Penemuan Paulinella di Kamar Motel Ungkap Asal Usul Fotosintesis

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Penemuan Paulinella di kamar motel murah menjadi berita sains yang mengguncang, karena dua spesies baru mikroba fotosintetik ditemukan dari “laboratorium darurat” seharga 80 dolar. Temuan ini membuka jendela baru untuk menelusuri asal usul kehidupan dan bagaimana fotosintesis kompleks muncul di Bumi.

Dalam sebuah kamar motel di Nags Head, North Carolina, Julia Van Etten diam-diam mengubah ruang 80 dolar menjadi laboratorium sementara. Galon air payau memenuhi dinding, ember berisi rumput rawa menumpuk, dan meja samping ranjang menjadi dudukan mikroskop.

Andrew Willoughby, ahli genom tanaman, datang setelah menempuh perjalanan tiga setengah jam dan sempat terkejut melihat keseriusan “lab” dadakan itu. Bersama John Burns dari Bigelow Laboratory, mereka memburu alga rawa dari tetes air, di tengah suasana sains yang ikut terguncang oleh pembekuan pendanaan federal.

Dalam Journal of Phycology, tim ini melaporkan penemuan dua spesies baru Paulinella, organisme bersel tunggal bersisik dengan gumpalan hijau mirip sosis di dalamnya. Dengan tambahan itu, total spesies Paulinella fotosintetik yang diketahui dunia kini menjadi enam.

Paulinella penting karena hampir semua kehidupan fotosintetik kompleks di Bumi berakar pada satu peristiwa 1,5 miliar tahun lalu. Saat itu, organisme bersel tunggal “menelan” bakteri fotosintetik dan mengubahnya menjadi organel penghasil energi, cikal bakal plastida pada tumbuhan modern.

Namun dua dekade lalu, ilmuwan mengetahui bahwa “penggabungan fotosintetik” itu ternyata terjadi lagi, kali ini pada Paulinella sekitar 100 juta tahun lalu. Karena lebih “muda” secara evolusi, Paulinella memberi peluang mempelajari proses yang pada peristiwa purba sudah terlalu kabur untuk ditelusuri rinci.

Angela Oliverio dari Syracuse University menyebut peristiwa purba itu sulit dipelajari karena terlalu tua, sedangkan pada Paulinella prosesnya seperti “snapshot di tengah jalan.” Ia menekankan, ini “mewakili satu-satunya kasus lain saat ini” di mana peristiwa evolusi kebetulan itu terjadi.

Kesulitan riset Paulinella juga menjelaskan mengapa spesiesnya sedikit tercatat, meski biodiversitas mikroba Bumi amat besar. Paulinella langka, kalah jumlah dari mikroba lain, berukuran kecil, dan tumbuh lambat di laboratorium.

Arthur Grossman dari Carnegie Science bahkan menyindir ritmenya tidak ramah bagi karier akademik. “Tidak ada mahasiswa pascasarjana yang mau mengerjakan organisme yang butuh empat sampai lima hari untuk menggandakan diri; Anda akan dapat Ph.D. dalam 10 tahun,” katanya.

Di sisi lain, kisah ini menunjukkan sains tidak selalu lahir dari fasilitas megah, melainkan dari ketekunan dan jaringan manusia. Van Etten memulai sebagai “couch microscopist” dengan mikroskop 300 dolar di sofa, lalu menemukan titik hijau yang membuatnya berteriak dan mengirim pesan “OMG” kepada pembimbingnya.

Puncak perjalanan terjadi pada 2025 saat kariernya terasa terancam oleh pembekuan pendanaan federal setelah memo kantor anggaran Gedung Putih menahan dana sambil meninjau keselarasan dengan prioritas baru, termasuk penghentian program DEI. National Science Foundation sempat mematikan sistem pembayaran, dan Van Etten terkunci dari fellowship prestisius 60.000 dolar per tahun.

Di tengah ketidakpastian, grup obrolan ratusan ilmuwan berubah menjadi “tali penyelamat” karier. Dari sana, Willoughby masuk ke DM Van Etten, dan kolaborasi lahir bukan dari konferensi, melainkan dari rasa cemas kolektif.

Di motel, Burns menggunakan alat “steampunk” dari bahan 7-Eleven, termasuk sikat gigi yang dilem ke pensil untuk menggeser mikroba. Ia juga memakai mouth pipette, menyedot melalui selang seperti sedotan untuk memisahkan Paulinella dari “sup” organisme lain, membuat Willoughby ternganga.

Willoughby lalu melihat pola sisik yang berbeda arah tumpang tindih, satu searah jarum jam dan satu berlawanan. “Mata segar” itu memicu pertanyaan kunci: apakah mereka melihat dua spesies berbeda, bukan variasi bentuk semata.

Verifikasi datang saat sampel dibawa ke mikroskop elektron dan DNA chromatophore diekstraksi, lalu dikirim ke laboratorium Hwan Su Yoon di Sungkyunkwan University, Korea Selatan. Yoon mengonfirmasi melalui sekuensing DNA bahwa itu memang dua spesies baru, memperkaya peta evolusi fotosintesis kedua di Bumi.

Temuan Paulinella dari kamar motel adalah kritik diam-diam terhadap anggapan bahwa sains hanya maju lewat institusi mapan dan anggaran stabil. Justru ketika pendanaan dibekukan dan karier peneliti limbung, rasa ingin tahu menemukan jalannya lewat kerja lapangan, improvisasi alat, dan solidaritas komunitas.

Namun romantisasi “sains gerilya” juga berbahaya jika membuat publik lupa bahwa riset butuh ekosistem yang sehat. Pembekuan pendanaan yang “sementara” tetap meninggalkan jejak ketakutan, mengganggu eksperimen, dan memaksa peneliti muda bekerja tanpa kepastian, bahkan tanpa gaji.

Dari sisi ilmu, Paulinella menawarkan narasi besar tentang bagaimana kompleksitas biologis muncul melalui simbiosis dan pertukaran gen. Sergio Muñoz-Gómez dari Purdue University menekankan bahwa kehidupan kompleks di Bumi muncul sebagian dengan “mencuri trik metabolik dari bakteri,” dan sebagian ilmuwan menduga pola serupa bisa terjadi bila kita menemukan kehidupan kompleks di tempat lain.

Di sini, Paulinella bukan sekadar mikroba langka, melainkan model untuk memahami koreografi molekuler ketika dua organisme menjadi satu. Jika ilmuwan kelak mampu merekayasa organisme fotosintetik baru, seperti mimpi Yoon untuk meniru “trik yang alam hanya lakukan dua kali,” maka implikasinya menyentuh bioteknologi, pangan, hingga energi.

Van Etten dan Willoughby kini menggandeng citizen scientist dan penghobi untuk mencari lebih banyak spesies Paulinella, memperluas pencarian dari laboratorium formal ke komunitas. Pesannya jelas, pengetahuan bisa lahir dari tetes air rawa, selama ada mata yang tekun dan jaringan yang saling menopang.

Pada akhirnya, kamar motel 80 dolar itu mengingatkan bahwa asal usul kehidupan tidak selalu terungkap di gedung marmer, melainkan di tempat-tempat yang tak terduga. Jika satu organisme kecil bisa mengubah cara kita memahami fotosintesis, pertanyaannya: berapa banyak “asal-usul” lain yang menunggu ditemukan, asalkan kita tidak mematikan sains dengan ketidakpastian yang dibuat manusia.

(Orbit dari berbagai sumber, 28 September 2026)