Satgas Guru Besar Prabowo: Academic Freedom dan Arah Kebijakan

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Satgas guru besar diminta Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat kebijakan strategis kementerian, dari riset hingga inovasi industri. Perintah itu disampaikan dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri 2026 di JCC Senayan, saat 2.600 rektor, dekan, dan dosen berkumpul mendengar target-target pemerintah.

Indonesia berulang kali menghadapi jurang antara rencana besar negara dan kapasitas eksekusi di lapangan. Di titik inilah satgas guru besar dan dosen ditawarkan sebagai jembatan cepat antara pengetahuan kampus dan kebutuhan kementerian teknis.

Mendikti Saintek Brian Yuliarto menyebut satgas akan diisi guru besar, dosen, dan peneliti perguruan tinggi maupun BRIN untuk mengkaji bersama kementerian terkait. Dalam logika pemerintah, koordinasi yang lebih rapat diyakini dapat memotong waktu, mengurangi miskomunikasi, dan mempercepat capaian.

Namun sejarah kebijakan publik menunjukkan bahwa “membentuk satgas” sering menjadi solusi instan yang hasilnya tidak selalu terukur. Tanpa mandat yang jelas, satgas bisa berubah menjadi forum rapat yang menghasilkan rekomendasi, tetapi tidak mengubah keputusan anggaran dan prioritas program.

Prabowo menekankan sains, teknologi, riset, dan inovasi sebagai pondasi kemajuan bangsa. Pernyataan itu selaras dengan tren global, ketika negara-negara yang meningkatkan belanja R&D dan memperkuat transfer teknologi cenderung lebih tahan terhadap guncangan ekonomi.

Dalam forum tiga hari itu, sejumlah menteri memaparkan target dan berdiskusi intensif, menurut Brian. Format ini memberi sinyal bahwa pemerintah ingin kebijakan lebih “evidence-based”, bukan sekadar berbasis intuisi politik.

Masalahnya, evidence-based policy membutuhkan data terbuka, indikator kinerja, dan mekanisme evaluasi yang konsisten. Jika satgas tidak punya akses data kementerian, atau rekomendasinya tidak mengikat proses penganggaran, maka kecepatan yang dijanjikan hanya menjadi slogan.

Satgas juga berpotensi menjadi kanal baru bagi BRIN dan kampus untuk menyelaraskan agenda riset dengan kebutuhan industri dan layanan publik. Tetapi penyelarasan bukan berarti penyeragaman, karena inovasi justru sering lahir dari riset yang tampak “tidak langsung berguna” pada awalnya.

Di banyak negara, kolaborasi pemerintah-kampus efektif ketika ada kontrak tujuan yang spesifik, misalnya peta jalan teknologi, target paten yang realistis, atau proyek percontohan yang bisa diukur dampaknya. Tanpa itu, kolaborasi mudah terjebak pada seremoni, konferensi, dan dokumen yang tidak pernah menjadi prototipe.

Bagian paling sensitif dari gagasan satgas guru besar adalah relasinya dengan academic freedom. Prabowo, melalui Brian, menegaskan perguruan tinggi adalah tempat kebebasan akademik, tempat gagasan diuji dan diperdebatkan.

Kalimat itu penting, tetapi belum cukup sebagai jaminan. Ketika satgas ditempatkan “terkait kementerian teknis”, ada risiko halus bahwa kampus didorong menjadi perpanjangan tangan program pemerintah, bukan mitra kritis yang setara.

Di sisi lain, pemerintah juga benar ketika mengatakan “the brightest people” banyak berkumpul di kampus. Potensi itu sering tidak terpakai karena birokrasi riset, insentif publikasi yang tidak nyambung dengan kebutuhan nasional, serta minimnya ruang uji coba di industri dan layanan pemerintah.

Karena itu, satgas akan bernilai jika ia menjadi ruang transaksi yang sehat antara ilmu dan kebijakan. Kampus memberi kritik berbasis data, sementara kementerian memberi akses masalah nyata, pendanaan yang transparan, dan keberanian mengubah desain program jika bukti tidak mendukung.

Kunci lainnya adalah tata kelola, bukan sekadar nama besar. Satgas perlu target yang terukur, tenggat waktu, publikasi ringkasan rekomendasi, dan mekanisme konflik kepentingan agar tidak berubah menjadi klub elit yang jauh dari publik.

Satgas guru besar ala Prabowo dapat menjadi akselerator, tetapi juga bisa menjadi simbol jika tidak ditopang mandat, data, dan disiplin evaluasi. Academic freedom harus hidup bukan hanya dalam pidato, melainkan dalam kebijakan yang melindungi kritik kampus saat kritik itu tidak nyaman.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana dan menentukan. Apakah satgas ini akan melahirkan keputusan yang lebih cerdas dan terukur, atau hanya menambah satu lapis koordinasi baru di atas masalah lama eksekusi?

(Orbit dari berbagai sumber, 6 Juli 2026)