Hispanik melihatnya sebagai momen bersejarah.
Artikel sumber menggambarkan Becerra sebagai putra imigran Meksiko yang naik dari “El Congresista” ke “El Fiscal General” hingga “El Secretario de Salud”. Ia disebut favorit kuat mengalahkan Steve Hilton, kandidat Republik yang didukung Presiden Trump, di negara bagian yang sangat Demokrat.
Jika menang, Becerra akan menjadi gubernur Latino pertama California sejak 1875. Simbolisme ini kontras dengan luka politik era 1994, ketika Gubernur Pete Wilson menayangkan iklan re-eleksi yang menampilkan migran berlari dari Meksiko dengan narasi “They keep coming.”
Iklan itu membantu Wilson menang, tetapi dikritik rasis saat populasi Latino tumbuh pesat. Dari periode itulah lahir generasi aktivis yang kemudian menjadi pemimpin Demokrat, sementara kini Latino memegang posisi penting seperti senator senior negara bagian dan dua pimpinan legislatif.
Becerra bukan tipikal politisi yang membangun karier lewat politik jalanan. Ia lebih dikenal sebagai pengacara kalem yang bekerja di lorong kekuasaan, lalu memoles reputasi sebagai “insider” yang aman dan rapi.
Lou Correa merangkum paradoks itu: Becerra “tidak membungkus dirinya dengan bendera Meksiko,” tetapi juga tidak menyembunyikan asal-usulnya. Di titik ini, strategi Becerra tampak jelas, merangkul sejarah tanpa terjebak pada retorika identitas yang mudah dipolitisasi lawan.
Lahir 1958 dan besar di Sacramento, Becerra membawa narasi mobilitas kelas pekerja. Ayahnya pekerja konstruksi, ibunya staf administrasi, dan ia menempuh Stanford dengan beasiswa, lalu menikahi Dr. Carolina Reyes yang kini dokter spesialis kehamilan risiko tinggi.
Ia terpilih ke DPR AS pada 1992 dan bertahan lebih dari dua dekade. Pada 2016, ia sudah memimpin Congressional Hispanic Caucus dan menjadi petinggi Demokrat peringkat keempat, bahkan sempat disebut kandidat ketua DPR.
Namun jalurnya berbelok ketika Jerry Brown menunjuknya sebagai Jaksa Agung California pada akhir 2016. Brown mengaku mempertimbangkan sekitar selusin nama dan menilai CV Becerra paling kuat, dengan dua gelar Stanford dan pengalaman sebagai deputy attorney general.
Brown menegaskan warisan Latino bukan faktor utama, tetapi ia mengakui perlunya pemerintahan yang mencerminkan demografi. Ia mengingatkan, “California is changing,” sambil menilai berbahaya jika pemilihan jabatan semata berdasar ras, etnis, atau gender.
Kolaborasi Brown-Becerra melawan kebijakan pemerintahan Trump pertama memperbesar profil Becerra. Mereka mempertahankan sanctuary law dan membantu melindungi Dreamers, sementara Becerra mengakui latar keluarganya memberi “passion and personal interest” meski bukan penentu strategi hukum.
Ketika Joe Biden menang pada 2020, Becerra diangkat menjadi Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS). Robert Rivas, Ketua DPRD California, bahkan mengaku pernah mendorong Becerra pulang untuk maju sebagai gubernur, dengan alasan “dia mencentang semua kotak,” termasuk fakta bahwa ia Latino.
Di sisi lain, serangan politik juga mengikuti. Gloria Romero, kandidat Republik untuk wakil gubernur, menyebut pengangkatannya sebagai HHS sebagai “D.E.I. appointment,” menuduh Biden “butuh Latino untuk melengkapi kabinet.”
Romero juga menilai Becerra gagal merespons lonjakan anak migran tanpa pendamping yang kemudian hidup dengan sponsor dan bekerja dalam kondisi tidak aman. Becerra membantah, menyatakan anak-anak tidak dieksploitasi saat berada dalam perawatan agensinya dan ia memperbaiki masalah warisan era Trump, sembari menyebut tuduhan “D.E.I. hire” sebagai pola berulang di setiap posisinya.
Menariknya, momentum Becerra juga datang di tengah “tahun razia imigrasi” yang banyak menargetkan Latino, serta “kejatuhan Cesar Chavez,” tokoh ikonik Latino dalam artikel sumber. Kampanyenya memadukan bahasa Inggris-Spanyol, dan timnya bahkan memelihara citra “paman membosankan” lewat meme “Tío Xavier” untuk membuatnya terasa dekat.
Dalam kampanye menolak Proposition 39 yang akan mewajibkan identifikasi tambahan untuk memilih, Becerra menonjolkan risiko “disenfranchise” pemilih baru. Ia menyebut ibunya, warga negara naturalisasi asal Meksiko, dalam pidato dwibahasa: “Saya ingin memastikan saya melindungi hak pilih ibu saya.”
Meski jarang mengusung isu Latino secara eksplisit, ia hampir selalu memanggil sejarah keluarganya di panggung publik. Ini adalah formula yang hati-hati, cukup personal untuk autentik, tetapi cukup universal untuk merangkul pemilih kelas pekerja lintas etnis.
Senator Alex Padilla, juga putra imigran Meksiko, memberi catatan keras pada euforia representasi. “Representation is great,” katanya, tetapi ia menekankan masih banyak pekerjaan karena banyak warga Latino tetap bergulat dengan kemiskinan tinggi dan pendidikan rendah.
Di sinilah problem kampanye Becerra menjadi relevan: artikel sumber menyebut kampanyenya “light on policy proposals.” Ia lebih mengandalkan rekam jejak dan slogan “a working-class governor,” yang memang resonan, tetapi belum otomatis menjawab soal biaya hidup, sekolah, dan mobilitas ekonomi.
Kekuatan utama Becerra justru ada pada ketidak-heroikannya. Ia bukan simbol perlawanan yang meledak-ledak, melainkan birokrat-politikus yang membaca risiko, memahami lembaga, dan tahu cara menang dalam negara bagian Demokrat.
Namun California tidak hanya butuh kemenangan simbolik atas bayang-bayang Pete Wilson. California butuh pembuktian bahwa representasi bisa mengubah struktur peluang, bukan sekadar menambah daftar “yang pertama” dalam buku sejarah.
Tuduhan “D.E.I. hire” memang sering dipakai untuk meremehkan kompetensi figur minoritas. Tetapi bantahan paling efektif bukan debat identitas, melainkan agenda yang terukur, target yang jelas, dan kebijakan yang bisa diuji publik.
Jika Becerra terus bermain aman, ia mungkin menang, tetapi berisiko memimpin tanpa mandat perubahan yang kuat. Dan ketika kemiskinan, pendidikan, serta isu pemilih baru tak tersentuh kebijakan konkret, simbol “El Gobernador” bisa terasa seperti kartu terakhir yang indah, tetapi kosong.
Kisah Xavier Becerra memperlihatkan California yang bergerak dari politik ketakutan 1990-an menuju politik representasi hari ini. Tetapi representasi hanya pintu masuk, bukan garis finis, karena kehidupan kelas pekerja menuntut lebih dari sekadar narasi asal-usul.
Pertanyaan besarnya sederhana: setelah menjadi “El Gobernador,” apakah Becerra akan berani mengisi simbol itu dengan program yang memotong kemiskinan, memperkuat pendidikan, dan melindungi hak pilih. Jika tidak, kemenangan historis bisa berubah menjadi kesempatan yang terlewat, dan sejarah akan menagihnya. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)