Budaya Tidak Hormat di Sekolah: Komunikasi Tidak Adil Picu Aksi
ORBITINDONESIA.COM – Budaya tidak hormat di sekolah dan komunikasi tidak adil menjadi kata kunci yang menggema dalam sebuah rally di luar lingkungan sekolah. Para peserta aksi menuding ada pola umum sikap meremehkan dan cara berbicara yang timpang, bukan sekadar salah paham sesaat.
Rally di luar sekolah itu muncul dari akumulasi keluhan yang lama dipendam. Mereka menyebut adanya budaya umum ketidaksopanan dan komunikasi yang dianggap tidak adil dalam interaksi sehari-hari.
Di banyak sekolah, masalah seperti ini sering bersembunyi di balik istilah “disiplin” atau “ketegasan.” Namun ketika pihak yang terdampak menyebutnya sebagai budaya, itu menandakan persoalan sistemik dan berulang.
Komunikasi yang tidak adil biasanya terasa pada siapa yang didengar dan siapa yang diabaikan. Ketika saluran aspirasi macet, ruang publik seperti trotoar depan sekolah berubah menjadi panggung protes.
Ungkapan “general culture of disrespect” mengisyaratkan perilaku yang dinormalisasi, bukan insiden tunggal. Normalisasi terjadi ketika komentar merendahkan, nada mengintimidasi, atau perlakuan berbeda dianggap wajar karena “sudah dari dulu begitu.”
“Unfair communication” juga menunjuk pada ketimpangan kuasa dalam percakapan. Dalam relasi sekolah, pihak yang lebih kuat sering mengontrol definisi masalah, sementara pihak yang lebih lemah diminta menyesuaikan diri.
Dinamika ini dapat memperlebar jarak kepercayaan antara komunitas sekolah dan otoritasnya. Saat rasa aman psikologis hilang, orang cenderung memilih diam atau melawan, dan keduanya sama-sama merusak iklim belajar.
Secara global, riset tentang iklim sekolah kerap menekankan pentingnya rasa dihargai dan prosedur yang adil untuk menurunkan konflik. Prinsip “procedural justice” dalam pendidikan menilai keadilan dari konsistensi aturan, kesempatan menyampaikan suara, dan penghormatan dalam perlakuan.
Jika komunikasi dianggap tidak adil, inti masalahnya bukan hanya isi pesan, melainkan cara pesan disampaikan dan siapa yang diberi ruang membalas. Aksi di luar sekolah menjadi indikator bahwa mekanisme internal dianggap tidak lagi memadai.
Di era media sosial, keluhan yang dulu berhenti di koridor kini bisa menjadi narasi publik dalam hitungan jam. Sekolah yang mengabaikan sinyal awal berisiko menghadapi krisis reputasi yang lebih sulit dipulihkan daripada sekadar menyelesaikan satu insiden.
Aksi protes semacam ini sering dipandang mengganggu ketertiban, padahal bisa dibaca sebagai upaya terakhir mencari martabat. Ketika orang berkata mereka diperlakukan tidak hormat, mereka sedang meminta pengakuan sebagai manusia, bukan sekadar “penerima aturan.”
Sudut pandang tajamnya adalah ini: budaya komunikasi yang buruk kerap dipelihara oleh struktur yang menolak dikritik. Jika kritik selalu dibalas dengan defensif, maka “ketegasan” berubah menjadi tameng untuk menutupi kebiasaan merendahkan.
Namun, protes juga menuntut tanggung jawab untuk menghadirkan bukti dan tuntutan yang jelas. Perubahan budaya membutuhkan lebih dari kemarahan, yaitu peta jalan yang memaksa institusi memperbaiki prosedur, pelatihan, dan akuntabilitas.
Yang paling berbahaya adalah ketika sekolah menganggap masalah ini sekadar isu “sikap” individu. Jika yang terjadi adalah pola, maka solusinya harus menyentuh sistem: standar komunikasi, kanal pengaduan, dan perlindungan dari pembalasan.
Pada akhirnya, komunikasi adil bukan berarti semua orang selalu setuju. Komunikasi adil berarti setiap orang diperlakukan dengan hormat, diberi kesempatan bicara, dan dinilai dengan ukuran yang konsisten.
Rally di luar sekolah itu mengirim pesan sederhana tetapi keras: budaya tidak hormat di sekolah tidak bisa lagi dianggap angin lalu. Ketika komunikasi tidak adil dibiarkan, sekolah kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang aman untuk tumbuh dan belajar.
Pertanyaan reflektifnya, apakah institusi pendidikan berani mengukur kualitasnya bukan hanya dari nilai akademik, tetapi dari cara mereka berbicara kepada manusia di dalamnya. Jika hormat dan keadilan dimulai dari bahasa, maka perubahan pertama mungkin sesederhana mengubah nada, lalu diikuti keberanian membenahi sistem. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Oktober 2026)