Hasil Primary AS: Pilkada California, Iowa, dan Peta Kekuasaan 2026
ORBITINDONESIA.COM – Primary AS digelar serentak di enam negara bagian pada Selasa, dengan sorotan terbesar ke California dan Iowa. Di California, sistem top-two primary membuat dua peraih suara terbanyak—bahkan dari partai yang sama—melaju ke surat suara November.
California memasuki fase transisi karena Gubernur Gavin Newsom tak bisa maju lagi akibat batas masa jabatan. Perebutan tiket menuju November menjadi liar setelah Kamala Harris dan Alex Padilla memilih tidak ikut bertarung.
Los Angeles juga menjadi panggung pertaruhan citra, ketika Wali Kota petahana Karen Bass diserang dari berbagai arah. Sistem nonpartisan kota itu menuntut mayoritas 50%, atau dua teratas maju ke putaran kedua November.
Di tingkat nasional, primary ini bukan sekadar seleksi kandidat. Ini adalah tes arah politik pasca-2024, saat ekonomi, biaya hidup, dan perang dagang-bayangan masih menghantui narasi kampanye.
Artikel sumber menekankan betapa besar dampak desain pemilu, terutama sistem top-two California. Sistem itu bisa menciptakan duel sesama Demokrat atau sesama Republik, sekaligus menyingkirkan partai lain dari panggung final.
Dalam pilgub California, keluarnya Eric Swalwell—setelah mundur dan melepas kursi DPR pada April di tengah tuduhan kekerasan seksual—mengubah peta. Xavier Becerra, mantan menteri kesehatan era Biden, disebut melonjak setelah sebelumnya tertinggal dalam survei dan penggalangan dana.
Tom Steyer, miliarder Demokrat, menanjak lewat strategi belanja iklan masif. Menurut AdImpact, ia menghabiskan lebih dari 195 juta dolar untuk iklan TV, kabel, dan radio, menjadikannya kampanye iklan politik termahal tahun ini.
Konsekuensinya jelas: serangan Becerra dan Steyer makin keras, dan berpotensi makin brutal bila November berisi dua Demokrat. Ini bukan hanya soal ideologi, tetapi juga soal siapa yang paling mampu menguasai ruang atensi publik.
Katie Porter yang sempat dianggap unggulan awal melemah setelah dua insiden viral, termasuk momen gagap menjawab reporter CBS Sacramento dan video lama memarahi staf. Namun survei Emerson College menyebut Porter memimpin di kalangan independen, sebuah modal penting dalam sistem top-two.
Di sisi Republik, California tetap medan berat karena Demokrat unggul rasio 2 banding 1 dan belum ada Republik menang jabatan tingkat negara bagian sejak Arnold Schwarzenegger pada 2006. Steve Hilton, manajer hedge fund kelahiran Inggris yang didukung Donald Trump, konsisten berada di tiga besar survei.
Ketegangan GOP muncul karena risiko “suara pecah” antara Hilton dan Chad Bianco. Bianco, sheriff Riverside County dan sekutu MAGA, sempat jadi berita nasional setelah menyita surat suara dari kantor pemilu dengan dalih “misi pencarian fakta,” meski tak ada bukti penyimpangan.
Newsom merespons dengan menandatangani aturan darurat yang melarang penyerahan surat suara atau alat pemilu kepada penegak hukum tanpa perintah pengadilan. Langkah itu menunjukkan betapa isu integritas pemilu kini menjadi alat politik, bukan sekadar prosedur administrasi.
Fakta lain yang mencolok adalah jumlah kandidat di California: ada 61 nama pada surat suara yang telah disertifikasi, menurut CBS News dan CalMatters. Kepadatan ini memperbesar peran iklan, viralitas, dan identifikasi nama, bukan semata kualitas program.
Di Los Angeles, Spencer Pratt—bintang reality show “The Hills”—mencoba menggulingkan Karen Bass. Kampanyenya melejit lewat strategi iklan viral tentang tunawisma dan kisah keluarganya yang kehilangan rumah dalam kebakaran Pacific Palisades 2025.
Namun Pratt juga diterpa kontroversi setelah mengklaim “di sinilah saya tinggal” di depan trailer Airstream, sementara TMZ melaporkan ia tinggal di Bel-Air Hotel. Bass diserang karena berada di luar negeri saat kebakaran 2025, ditambah kritik atas pemulihan dan kebijakan tunawisma.
Ancaman lain bagi Bass datang dari Nithya Raman, anggota dewan kota yang mengusung garis demokrat-sosialis dan fokus pada tunawisma. Poll UC Berkeley–LA Times 28 Mei menunjukkan pertarungan ketat: Bass 26%, Raman 25%, Pratt 22%.
Di Kongres, California dibayangi Proposition 50 yang didorong Newsom untuk menggambar ulang distrik agar menguntungkan Demokrat hingga lima kursi baru. Saat ini California memiliki sembilan anggota DPR dari Partai Republik, dan Cook Political Report hanya menilai satu distrik baru aman bagi GOP.
