PSN DBD Pejeruk Digenjot, 3M Plus Jadi Kunci Saat Cuaca Anomali
ORBITINDONESIA.COM – PSN DBD di Kelurahan Pejeruk kembali digencarkan saat cuaca anomali memicu genangan air di banyak sudut permukiman. Pemerintah kelurahan menyisir rumah warga dan menegaskan 3M Plus lebih menentukan daripada fogging yang kerap dianggap jalan pintas.
Kelurahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan, memilih menaikkan intensitas Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan edukasi warga sebagai mitigasi Demam Berdarah Dengue (DBD). Langkah ini dipicu cuaca yang tidak menentu, yang membuat wadah-wadah air kecil berubah menjadi “pabrik” jentik Aedes aegypti.
Koordinasi dilakukan dengan kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dan puskesmas untuk memperketat pengawasan lingkungan. Model kerjanya sederhana, yakni penyisiran rumah, pemeriksaan titik rawan, lalu edukasi pola hidup bersih dan sehat.
Lurah Pejeruk Lalu Bagus Afriandy menekankan pencegahan tidak bisa bertumpu pada pemerintah saja. “Kami menyisir rumah-rumah yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk sambil memberikan imbauan kepada masyarakat agar rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk,” ujarnya, Selasa (30/6).
Cuaca anomali memperpanjang peluang nyamuk berkembang biak karena hujan datang tak terduga lalu disusul panas yang mempercepat siklus hidup serangga. Di tingkat rumah tangga, risiko paling sering justru lahir dari kebiasaan kecil, seperti membiarkan botol, kaleng, atau ban bekas menampung air hujan.
Di banyak daerah Indonesia, lonjakan kasus DBD kerap mengikuti musim hujan dan masa pancaroba, sehingga pencegahan berbasis lingkungan menjadi strategi paling rasional. Kementerian Kesehatan secara konsisten mendorong 3M Plus sebagai fondasi, karena memutus siklus nyamuk sejak fase telur dan jentik.
Pejeruk menambah lapisan intervensi dengan menyiapkan bubuk Abate dari puskesmas untuk wadah air yang sulit dikuras. Abate bersifat pendukung, karena ia bekerja pada jentik di air, bukan pada sumber masalah berupa kebiasaan menyimpan air tanpa kontrol.
Penekanan agar warga tidak menjadikan fogging sebagai solusi utama juga sejalan dengan praktik kesehatan masyarakat. Fogging cenderung menarget nyamuk dewasa, sementara telur dan jentik tetap bertahan jika tempat perindukan tidak dihilangkan.
Di sisi lain, fogging yang berulang tanpa dasar surveilans dapat memunculkan persoalan turunan, mulai dari paparan asap hingga persepsi keliru bahwa masalah sudah selesai. Ketika rasa aman palsu terbentuk, warga justru menunda PSN, dan siklus penularan kembali terbuka.
PSN DBD di Pejeruk menunjukkan satu hal yang sering luput, yakni DBD bukan sekadar urusan obat, tetapi urusan tata kelola perilaku. Pemerintah bisa menyisir, tetapi yang menentukan adalah rutinitas harian warga di kamar mandi, halaman, dan saluran drainase.
Gerakan 3M Plus terdengar klise, namun justru itu kekuatannya karena mudah diulang dan murah dilakukan. Menguras, menutup, dan mendaur ulang adalah tindakan kecil yang efeknya kolektif, terutama di lingkungan padat yang berbagi risiko.
Abate membantu, tetapi ia tidak boleh menjadi “pembenar” untuk tetap menimbun wadah air kotor. Jika Abate dipahami sebagai pengganti kebersihan, maka pencegahan berubah menjadi ketergantungan, bukan kemandirian.
Pesan paling tajam dari kebijakan ini adalah kritik halus terhadap budaya responsif yang menunggu kasus naik baru bergerak. DBD menuntut disiplin yang tidak heroik, karena pahlawannya adalah orang yang rutin memeriksa ember, talang, dan sudut rumah tanpa sorotan.
Pejeruk sedang menguji apakah edukasi bisa mengalahkan kebiasaan, dan apakah gotong royong bisa mengalahkan rasa “bukan urusan saya”. Jika 3M Plus dijalankan sebagai kebiasaan, maka fogging akan kembali pada tempatnya, yakni opsi terakhir, bukan panggung utama.
Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan, yakni kapan terakhir kita memeriksa titik air di rumah sendiri sebelum meminta pemerintah menyemprot lingkungan. DBD sering datang bukan karena kita tidak tahu, melainkan karena kita menunda hal yang sebenarnya bisa selesai dalam lima menit.
(Orbit dari berbagai sumber, 8 Juli 2026)