Agus M. Maksum: Ternyata Rocky Gerung Tidak "Dungu" - Dia Tahu Mana yang Harus Dikritik, dan Mana yang Harus Dibela
Oleh Agus M. Maksum
ORBITINDONESIA.COM - "Dungu" adalah kata yang dilekatkan publik pada Rocky Gerung — senjata retorikanya yang paling terkenal. Kini kata itu saya kembalikan padanya sebagai pujian: Rocky ternyata tidak dungu. Dia mampu membedakan mana pelaksanaan yang harus dikritik, dan mana perintah Konstitusi yang wajib dibela.
Saya ingin bertanya sesuatu yang sederhana.
Kalau seorang kritikus paling tajam di republik ini — orang yang pernah menyebut presiden sebelumnya dengan sebutan yang membuat Bareskrim sibuk — tiba-tiba berkata bahwa MBG dan Koperasi Desa Merah Putih harus dibela...
Apakah dia berubah? Atau kita yang selama ini salah membaca?
Di warung kopi dekat rumah, seorang tukang ojek bertanya pada saya. "Pak, Rocky Gerung kok sekarang belain pemerintah?"
Saya tersenyum. Pertanyaan itu wajar. Tapi jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan.
Ibu-ibu yang anaknya makan siang bergizi di sekolah tidak peduli siapa presidennya. Petani yang gabahnya di beli Bulog dengan harga Rp 6500 tidak bertanya soal koalisi. Yang mereka tahu: negara hadir. Atau tidak hadir.
Di sinilah paradigmanya harus dibongkar.
Selama bertahun-tahun kita diajari bahwa kritikus sejati adalah yang mengkritik semuanya. Siapa pun presidennya. Apa pun programnya. Seolah konsistensi diukur dari volume kemarahan, bukan dari ketepatan sasaran.
Itu paradigma yang keliru.
Kritikus sejati bukan yang selalu marah. Kritikus sejati adalah yang tahu membedakan: mana konsep yang diperintahkan Konstitusi, dan mana pelaksanaan yang bisa diselewengkan manusia.
Yang pertama harus dibela. Yang kedua harus diawasi.
Ibaratnya begini.
Kalau rumah Anda bocor, Anda perbaiki atapnya. Anda tidak merobohkan rumahnya. Orang yang menyuruh merobohkan rumah karena atapnya bocor — dialah yang bermasalah, bukan rumahnya.
MBG bocor di sana-sini? Perbaiki. Kopdes ada yang diselewengkan? Tangkap penyelewengnya. Tapi merobohkan programnya berarti merobohkan perintah Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945.
Saya memantau langsung apa yang terjadi di Surabaya, 27 Juni 2026.
Di forum bedah buku Marhaenisme yang digelar DPC PDI Perjuangan — bukan di panggung Istana, bukan di acara pendukung pemerintah — Rocky Gerung berkata terang: "Bela koperasi, bela MBG. Itu perintah konstitusi. Konstitusi memerintahkan begitu, maka harus dibela."
Ditanya apakah itu berarti memihak pemerintah, jawabannya tegas: "Saya memihak pada konstitusi."
Dan dia tidak berhenti di situ. Dia memberi rumus kritik yang sah: "Baru kalau dikatakan 'benar sih, tapi jadi sarang korupsi', itu kritik yang sah."
Ini orang yang sama yang mengkritik habis IKN dan Whoosh. Yang mendesak reshuffle menteri-menteri hasil tukar-tambah politik. Yang menyebut kekuasaan hari ini dikendalikan pemilik modal, bukan rakyat.
Dia tidak berhenti mengkritik. Dia hanya memilih sasaran dengan benar.
Maka yang sedang kita saksikan bukan sekadar perubahan sikap seorang komentator.
Ini benturan dua cara berpikir.
Satu paradigma mengatakan: program bermasalah, tutup programnya. Paradigma lain mengatakan: program bermasalah, selesaikan masalahnya — karena programnya perintah Konstitusi.
Satu paradigma melihat kritik sebagai identitas. Paradigma lain melihat kritik sebagai tanggung jawab.
Mereka mengukur dengan kemarahan. Konstitusi mengukur dengan kemaslahatan.
Rocky sendiri memperingatkan bahaya yang lebih besar: munculnya tokoh-tokoh yang — dalam istilahnya — menunggangi gelombang kedunguan. Riding the tidal wave of stupidity. Orang yang tidak bisa membedakan konsep dan pelaksanaan, lalu mengajak publik marah pada arah yang sudah benar.
Dan siapa yang paling diuntungkan kalau kemarahan itu berhasil menjatuhkan program-program konstitusi?
Bukan mahasiswa. Bukan rakyat.
Pemilik modal.
Saya tidak sedang membela Rocky Gerung. Saya bahkan mencatat: April lalu dia masih mengkritik keras MBG. Tapi justru di situlah nilainya — dia mengoreksi bidikan setelah membedakan mana konsep, mana pelaksanaan. Itu bukan kelemahan. Itu kejujuran intelektual.
Dan kejujuran intelektual hari ini adalah barang langka.
Rocky Gerung tidak "dungu".
Yang dungu adalah zaman yang menganggap mereka membela Konstitusi sama dengan menjilat kekuasaan.
Agus M Maksum — Pemerhati Ekonomi Konstitusi dan Kebijakan Publik, Praktisi IT, Pembuat Patent Platform Digital Ekonomi Pancasila, Mantan Ketua Senat Mahasiswa ITS, Aktivis 98, Mantan Ketua Tim IT/Cyber Prabowo-Sandi 2019. **