LL Cool J Pulang ke Queens, Bawa NCIS: New York

nytimes.com

nytimes.com

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – LL Cool J kembali menyusuri St. Albans, Queens, tetapi kali ini bukan sebagai rapper remaja bernama James Todd Smith. Ia pulang untuk syuting serial prosedural baru CBS, NCIS: New York, sambil menghidupkan lagi tokoh Sam Hanna yang dulu ia mainkan selama 14 musim di NCIS: Los Angeles.

Di trotoar yang sama, kerumunan warga membesar seiring kabar syuting menyebar, dan sang bintang meladeni swafoto sambil tersenyum. “Kamu bisa melihat kerentanan dan ketidakpastian,” kata LL Cool J, 58 tahun, tentang Hanna yang “hampir seperti orang asing” saat pulang setelah lama pergi.

Terjemahan artikel sumber: LL Cool J kembali berjalan di jalanan St. Albans pada sebuah hari kerja musim panas, seperti ketika ia masih James Todd Smith. Ia mulai nge-rap sebagai anak 9 tahun yang nekat di Farmers Boulevard, Queens, merekam demo pertama dari ruang bawah tanah rumah neneknya, rajin datang ke pesta blok, dan menghindari baku tembak di sebuah taman yang kini memajang mural wajahnya bersama selebritas lokal lain.

Namun kepulangan ini bukan tentang Grammy atau penghargaan Rock & Roll Hall of Fame. Ia datang untuk mengambil adegan NCIS: New York, serial baru yang membuatnya kembali memerankan Sam Hanna, mantan Navy SEAL yang menjadi agen federal, setelah NCIS: Los Angeles tamat pada 2023 meski ia sempat muncul singkat di seri utama dan edisi Hawaii.

Dalam narasi serial, Hanna berasal dari Brooklyn, bukan Queens. Tetapi suasana “pulang kampung” terasa nyata ketika produksi berpindah-pindah lokasi di dua borough New York, dan LL mengakui sebagian kota kini tak lagi ia kenali, sementara St. Albans baginya nyaris tak berubah.

“Energinya sama,” ujarnya, seraya menekankan lingkungan itu selalu menuntut kewaspadaan dan fokus. Ia bahkan mengoreksi kru yang membeli makan siang di tempat terdekat, karena menurutnya sayap ayam terbaik ada di Nettie’s Restaurant & Bar yang hanya beberapa menit dari lokasi.

Ia menyebut dunia berubah selama ia lama tinggal di California. “Rumputnya beda warna, rambu jalan beda, token subway sudah tidak ada,” katanya, lalu menyelipkan metafora “perjalanan pahlawan” ala Joseph Campbell.

Terjemahan artikel sumber: Sebelum syuting di lingkungannya, LL menghubungi komunitas BBS Boys yang merayakan kultur mobil 1980-an dan 1990-an. Atas permintaannya, mobil-mobil vintage seperti Acura NSX-T oranye gosong, Mercedes-Benz SL-Class krem, dan BMW Seri 8 generasi pertama berwarna marun diparkir di jalan sebagai “metafora” tentang seperti apa dunia saat ia terakhir sering berada di sana.

Kenangan serupa muncul dari aktor Malik Yoba yang menjadi bintang tamu. Ia mengingat momen ketika remaja LL datang ke dekat Apollo dengan Porsche putih, dan gadis yang ia dekati mendadak “lupa” padanya, karena LL “memang sudah jadi orang itu sejak hari pertama.”

Terjemahan artikel sumber: LL kemudian mengangkat hip-hop, menulis lagu-lagu lembut seperti “Hey Lover” sekaligus lagu adu lirik seperti “Jack the Ripper.” Minat aktingnya tumbuh dari film aksi Bruce Lee, dan ia membayangkan diri “punya six pack, menendang lampu di langit-langit, meninju orang, dan tetap karismatik.”

Ia debut film lewat “Krush Groove” (1985), lalu menonjol di “Deep Blue Sea,” “Any Given Sunday,” dan “In Too Deep,” serta sitkom “In the House,” sebelum masuk “NCIS: Los Angeles” pada 2009. Dalam format prosedural, ia menekankan disiplin ekstrem, mulai dari gym pukul 4 pagi hingga hari kerja 14 jam, karena keterlambatan aktor utama bisa berdampak pada ratusan kru.

Di titik ini, “NCIS: New York” bukan sekadar spin-off baru. Ia adalah contoh bagaimana industri TV Amerika memanfaatkan waralaba mapan untuk mengurangi risiko, karena merek “NCIS” sudah punya basis penonton lintas generasi dan lintas platform.

Data kontekstualnya jelas di pasar: waralaba prosedural cenderung stabil di rating siaran dan sangat bernilai untuk sindikasi serta streaming, karena episodenya mudah ditonton acak. Dengan membawa kembali tokoh Sam Hanna dan menempatkan New York sebagai panggung, CBS memadukan nostalgia, lokasi ikonik, dan mesin cerita yang sudah terbukti.

