Hasyim Arsal Alhabsi: Kodok dalam Tempurung dan Narasi Gosong tentang Syiah

Para pemimpin spiritual Islam Iran, mulai dari Khomeini, Ali Khamenei, dan Mojtaba Khamenei.

Para pemimpin spiritual Islam Iran, mulai dari Khomeini, Ali Khamenei, dan Mojtaba Khamenei.

Opini

Oleh Hasyim Arsal Alhabsi, Dehills Institute

ORBITINDONESIA.COM - Pernah melihat kucing liar panik?

Ia masuk ke sebuah ruangan kecil. Pintu tiba-tiba tertutup. Ia menabrak dinding, melompat ke jendela, mencakar lantai, lalu berputar-putar tanpa arah. Bukan karena ruangan itu berubah, tetapi karena ia tidak sanggup memahami kenyataan yang sedang mengepungnya.

Begitulah kira-kira keadaan sebagian orang ketika berhadapan dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan cerita lama yang mereka pelihara.

Selama bertahun-tahun mereka dicekoki dongeng yang sama: Syiah sesat, Syiah kafir, Syiah pura-pura, Syiah hanya bisa taqiyah, Syiah lahir dari Abdullah bin Saba, Syiah identik dengan mut‘ah, Syiah membantai kaum Muslim di Suriah, dan seterusnya.

Narasi itu diputar terus seperti kaset rusak. Diulang di mimbar, di grup WhatsApp, di video pendek, di majelis kebencian, sampai akhirnya mereka menyangka kebencian itu adalah ilmu.

Masalahnya, kenyataan tidak selalu patuh kepada kebencian.

Syiah yang mereka tuduh pengecut justru berdiri paling depan menghadapi Israel.

Syiah yang mereka tuduh palsu justru bertahan menghadapi gempuran Amerika Serikat dan sekutunya. Syiah yang mereka gambarkan sebagai kelompok kecil menyimpang ternyata mampu melahirkan sebuah peradaban perlawanan yang kokoh, berdisiplin, dan tidak mudah tunduk.

Maka paniklah mereka.

Sebab kenyataan di depan mata menghantam seluruh bangunan cerita yang selama ini mereka rawat. Kebencian yang dahulu terasa manis kini berubah menjadi makanan pahit yang harus mereka telan sendiri.

Peristiwa kolosal pemakaman Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menjadi salah satu hantaman besar itu. Lautan manusia yang hadir bukan sekadar pemandangan politik. Ia adalah tanda bahwa ada akar keyakinan, cinta, kesetiaan, dan memori kolektif yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan tuduhan murahan.

Di titik itulah mereka kembali memuntahkan narasi lama: Suriah, taqiyah, mut‘ah, Abdullah bin Saba, dan segala tuduhan usang lainnya. Bukan karena mereka sedang berargumentasi, tetapi karena mereka sedang kehilangan pegangan.

Padahal tragedi Suriah, misalnya, adalah luka kemanusiaan yang sangat kompleks. Ia tidak bisa diperas menjadi kebencian mazhab semata. Di sana ada perang regional, perebutan pengaruh global, operasi intelijen, kepentingan energi, milisi lintas negara, intervensi asing, dan kehancuran rakyat sipil yang harus dibaca dengan akal sehat serta kejujuran moral.

Tetapi orang yang miskin literasi tidak sanggup membaca kerumitan. Ia membutuhkan kambing hitam. Ia tidak mencari kebenaran, ia mencari pembenaran bagi kebenciannya sendiri.

Mereka seperti kodok dalam tempurung. Mengira langit hanya seluas batok kepala mereka. Ketika dunia memperlihatkan kenyataan yang lebih luas, mereka bukan memperbesar akal, melainkan memperkeras kebencian.

Di sinilah perbedaannya.

Orang berilmu akan bertanya, meneliti, membandingkan, lalu bersikap adil. Tetapi orang yang sudah menjadikan kebencian sebagai agama akan marah kepada kenyataan hanya karena kenyataan itu tidak sesuai dengan prasangkanya.

Syiah tidak perlu dibela dengan teriakan. Ia cukup dibaca dengan jujur.

Sebab semakin mereka menuduh, semakin terlihat bahwa yang runtuh bukan Syiah, melainkan narasi gosong yang selama ini mereka sembah sebagai kebenaran. ***