Literasi Keuangan dan Investasi Sejak Dini Masuk Sekolah
ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan dan investasi sejak dini kembali disuarakan lewat sosialisasi pasar modal yang diikuti 80 pelajar. Di aula sekolah, Duta Pasar Modal BEI Yogyakarta Nur Azisyah Firliana menegaskan, investasi bukan sekadar tren, melainkan kebiasaan yang menentukan masa depan finansial.
Program unggulan Kelompok 53 itu berangkat dari kegelisahan yang nyata. Banyak remaja akrab dengan gaya hidup konsumtif, tetapi asing dengan cara mengelola uang secara bijak.
Di sisi lain, tekanan ekonomi tidak menunggu orang dewasa. Inflasi membuat biaya hidup cenderung naik, sehingga keterampilan mengatur uang menjadi kebutuhan dasar, bukan pengetahuan tambahan.
Azisyah menjelaskan investasi sebagai kegiatan menempatkan uang atau modal pada aset dengan harapan nilai bertumbuh di masa depan. Ia juga membedakan menabung yang fokus menyimpan uang dengan investasi yang memberi peluang pertumbuhan nilai aset.
Penekanan soal inflasi bukan sekadar teori. Bank Indonesia mencatat inflasi Indonesia pada 2024 berada di kisaran 2,61% (year-on-year), yang berarti harga barang terus bergerak naik meski tidak selalu terasa dari hari ke hari.
Dalam konteks itu, seminar tidak berhenti pada ajakan “ayo investasi”. Peserta diajak memahami money management, mulai dari mencatat pengeluaran, menyiapkan dana darurat, hingga menghindari utang yang tidak perlu.
Bagian paling menarik adalah ketika saham diperkenalkan sebagai bukti kepemilikan perusahaan. Peserta diberi gambaran bahwa keuntungan bisa datang dari dividen dan kenaikan harga, tetapi kerugian juga nyata jika keputusan dibuat tanpa analisis.
Di sinilah pendidikan finansial diuji kedalamannya. Jika sekolah hanya memberi slogan “investasi itu penting” tanpa membahas risiko, maka yang lahir bukan investor cerdas, melainkan pemburu cuan yang rapuh.
Data OJK lewat Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional 65,43% dan inklusi 75,02%. Angka itu membaik, tetapi tetap menyisakan jarak antara “tahu” dan “mampu mengambil keputusan keuangan yang benar”.
Sosialisasi seperti ini membantu menutup jarak tersebut, terutama jika diikuti praktik sederhana. Misalnya, simulasi anggaran bulanan pelajar dan diskusi instrumen investasi sesuai profil risiko, bukan sekadar memperkenalkan istilah.
Seminar ini menandai pergeseran penting dalam pendidikan, dari sekadar mengejar nilai akademik menuju kecakapan hidup. Namun literasi keuangan tidak boleh berubah menjadi komersialisasi halus yang mendorong remaja cepat membuka akun investasi tanpa kesiapan.
Kritiknya jelas pada desain program. Materi harus menempatkan dana darurat, kontrol konsumsi, dan tujuan keuangan sebagai fondasi, baru kemudian investasi sebagai alat.
Respons peserta juga menunjukkan tantangan komunikasi publik. Saat Mazaya, siswa kelas XI Akuntansi 2, berkata, “Kakaknya cantik dan ramah,” pujian itu manis, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa daya tarik pemateri tidak boleh mengalahkan ketajaman pesan.
Keberhasilan program seharusnya diukur dari perubahan kebiasaan, bukan tepuk tangan di akhir sesi. Apakah peserta mulai mencatat pengeluaran, mengurangi pembelian impulsif, dan memahami risiko sebelum menaruh uang, itulah indikator yang lebih jujur.
Literasi keuangan dan investasi sejak dini akan terasa manfaatnya jika ia membentuk disiplin, bukan sekadar menambah kosakata finansial. Sekolah, komunitas, dan lembaga pasar modal perlu memastikan anak muda belajar bertanya: untuk apa uang ini, dan risiko apa yang sanggup saya tanggung.
Pada akhirnya, investasi terbaik bagi pelajar mungkin bukan saham pertama, melainkan kebiasaan pertama. Ketika remaja mampu menahan diri, menyusun rencana, dan memahami konsekuensi, mereka sedang membangun kemerdekaan finansial yang sesungguhnya. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Oktober 2026)