Uji Orbit Starship SpaceX: Roket Terkuat Bidik Reusabilitas
ORBITINDONESIA.COM – Uji orbit Starship SpaceX kembali memanaskan persaingan antariksa, ketika roket raksasa milik Elon Musk dijadwalkan mengitari Bumi dan mendarat aman sekitar 10 jam kemudian. Jika berhasil, uji orbit Starship ini bukan sekadar tontonan, melainkan langkah kunci menuju roket reusable untuk misi Bulan Artemis dan ambisi Mars.
Setelah lebih dari 40 bulan penerbangan uji, SpaceX menargetkan upaya pertama menempatkan Starship ke orbit Bumi dan mengembalikannya dengan selamat. Peluncuran direncanakan dari Starbase, Texas, paling cepat pukul 08.15 ET pada Senin, 28 September, dengan siaran dimulai sekitar 07.45 ET.
Uji-uji sebelumnya yang mencapai ruang angkasa masih bersifat suborbital, terbang naik lalu turun seperti bola yang dilempar. Untuk benar-benar “tinggal” di ruang angkasa, Starship harus melaju menyamping sekitar 17.500 mph agar kelengkungan Bumi “menjauh” pada laju yang sama.
SpaceX menyebut penerbangan terdahulu sengaja memakai lintasan suborbital yang “pasif aman” demi keselamatan publik dan pembelajaran maksimum. “Dengan pergi ke orbit, fase berikutnya pengembangan Starship agar sepenuhnya dan cepat dapat digunakan ulang bisa dimulai,” tulis perusahaan itu.
Uji ini adalah penerbangan ke-14 Starship, sekaligus bab terbaru kampanye panjang menjadikan roket paling kuat yang pernah dibangun sebagai kendaraan angkut berat yang bisa dipakai ulang. Di balik narasi teknis, ada target politik dan industri: mendukung misi Artemis NASA, sekaligus memenuhi prioritas personal Musk untuk mengirim manusia ke Mars.
Secara desain, Starship adalah gabungan booster super-heavy dan wahana antariksa dengan tinggi sekitar 400 kaki. SpaceX menyatakan tumpukan ini menjulang di atas roket Bulan NASA, Space Launch System, dan memiliki kira-kira dua kali daya dorong berkat sekitar 10 juta pon metana cair dan oksigen.
Uji orbit Starship ini juga menguji disiplin operasional, karena jendela peluncuran dibatasi hingga 09.30 ET. Waktu yang sangat pagi dipilih karena pengendali penerbangan menyiapkan hari yang panjang, mengingat misi dirancang berlangsung sekitar 10 jam.
Rencananya Starship mengitari planet enam kali sebelum mendarat air di Samudra Pasifik, di barat Chile. Jika dibandingkan dengan uji-uji yang biasanya selesai sedikit di atas satu jam, profil 10 jam ini adalah stress test pada sistem, kru, dan prosedur.
Di fase awal, wahana akan menyalakan mesin lagi untuk menambah kecepatan dan benar-benar masuk orbit, jika parameter dianggap sehat. Namun tim menyimpan opsi “jalan keluar”, yaitu melewatkan pembakaran itu dan membiarkan lintasan kembali ke Bumi untuk mendarat air di Samudra Hindia bila ada yang tidak meyakinkan.
Saat di orbit, SpaceX akan memantau ribuan titik data dari mesin, komputer, navigasi, tangki bahan bakar, komunikasi, dan sistem lain. Ketinggian orbit yang disebut sekitar 170 mil, berada di bawah Stasiun Luar Angkasa Internasional yang mengorbit sekitar 250 mil di atas Bumi.
Selain soal mengorbit, ada target komersial yang lebih tajam: uji pelepasan satelit internet Starlink. Pada penerbangan Juli, Starship membawa 20 satelit nyata namun tidak dimaksudkan beroperasi dan akhirnya terbakar saat masuk atmosfer.
Kali ini, Starship akan mencoba melepas 26 satelit Starlink V3 dan benar-benar mengaktifkannya. SpaceX menyebut bila semua berjalan baik, satelit itu bisa masuk layanan dalam beberapa minggu, dengan tiga antena dipasangi kamera untuk merekam uji dan mengamati heatshield.
Puncak risikonya ada di akhir misi, ketika Starship harus menyalakan mesin sekali lagi untuk keluar dari orbit dan menembus atmosfer. Bagian ini menuntut kombinasi akurasi navigasi, kinerja mesin, dan ketahanan pelindung panas yang selama ini menjadi “gerbang” bagi roket reusable.
Uji orbit Starship SpaceX adalah pertaruhan reputasi sekaligus pertaruhan model bisnis. Publik sering terpaku pada ledakan atau keberhasilan peluncuran, padahal yang sedang diperebutkan adalah kemampuan “mengulang” penerbangan dengan biaya lebih rendah.
Jika Starship bisa mengorbit, mengelola panas saat reentry, lalu kembali terkendali, SpaceX memperkuat argumen bahwa roket raksasa bukan hanya mungkin, tetapi ekonomis. Namun jika gagal, bukan berarti program runtuh, melainkan mengingatkan bahwa reusabilitas skala super-heavy adalah medan yang belum selesai dipetakan.
Keputusan membawa misi hingga enam putaran dan memasukkan pelepasan Starlink V3 menunjukkan strategi ganda: uji teknis sekaligus demonstrasi utilitas. Di titik ini, batas antara eksperimen dan operasi komersial makin kabur, dan itu menimbulkan pertanyaan tentang akuntabilitas serta standar keselamatan publik.
Di sisi lain, keterlibatan tujuan NASA lewat Artemis membuat hasil uji ini berdampak lebih luas daripada sekadar ambisi perusahaan. Ketika satu roket menjadi tumpuan banyak agenda, kegagalan kecil dapat memantul menjadi penundaan besar pada jadwal eksplorasi.
Pada akhirnya, uji orbit Starship adalah cerita tentang kecepatan, risiko, dan kesabaran rekayasa. Starship harus membuktikan bahwa terbang menyamping 17.500 mph, memantau ribuan data, melepas satelit, lalu pulang dengan selamat bukanlah kebetulan.
Jika berhasil, kita menyaksikan lahirnya “kendaraan angkut” antariksa yang bisa dipakai ulang dengan ritme cepat, yang akan mengubah ekonomi peluncuran. Jika belum, publik tetap mendapat pelajaran penting: masa depan antariksa dibangun bukan oleh satu momen heroik, melainkan oleh serangkaian uji yang jujur pada batas kemampuan teknologi.
(Orbit dari berbagai sumber, 28 September 2026)