Di Iowa, pilgub terbuka pertama dalam dua dekade memicu pertarungan internal Republik. Randy Feenstra dianggap unggulan, didukung Joni Ernst dan mendapat endorsment Trump pada menit terakhir sebagai “MAGA all the way.”
Zach Lahn membawa slogan populis “Iowa First” dan mengklaim dukungan MAHA Action yang terkait Robert F. Kennedy Jr., serta Turning Point Action. Adam Steen didukung kelompok konservatif sosial seperti The Family Leader yang dipimpin kingmaker Bob Vander Plaats.
Aturan Iowa juga unik: bila tak ada kandidat Republik meraih 35%, delegasi konvensi negara bagian pada 13 Juni yang menentukan. Ini membuat strategi “cukup menang tipis” lebih penting daripada menang telak.
Di pemilu umum, kandidat GOP akan menghadapi Auditor Negara Bagian Rob Sand yang maju tanpa lawan di Demokrat. Sand adalah satu-satunya Demokrat yang memegang jabatan tingkat negara bagian di Iowa, dan ia memiliki kas kampanye hampir 18,3 juta dolar, dibantu donasi besar dari keluarga istrinya.
Meski Iowa makin merah—Trump menang 13 poin pada 2024 dan Kim Reynolds menang 18 poin pada 2022—artikel menilai ada hambatan bagi GOP. Ketidakpuasan pada ekonomi, dampak perang dagang terhadap impor kedelai China, serta harga bahan bakar dan pupuk akibat perang Iran, menciptakan ruang bagi kejutan.
Cook Political Report menilai pilgub Iowa sebagai toss-up, sementara Center for Politics Universitas Virginia menilai condong ke GOP. Perbedaan penilaian ini menggambarkan rapuhnya prediksi ketika ekonomi menjadi isu dominan.
Di Iowa, perebutan kursi Senat juga menampilkan polarisasi strategi Demokrat. Josh Turek menawarkan pendekatan “kemenangan elektoral” dengan fokus ekonomi di distrik yang mendukung Trump, sementara Zach Wahls menonjolkan sikap anti-kemapanan dan bahkan berjanji tidak mendukung Chuck Schumer sebagai pemimpin bila terpilih.
Negara bagian lain menambah konteks nasional: New Jersey, Montana, South Dakota, dan New Mexico juga menggelar kontestasi penting. Ada pula sorotan pada Rep. Tom Kean di New Jersey yang tak memberikan suara di Kongres sejak 5 Maret karena “masalah medis pribadi,” memicu spekulasi dan tekanan politik.
Primary AS kali ini memperlihatkan satu pola yang makin telanjang: politik modern digerakkan oleh desain sistem dan ekonomi atensi. Ketika 61 nama bersaing di satu surat suara, pemilih bukan hanya menilai program, tetapi juga mengingat siapa yang paling sering muncul di layar.
Sistem top-two California menjanjikan moderasi, tetapi juga bisa menghasilkan kompetisi intra-partai yang lebih kasar daripada duel lintas partai. Serangan Becerra–Steyer, serta kekhawatiran GOP soal “suara pecah,” menunjukkan sistem ini mendorong taktik eliminasi, bukan koalisi gagasan.
Kasus Bianco yang menyita surat suara, lalu dibalas aturan darurat Newsom, menegaskan bahwa isu pemilu kini menjadi medan simbolik. Bukan lagi sekadar “mengamankan suara,” melainkan memproduksi narasi: siapa yang dianggap menjaga demokrasi dan siapa yang dituduh mengganggunya.
Di Los Angeles, kemunculan Spencer Pratt menandai normalisasi selebritas sebagai kendaraan politik saat krisis tunawisma makin akut. Ketika kebakaran 2025 menjadi bahan kampanye, tragedi publik berubah menjadi modal elektoral yang diperebutkan.
Iowa menunjukkan sisi lain: uang kampanye dan ketidakpuasan ekonomi bisa mengganggu tren “negara bagian merah permanen.” Namun besarnya dana Rob Sand juga mengingatkan bahwa kompetitif tidak selalu berarti akar rumput kuat, karena struktur donor dapat membentuk persepsi “momentum.”
Rangkaian primary ini menguji apakah pemilih masih memilih berdasarkan rekam jejak, atau lebih sering mengikuti iklan, viralitas, dan ketakutan akan “kandidat yang salah.” California dan Iowa sama-sama memperlihatkan bahwa aturan pemilu dan ekonomi rumah tangga bisa mengalahkan ideologi sebagai penentu hasil.
Jika November nanti menghadirkan duel sesama Demokrat di California, atau kejutan kompetitif di Iowa, pesan utamanya sederhana: demokrasi bukan hanya soal siapa yang paling populer, tetapi juga soal sistem yang menentukan siapa yang boleh bertarung. Pertanyaannya, apakah publik siap menuntut perbaikan desain pemilu, atau akan terus menerima politik sebagai tontonan mahal yang memecah-belah?
(Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)