Final Euphoria Season 3: Rue Zendaya Tewas, Sam Levinson Disorot
ORBITINDONESIA.COM – Final Euphoria season 3 langsung memicu gelombang emosi dan debat, setelah Rue Bennett (Zendaya) tewas akibat overdosis obat pereda nyeri yang tercampur zat berbahaya. Ibunda Zendaya, Claire Stoermer, mengaku sedih namun memilih menahan opini, sementara kreator Sam Levinson menyebut kematian Rue sebagai “akhir yang jujur.”
Artikel sumber memperingatkan adanya spoiler untuk final Euphoria musim ketiga yang kini tayang di HBO Max. Cerita ditutup dengan kematian Rue Bennett, yang overdosis setelah mengonsumsi obat penghilang rasa sakit yang “diberi” Alamo Brown (Adewale Akinnuoye-Agbaje).
Sam Levinson kemudian menegaskan musim ketiga adalah musim terakhir serial tersebut. Ia menyatakan nasib Rue “terasa seperti akhir yang jujur,” sebuah keputusan yang sejak awal tampak diposisikan sebagai pernyataan moral sekaligus sosial.
Di luar layar, Claire Stoermer menulis di Instagram Stories bahwa banyak pesan masuk ke DM-nya tentang episode terakhir. Ia menolak menguraikan pendapat, hanya mengaku “membuat saya sedih… dan emosi lain juga,” lalu memilih berhenti di sana.
Keputusan membunuh tokoh utama dalam drama populer bukan sekadar twist, melainkan strategi naratif yang memaksa penonton menelan konsekuensi. Levinson mengatakan, “akhir yang jujur adalah orang seperti Rue tidak berhasil,” menekankan realitas relaps dan ketidaksiapan untuk pulih.
Ia juga menautkan tragedi itu pada situasi kontemporer, yakni meningkatnya risiko kematian akibat fentanyl di Amerika Serikat. Dalam kata-katanya, “mereka tidak mati seperti sekarang, dengan masuknya fentanyl ke negara ini,” sebuah rujukan yang menggeser final dari drama personal menjadi komentar krisis kesehatan publik.
Levinson bahkan membuat pengakuan personal yang mengerikan sekaligus politis: jika ia mengalami masa mudanya pada era sekarang, ia yakin “tidak akan ada di sini juga.” Kalimat ini mengandung dua lapis pesan, yakni tentang rapuhnya peluang selamat dan tentang perubahan lanskap narkotika yang makin mematikan.
Ia menambahkan alasan penghormatan, “Saya ingin menceritakan kisah ini untuk Angus [Cloud] dan untuk orang-orang yang tidak diberi kesempatan kedua.” Angus Cloud, rekan pemain, meninggal karena overdosis tidak disengaja pada 31 Juli 2023 di usia 25 tahun, dan final menyertakan kemunculan singkatnya lewat cuplikan yang belum pernah dilihat.
Dalam wawancara Popcast pada 1 Juni, Levinson menyebut akhir itu “tragis pada akhirnya—tapi juga kebenaran.” Ia menyebutnya cara “menghormati Angus dan mengucapkan doa untuk masa depan,” menegaskan bahwa akhir cerita adalah pernyataan etis, bukan sekadar penutup serial.
Dari sisi prestasi, Zendaya sudah dua kali meraih Emmy untuk Aktris Utama Terbaik Serial Drama pada 2020 dan 2022. Artikel sumber menekankan ia menjadi pemenang termuda setelah kemenangan pertamanya, yang membuat karakter Rue semakin melekat sebagai ikon budaya pop sekaligus simbol luka generasi.
Final juga menutup nasib Nate Jacobs (Jacob Elordi) dengan kematian yang teatrikal: ia dikubur hidup-hidup di peti mati dan berhadapan dengan ular derik. Elordi menggambarkan pengalaman syuting peti yang sempit dan gelap, namun justru menyebutnya “cukup damai,” bahkan “cara mati yang keren.”
Di titik ini, Euphoria seperti menolak memberikan katarsis yang nyaman, dan itu bisa dibaca sebagai keberanian sekaligus risiko. Keberanian, karena ia menolak romantisasi pemulihan; risiko, karena tragedi yang terus-menerus bisa membuat penonton kebal, atau lebih buruk, merasa putus asa.
Pernyataan Claire Stoermer yang memilih diam justru menarik, karena diamnya menggemakan dilema publik: kapan sebuah kisah tragis menjadi edukasi, dan kapan ia berubah menjadi konsumsi luka. Ia tidak menolak cerita, tetapi menolak ikut memanaskan perdebatan, seolah mengingatkan bahwa emosi keluarga dan penonton tidak selalu perlu dipertontonkan.
Levinson menyebut “tidak ada alasan untuk memanis-manisnya,” namun publik berhak bertanya: apakah realisme harus selalu berujung kematian untuk terasa “jujur.” Ada realisme lain yang jarang dipilih televisi, yaitu bertahan hidup dengan konsekuensi panjang, yang tidak dramatis tetapi lebih dekat dengan kerja pemulihan yang sesungguhnya.
Di sisi lain, penghormatan kepada Angus Cloud memberi konteks yang lebih manusiawi pada keputusan kreatif tersebut. Tetapi penghormatan juga menuntut kehati-hatian, karena industri hiburan kerap memanen duka sebagai bahan bakar narasi, dan batasnya tipis.
Ketika Nate diberi kematian yang “keren,” sementara Rue diberi kematian yang “jujur,” kita melihat hierarki penceritaan yang patut dikritisi. Siapa yang diberi estetika, dan siapa yang diberi vonis, sering kali mencerminkan cara budaya memandang pelaku kekerasan, korban, dan pecandu.
Final Euphoria season 3 menutup serial dengan kematian Rue dan meninggalkan penonton dalam ruang hening yang tidak nyaman. Di satu sisi, ia mengunci pesan tentang konsekuensi; di sisi lain, ia memaksa kita mempertanyakan apakah tragedi adalah satu-satunya bahasa yang dianggap serius.
Jika “akhir yang jujur” adalah mereka yang tidak selamat, maka pertanyaan berikutnya adalah: apa yang bisa membuat lebih banyak orang selamat di dunia nyata. Mungkin justru di situlah Euphoria seharusnya berakhir—bukan pada layar yang gelap, tetapi pada dorongan untuk melihat krisis adiksi sebagai urusan kolektif, bukan sekadar takdir individu. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)