IHSG Turun 0,97%: Saham Bank Tertekan, Inflasi Jadi Fokus DPR
ORBITINDONESIA.COM – IHSG melemah dan kembali masuk zona merah pada Senin, 29 Juni 2026, setelah sempat menguat singkat di awal sesi. Tekanan jual pada saham bank besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI berbarengan dengan sinyal kebijakan pemerintah-DPR yang menaruh fokus pada pengendalian inflasi dan daya beli.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi pertama turun 57,18 poin atau -0,97% ke 5.838,95. Data perdagangan menunjukkan 399 saham melemah, 257 menguat, dan 303 stagnan, menandakan tekanan jual lebih dominan.
Nilai transaksi hanya Rp 4,02 triliun dengan volume 6,48 miliar saham dalam 672.500 transaksi. Kapitalisasi pasar ikut menyusut menjadi Rp 10.218 triliun, mempertegas bahwa pelemahan terjadi di tengah aktivitas yang relatif sepi.
Yang menarik, IHSG sempat menguat 0,79% dan menyentuh 5.942,77 pada awal perdagangan. Namun kurang dari 30 menit kemudian arah berubah, seolah pasar kehilangan alasan untuk bertahan di zona hijau.
Di saat yang sama, pemerintah dan DPR menggelar pertemuan di Gedung DPR RI yang dihadiri sejumlah pejabat kunci. Mereka menyepakati fokus kebijakan jangka pendek untuk menjaga inflasi dan daya beli, dengan latar tekanan ekonomi global yang belum reda.
Isu utama yang mengemuka adalah ketidakpastian harga komoditas, terutama akibat konflik di Timur Tengah. Mari Elka Pangestu menegaskan sinyal risiko kenaikan harga barang, khususnya melalui jalur harga minyak yang menekan inflasi.
Pemerintah juga memutuskan menempatkan kembali dana Rp281 triliun ke Himbara dan memperpanjangnya hingga akhir 2026. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut Rp100 triliun juga disiagakan bila perbankan membutuhkan likuiditas mendadak.
Pelemahan IHSG kali ini tampak ditarik oleh saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan. BBCA turun 2,43% dan menjadi pemberat utama dengan kontribusi -14,05 poin, menurut data Refinitiv.
BMRI dan BBRI juga terkoreksi masing-masing 1% dan 1,05%, memperlebar tekanan pada indeks. Efeknya terasa besar karena sektor perbankan memiliki bobot signifikan dalam pergerakan IHSG.
Di belakang BBCA, Sinar Mas Multiartha (SMMA) membebani -6,41 poin, lalu disusul emiten lain seperti TLKM, BREN, BRPT, dan kembali BMRI serta BBRI. Komposisi pemberat ini memberi petunjuk bahwa pasar sedang menghindari saham-saham yang biasanya menjadi jangkar indeks.
Nilai transaksi yang hanya Rp 4,02 triliun memperlihatkan pasar bergerak turun tanpa “perlawanan” berarti dari sisi pembeli. Dalam kondisi seperti ini, koreksi sering terasa lebih tajam karena likuiditas tipis membuat harga mudah terdorong turun.
Pertemuan pemerintah-DPR soal inflasi memberi konteks makro yang relevan untuk membaca sentimen. Ketika inflasi dan daya beli menjadi prioritas, pasar biasanya menilai ada risiko pengetatan atau setidaknya kebijakan yang lebih berhati-hati terhadap pertumbuhan.
Pernyataan Mari Elka tentang pengaruh harga minyak terhadap inflasi menegaskan bahwa sumber tekanan bukan hanya domestik. Konflik geopolitik yang mengganggu rantai pasok energi dapat menaikkan biaya produksi dan logistik, lalu merembet ke harga barang konsumsi.
Di sisi lain, kebijakan penempatan kembali dana Rp281 triliun ke Himbara dapat dibaca sebagai langkah stabilisasi. Ini memberi bantalan likuiditas dan sinyal bahwa pemerintah ingin menjaga transmisi kredit tetap berjalan di tengah ketidakpastian.
Namun pasar tidak selalu merespons positif kebijakan likuiditas jika risiko yang dikhawatirkan bersifat struktural. Jika investor menilai tekanan inflasi global akan bertahan, mereka cenderung menurunkan eksposur pada aset berisiko sebelum dampaknya terlihat pada laba emiten.
Koreksi pada bank-bank besar juga bisa dibaca sebagai cerminan kekhawatiran terhadap kualitas kredit dan margin bunga ke depan. Ketika daya beli ditekankan sebagai isu, pasar menangkap kemungkinan konsumsi melemah atau biaya dana meningkat, dua hal yang sensitif bagi perbankan.
IHSG yang sempat menguat lalu cepat berbalik turun menunjukkan pasar sedang rapuh secara psikologis. Kenaikan singkat di awal sesi tampak lebih seperti “pantulan” teknikal ketimbang keyakinan baru terhadap prospek ekonomi.
Fokus pemerintah pada inflasi dan daya beli adalah langkah yang logis, tetapi juga menyiratkan bahwa risiko sudah cukup nyata untuk dibahas di level tertinggi. Investor membaca sinyal ini sebagai pengakuan bahwa tekanan harga bisa menggerus konsumsi, dan konsumsi adalah mesin utama banyak emiten.
Penempatan kembali dana Rp281 triliun ke Himbara memang menenangkan soal likuiditas, tetapi bukan obat untuk ketidakpastian global. Likuiditas membantu bank bernapas, namun tidak otomatis mengubah arah sentimen bila investor masih melihat risiko energi dan komoditas membayangi.
Di titik ini, pasar seperti meminta dua hal sekaligus yang sulit: inflasi terkendali tanpa mengorbankan pertumbuhan. Jika kebijakan terlalu ketat, pertumbuhan melambat, tetapi jika terlalu longgar, inflasi membesar dan daya beli tertekan.
Yang paling perlu diwaspadai adalah narasi “stabilitas” yang hanya berhenti pada angka dana dan rapat koordinasi. Pasar menuntut bukti eksekusi, terutama pada pengendalian harga pangan-energi dan kepastian pasokan, karena di sanalah inflasi paling cepat terasa.
Pelemahan IHSG ke 5.838,95 pada sesi pertama bukan sekadar cerita angka, melainkan cermin kecemasan pasar terhadap inflasi dan gejolak global. Tekanan pada BBCA, BBRI, dan BMRI memperlihatkan bahwa investor memilih bertahan, bukan mengambil risiko.
Kesepakatan pemerintah-DPR untuk menjaga inflasi dan daya beli adalah kompas yang tepat, tetapi kompas tidak otomatis membuat kapal sampai tujuan. Pertanyaannya kini, seberapa cepat kebijakan itu menjelma menjadi harga yang stabil dan keyakinan investor yang pulih.
(Orbit dari berbagai sumber, 7 Juli 2026)