Holiday Hoarding: Krisis Cuti Tahunan dan Burnout Karyawan

Fast Company

Fast Company

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Holiday hoarding atau kebiasaan menimbun cuti tahunan kini mengubah musim liburan menjadi musim kerja. Di saat kalender seharusnya dipenuhi rencana jeda, banyak meja kantor justru tetap terisi penuh.

Fenomena holiday hoarding terlihat jelas dalam data Breathe HR yang mencatat sekitar separuh pekerja di Inggris tidak mengambil jatah PTO penuh tahun lalu. Di Amerika Serikat, temuan Pew Research juga menunjukkan pola serupa pada pekerja yang tidak memanfaatkan cuti berbayar.

Trennya bahkan memburuk karena Breathe HR menemukan 1 dari 4 pekerja berencana mengambil liburan lebih sedikit tahun ini dibanding tahun lalu. Ini bukan sekadar soal preferensi, melainkan sinyal bahwa cuti makin terasa “berisiko.”

Pasar kerja yang keras mendorong rasa tidak aman, sehingga cuti dipersepsikan sebagai tanda kurang loyal. Dalam polling Breathe HR, 1 dari 5 pekerja mengaku menahan cuti karena khawatir redundansi dan penilaian manajer.

Masalahnya tidak berhenti pada psikologi individu, karena struktur kerja ikut mempersempit ruang istirahat. Sekitar seperlima pekerja menyebut perusahaan tidak mendorong penggunaan PTO, sementara sepertiga mengatakan beban kerja membuat liburan nyaris mustahil.

Rasa bersalah juga menjadi pengunci yang halus namun efektif. Pew melaporkan hampir separuh pekerja merasa bersalah karena rekan kerja harus menutup pekerjaan mereka saat cuti.

Teknologi memperparah situasi dengan mengaburkan batas kerja dan rumah. Lebih dari sepertiga holiday hoarders mengaku tetap dihubungi manajer saat liburan, sehingga cuti berubah menjadi kerja jarak jauh yang tidak diakui.

Dampaknya bukan hanya kelelahan, tetapi penurunan kualitas keputusan dan produktivitas tim. Breathe HR mencatat hampir separuh penimbun cuti merasa burnout menjelang akhir tahun, sebuah pola yang menggerus daya tahan organisasi.

Holiday hoarding adalah cermin budaya kerja yang menganggap istirahat sebagai kemewahan, bukan kebutuhan operasional. Jika cuti membuat orang takut dinilai tidak komit, maka yang rusak bukan etos karyawan, melainkan definisi komit itu sendiri.

Perusahaan sering mengklaim mendukung kesejahteraan, tetapi metrik kinerja harian justru menghukum jeda. Ketika beban kerja dibuat permanen “darurat,” karyawan belajar bahwa mengambil cuti berarti meninggalkan ranjau sosial: rasa bersalah, chat mendadak, dan tumpukan pekerjaan sepulangnya.

Yang ironis, organisasi mengira mereka menghemat waktu, padahal mereka sedang mencicil biaya besar di belakang layar. Burnout memperlambat eksekusi, meningkatkan kesalahan, dan pada akhirnya membuat bisnis membayar mahal lewat kesehatan karyawan dan turunnya performa.

Solusinya bukan poster motivasi, melainkan desain kerja yang memaksa jeda menjadi normal. Tanpa aturan tegas soal “tidak boleh menghubungi saat cuti” dan pembagian beban kerja yang masuk akal, PTO hanya akan menjadi hak di atas kertas.

Holiday hoarding memperlihatkan satu kenyataan: di banyak kantor, cuti tidak lagi dipahami sebagai pengisian ulang, melainkan sebagai taruhan karier. Padahal logika kerja sederhana tetap berlaku, bahwa orang tidak bisa memberi energi jika “cangkirnya” kosong.

Pertanyaannya kini bukan apakah karyawan berhak beristirahat, melainkan apakah organisasi siap membayar harga ketika mereka tidak pernah benar-benar istirahat. (Orbit dari berbagai sumber, 6 Oktober 2026)