JABFest 2026 Yogyakarta: Saksi Mata Lawan Pendangkalan Publik
ORBITINDONESIA.COM – JABFest 2026 Yogyakarta mengusung tema “Saksi Mata: Ketika Pendangkalan Berkuasa, Pendalaman Harus Bekerja” di The Ratan pada 30 September–12 Oktober 2026. Ketua Program JABFest, Dodo Hartoko, menegaskan, “Literasi bukan ruang kosong, melainkan ruang tanya.”
Jogja Art + Books Festival memasuki tahun keempat dengan ambisi lebih dari sekadar perayaan seni dan buku. Ia menawarkan ruang temu antara seni rupa, literasi, musik, dan pemikiran kritis selama 13 hari, dari pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.
Tema festival diambil dari cerpen “Saksi Mata” karya Seno Gumira Ajidarma. Pilihan ini menempatkan kesaksian, kebenaran, dan ingatan kolektif sebagai pusat percakapan, bukan sekadar hiasan kuratorial.
Di ruang publik, pendangkalan sering tampil sebagai jalan pintas yang nyaman dan cepat menyebar. Festival ini membaca situasi itu sebagai risiko sosial, ketika opini mengalahkan pengetahuan dan sensasi mengalahkan empati.
Rangkaian agenda JABFest 2026 mencakup pameran seni rupa, diskusi buku, pidato kebudayaan, kuliah umum, pertunjukan musik, pemutaran film, dan bazar buku. Format lintas medium ini penting karena pendangkalan informasi juga bekerja lintas platform, dari panggung ke layar.
Dodo Hartoko menyebut literasi sebagai “ruang tanya” yang membuat orang “digelisahkan bersama.” Kegelisahan itu menjadi perangkat editorial yang memaksa publik menunda kesimpulan, lalu memeriksa konteks, data, dan dampak.
Ayos Purwoaji, Kurator Pameran, menekankan karya seni dan sastra sebagai dokumentasi atas persoalan masyarakat. Dalam logika ini, pameran bukan hanya etalase estetika, melainkan arsip sosial yang menahan lupa.
Ketika kesaksian dipertanyakan, seni dapat bekerja sebagai catatan alternatif yang menyimpan detail-detail kecil yang sering dihapus oleh narasi besar. Sastra, seperti cerpen “Saksi Mata,” juga mengajarkan bahwa kebenaran publik kerap lahir dari serpihan pengalaman, bukan dari slogan.
JABFest menghidupkan kembali fungsi kebudayaan sebagai alat baca sosial-politik, bukan sekadar hiburan. Pertemuan seni rupa dan literasi memberi cara pandang ganda: visual yang menggugah dan teks yang menguji.
Di banyak peristiwa sosial, masalahnya bukan kurangnya informasi, melainkan banjir informasi tanpa pemahaman. Festival seperti ini mendorong “pendalaman” sebagai kerja kolektif, karena kebenaran jarang selesai dalam satu unggahan atau satu headline.
JABFest 2026 terasa seperti koreksi halus terhadap budaya serba cepat yang menyamakan viral dengan valid. Tema “Saksi Mata” mengingatkan bahwa kesaksian bukan komoditas, melainkan tanggung jawab moral untuk merawat detail dan akibat.
Namun, tantangannya adalah memastikan pendalaman tidak berhenti sebagai jargon festival. Jika diskusi dan pameran tidak terhubung dengan praktik sehari-hari—membaca lebih teliti, memeriksa sumber, dan mendengar yang lemah—maka ia hanya menjadi ritual tahunan.
Di sisi lain, pilihan menghadirkan tokoh sastra, filsafat, penelitian, aktivisme, dan kebudayaan membuka peluang dialog yang jarang terjadi di ruang publik formal. Ini penting karena pendangkalan sering menang ketika disiplin ilmu berjalan sendiri-sendiri dan tidak saling mengoreksi.
JABFest juga menegaskan bahwa seni adalah medium kritik yang tidak selalu nyaman bagi penguasa wacana. Saat masyarakat didorong untuk melupakan pengalaman kolektif, karya-karya yang merekam peristiwa dapat menjadi “saksi” yang menolak amnesia.
JABFest 2026 Yogyakarta menawarkan pesan sederhana yang keras: ketika pendangkalan berkuasa, pendalaman harus bekerja, meski pelan dan melelahkan. Festival ini memposisikan literasi dan seni sebagai latihan kewargaan untuk merawat ingatan, menimbang bukti, dan menguji kata-kata sendiri.
Pertanyaannya tinggal satu: setelah keluar dari ruang pamer dan forum diskusi, apakah kita masih mau menjadi “saksi mata” yang bertanggung jawab, atau kembali menjadi penonton yang mudah puas oleh ringkasan. Di situlah ukuran sesungguhnya dari sebuah festival kebudayaan, bukan pada ramainya agenda, melainkan pada berubahnya cara kita memahami realitas.
(Orbit dari berbagai sumber, 5 Oktober 2026)