Terjemahan artikel sumber: Yoba juga menempatkan momen ini dalam sejarah TV kulit hitam, mengingat perannya di “New York Undercover” pada 1990-an sebagai salah satu drama prime-time satu jam pertama yang dipimpin aktor kulit berwarna. Ia menyebut hip-hop sebagai “denyut nadi” serial itu, dan menilai berdiri satu set dengan LL di New York sebagai pertemuan “warisan hip-hop” dan “warisan pria kulit hitam memimpin drama prime-time,” yang “masih klub kecil.”

Klaim “klub kecil” itu penting dibaca sebagai kritik halus terhadap representasi. Industri memang lebih terbuka dibanding era 1990-an, tetapi posisi kreatif kunci, kepemilikan IP, dan akses menjadi produser eksekutif masih menjadi medan perebutan, dan LL kini masuk ke ruang itu.

Terjemahan artikel sumber: Keesokan hari syuting pindah ke panggung produksi Brooklyn, dan LL tetap penuh energi di sela pengambilan gambar, dari memilih musik hingga menyanyikan “My Name Is” milik Eminem. Scott Caan yang memerankan partner Hanna mengatakan relevansi 40 tahun LL bukan kebetulan, melainkan kombinasi bakat, kerja keras, dorongan, dan energi yang membuat kreator lain ingin berada di dekatnya.

Caan juga punya akar hip-hop, pernah tampil dengan alias Mad Skillz dan bekerja dengan Cypress Hill. Ia menggambarkan tur lokasi sejarah hip-hop di Queens bersama LL seperti “Derek Jeter mengajakmu berkeliling Yankee Stadium,” karena LL menunjuk titik-titik tempat A Tribe Called Quest syuting atau Run-DMC memulai.

Kepulangan LL Cool J ke Queens untuk NCIS: New York adalah cerita tentang identitas yang dinegosiasikan ulang di tengah perubahan kota. Ia tidak kembali sebagai “anak blok” yang sama, tetapi ia juga tidak sepenuhnya menjadi orang luar, karena memori kolektif warga menyambutnya sebagai milik mereka.

Di sinilah kekuatan naratifnya: New York tidak dipakai sekadar latar sinematik, melainkan sebagai cermin waktu. Mobil-mobil era 1980–1990-an yang dipajang di jalan adalah simbol bahwa budaya populer sering bekerja lewat nostalgia, tetapi nostalgia itu juga mengungkap jarak sosial yang diciptakan oleh migrasi karier, kelas, dan industri hiburan.

LL menyebut “perjalanan pahlawan,” tetapi pahlawan modern di industri TV bukan lagi penakluk tunggal. Ia adalah pekerja dengan jadwal brutal, yang sadar keterlambatannya bisa mengorbankan akhir pekan 250 orang, dan kesadaran itu terasa lebih politis daripada sekadar motivasi.

Waralaba “NCIS” memberi jaminan stabilitas, tetapi juga berpotensi mengulang formula. Tantangannya bagi NCIS: New York adalah membuktikan bahwa kota ini bukan sekadar dekorasi, melainkan sumber konflik, kerentanan, dan realisme baru bagi Sam Hanna yang “pulang” dalam kondisi asing.

Jika berhasil, serial ini bisa menjadi jembatan antara dua warisan: hip-hop sebagai bahasa jalanan yang pernah dipandang pinggiran, dan televisi arus utama yang dulu sulit memberi ruang bagi aktor kulit hitam sebagai pemimpin cerita. Jika gagal, ia hanya akan menjadi nostalgia yang rapi, tetapi hampa.

Terjemahan artikel sumber: LL mengatakan kembali penuh waktu sebagai Hanna di New York terasa mudah, karena ia masih bersenang-senang dan berharap karakter itu memberi penonton ruang untuk sejenak “melarikan diri.” Ia menutup dengan etos kerja yang sangat pragmatis: menjaga serial tetap tayang dikerjakan “adegan demi adegan,” juara diraih “play demi play,” dan album platinum dibangun “baris demi baris, lagu demi lagu.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru menampar budaya instan yang menyamakan “sabar” dengan diam. Di Queens, di set Brooklyn, dan di waralaba TV paling tahan lama, LL mengingatkan bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke masa lalu, melainkan belajar hidup di dunia yang sudah berubah.

Pertanyaannya untuk publik kini bukan hanya apakah NCIS: New York akan sukses. Pertanyaannya adalah apakah kita masih mampu melihat kerja, komunitas, dan sejarah budaya sebagai sesuatu yang dibangun pelan-pelan, lalu dijaga dengan disiplin, bahkan ketika kota dan zaman terus berganti. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Oktober 2026)