Film Artificial OpenAI: Kontroversi Sam Altman dan Konflik Big Tech

The Hollywood Reporter

The Hollywood Reporter

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Film Artificial tentang OpenAI, Sam Altman, dan Ilya Sutskever mendadak jadi rebutan setelah Amazon MGM mundur sebagai perilis. Neon mengambilnya lewat skema tak lazim: tanpa bayar di muka, tapi berkomitmen menggelontorkan pemasaran sekitar US$15 juta.

Di balik transaksi itu, pertanyaan publik mengeras menjadi satu keyword besar: konflik kepentingan Big Tech terhadap seni. Luca Guadagnino dan Andrew Garfield menyebut iklim industri hari ini membuat kebebasan bercerita terasa makin rapuh.

Kisahnya dimulai pukul enam pagi di Century City, saat para eksekutif Neon dipanggil untuk pemutaran rahasia di kantor CAA. Mereka tidak tahu film apa yang akan diputar, sampai layar menampilkan Artificial, film provokatif tentang kelahiran OpenAI dan dua pendirinya.

Amazon MGM sebelumnya mengembangkan proyek ini, namun memilih tidak merilisnya meski film sudah jadi. Di saat yang sama, Amazon disebut telah mengumumkan rencana investasi US$50 miliar ke OpenAI beberapa bulan sebelum keputusan penjualan film itu.

Rumor lalu beredar: apakah filmnya buruk, terlalu mahal, atau justru terlalu berbahaya secara politis-bisnis. Angkanya ikut menambah panas, karena bujet film disebut mencapai sekitar US$40 juta.

Neon menjadi studio pertama yang menonton, disusul pemain besar lain seperti Netflix, Searchlight, dan A24. Hasilnya janggal, karena mayoritas akhirnya mundur, kecuali Neon dan Mubi yang tetap berminat.

Artificial terasa menohok karena hadir di saat para pemimpin OpenAI dan perusahaan sejenis justru memperingatkan percepatan AI generatif. Dalam beberapa pekan terakhir, seruan untuk memperlambat pengembangan demi keselamatan kembali terdengar di ruang publik.

Film ini melacak dekade kehidupan Ilya dan Sam, dari optimisme era Obama hingga ketegangan era Trump dan Biden. Beberapa dialog yang berlatar tahun-tahun lampau disebut “menggema” dengan tajuk berita sebulan terakhir, sehingga relevansinya tampak mengganggu.

Skenario ditulis Simon Rich, komedian dan alumnus Saturday Night Live, lalu diarahkan Guadagnino yang dikenal lincah berpindah genre. Sumber produksi menyebut versi awal naskah lebih komedik, sementara versi final berubah menjadi komedi gelap yang makin sinis saat Sam mengambil alih narasi.

Secara visual, Guadagnino memilih estetika analog: syuting 35mm dengan gerak kamera yang hidup. Kontrasnya sengaja, karena drama banyak terjadi di ruang kantor Big Tech yang mengilap dan direka ulang dengan presisi.

Garfield membangun Altman bukan sekadar tiruan, melainkan transformasi yang menghantui. Guadagnino menyebut prostetik sempat terasa “konyol”, sampai gerak leher, cara berjalan, dan strategi cahaya membuat kemiripan itu “uncanny”.

Di sisi legal, tim film memakai penasihat hukum eksternal agar setiap klaim “tahan uji”. Produser Jennifer Fox menegaskan, “Semua yang kami katakan di film sudah diverifikasi dan bisa dibuktikan dua kali,” karena tanpa itu perusahaan tidak akan mengizinkan film dibuat.

Proses kreatif juga bergerak mengikuti informasi publik terbaru. Beberapa adegan ditahan karena dianggap “hiperbolik”, sementara adegan lain ditambah untuk menyesuaikan perkembangan fakta, dan mereka memiliki sumber primer di lokasi syuting meski namanya tidak disebut.

Rumor produksi ikut dipatahkan oleh Fox yang menyebut klaim “reshoot besar-besaran” sebagai tidak benar. Dokumen produksi yang ditinjau media menyatakan syuting 34 hari pada September 2025 berjalan sesuai jadwal, dan sumber yang memahami pengawasan Amazon menambahkan film tidak melewati bujet.

Namun ada catatan lain yang lebih sunyi: seorang insider menyebut Amazon membuat film ini “terlalu mahal”. Dalam iklim platform yang makin menghitung risiko reputasi, angka bujet dan potensi gugatan bisa menjadi alasan dingin yang tak pernah diucapkan gamblang.

Di sini konflik kepentingan bukan sekadar gosip, melainkan struktur kekuasaan yang mengatur apa yang boleh diceritakan. Guadagnino menyebutnya “gajah di ruangan”, karena keputusan studio tidak terjadi dalam ruang hampa ketika bisnis mereka bersinggungan dengan Silicon Valley.

Ketika studio dan platform memiliki relasi investasi dengan perusahaan teknologi, kritik terhadap tokoh dan kultur Big Tech otomatis menjadi ranjau. Garfield menyebut sentralisasi kekuasaan dapat memberi “efek mengerikan” pada hidup-matinya seni, karena seniman mulai menebak-nebak batas sebelum berkarya.

Pernyataan Guadagnino tentang Orson Welles terasa seperti alarm sejarah. Jika Citizen Kane sulit dibuat di iklim hari ini, maka problemnya bukan pada keberanian sineas semata, melainkan pada ekosistem pendanaan dan distribusi yang makin terkonsentrasi.

Menariknya, Guadagnino menegaskan “Zero AI” dipakai dalam pembuatan film ini. Ia mengaitkan pilihan analog itu dengan gagasan Jean Renoir tentang “membiarkan pintu realitas terbuka” di set, sesuatu yang menurutnya sulit jika proses kreatif digerakkan oleh prompt.

Pesan film juga bukan hanya ketakutan bahwa AI dapat “menghapus kemanusiaan” dalam hitungan tahun. Guadagnino menyandingkannya dengan kerusakan lingkungan dan akumulasi kuasa, ketika sebagian orang “mendigitalkan pertanyaan” sementara segelintir pihak menggenggam kendali.

Keputusan Amazon untuk menjual, bukan mengubur, memberi dua pembacaan sekaligus. Garfield mengaku terkesan Amazon berani membuatnya namun paham ketika mereka berkata “mungkin ini bukan untuk kami rilis”, sedangkan Fox mengaku terkejut karena kolaborasi kreatif mereka sebelumnya berjalan baik.

Neon lalu tampil sebagai antitesis: studio independen yang bertaruh pada relevansi dan kontroversi. Skema akuisisi tanpa pembayaran di muka tetapi dengan komitmen pemasaran besar menjadi sinyal bahwa film ini diposisikan sebagai peristiwa budaya, bukan sekadar konten katalog.

Artificial akhirnya tayang perdana di New York Film Festival, lalu dijadwalkan rilis bioskop pada Hari Natal. Setelah musim rumor, penonton kini memegang palu vonis: apakah film ini sekadar sensasi, atau cermin yang memaksa kita menatap industri AI dengan lebih jujur.

Di balik semua itu, pertanyaan yang lebih dalam tetap menggantung: siapa yang “memutar roda” ketika seni, modal, dan teknologi bertemu dalam satu meja. Jika kekuasaan makin tersentral, keberanian bercerita akan menjadi barang langka, dan kita perlu memilih apakah akan diam atau ikut menjaga ruang kebebasan itu tetap terbuka. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Oktober 2026)