Kampanye Healthy Relationship di Sekolah Dasar, Lawan Bullying

Radar Magelang

Radar Magelang

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Kampanye healthy relationship di lingkungan sekolah digelar mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) di SD Negeri Peterongan, Semarang, Jumat (22/05/2026). Sosialisasi ini menargetkan pencegahan bullying di sekolah dasar lewat komunikasi sehat, empati, dan saling menghargai. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Di banyak sekolah, perundungan kerap muncul dari hal yang tampak sepele: ejekan, pengucilan, dan candaan yang berulang. Pada usia sekolah dasar, pola komunikasi seperti ini mudah dianggap normal, lalu mengeras menjadi kebiasaan. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Karena itu, kampanye “Healthy Relationship di Lingkungan Sekolah” menjadi relevan sebagai intervensi dini. Kegiatan diikuti 60 siswa SD Negeri Peterongan 01 Semarang untuk membangun ruang belajar yang aman dan nyaman. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Kampanye ini juga menandai pergeseran peran kampus dari menara gading menjadi aktor literasi sosial. Program tersebut merupakan luaran mata kuliah Komunikasi Gender dan Minoritas yang diampu Dr. Yulianto Budi Setiawan. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Model sosialisasi yang dibawa mahasiswa USM menekankan praktik, bukan sekadar ceramah. Ketua pelaksana Diani Puji menyebut edukasi ini mengajak siswa saling menghargai, menghormati, dan membangun pertemanan positif. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Materi inti berputar pada komunikasi yang baik, pencegahan perilaku bullying, serta penanaman empati sejak dini. Debora Yusi Irapapti dan mahasiswa Latifa Marwa menyampaikan pesan lewat interaksi yang membuat siswa lebih mudah menangkap makna. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Pendekatan berbasis permainan juga dipakai untuk mengubah nilai menjadi pengalaman. Games edukatif membuat siswa antusias, sekaligus memberi contoh konkret tentang batasan, respek, dan cara menyampaikan ketidaknyamanan. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Secara tren, pendidikan karakter dan pencegahan kekerasan di sekolah makin menuntut metode yang partisipatif. Kerangka “healthy relationship” bekerja efektif karena membahas relasi sehari-hari, bukan hanya menakut-nakuti lewat sanksi. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Apresiasi sekolah memperlihatkan kebutuhan lapangan yang nyata. Kepala sekolah Suratna menilai materi ini penting agar anak memahami cara berinteraksi yang baik dengan teman sebaya maupun guru. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Wali Kelas 5, Titin Munarsih, menambahkan format interaktif membuat siswa lebih mudah memahami. Ia berharap kegiatan serupa berlanjut untuk menanamkan kepedulian dan empati sejak dini. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Kampanye semacam ini kuat sebagai pintu masuk, tetapi tidak boleh berhenti sebagai acara satu hari. Bullying dan relasi tidak sehat biasanya lahir dari pola berulang, sehingga penanganannya juga harus berulang dan terukur. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Sekolah perlu menindaklanjuti dengan aturan kelas yang sederhana dan konsisten, termasuk mekanisme pelaporan yang aman bagi anak. Guru juga perlu bahasa yang sama tentang “candaan” yang melukai, agar pesan tidak kalah oleh budaya permisif. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Di sisi lain, keterlibatan kampus memberi peluang evaluasi berbasis data. Pre-test dan post-test sederhana tentang empati, keberanian menolak ajakan mengejek, dan kemampuan meminta maaf bisa membuat program lebih akuntabel. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Relasi sehat bukan hanya urusan moral, tetapi keterampilan komunikasi yang bisa dilatih. Jika anak belajar mengungkapkan batasan dan menghormati batasan orang lain, sekolah sedang membangun fondasi kesehatan mental jangka panjang. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Kampanye healthy relationship di SD Negeri Peterongan menunjukkan kolaborasi kampus dan sekolah dasar dapat menyentuh persoalan yang sering tersembunyi di balik rutinitas belajar. Pesan anti-bullying menjadi lebih hidup ketika diterjemahkan menjadi sikap, permainan, dan contoh komunikasi sehari-hari. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)

Pertanyaannya, beranikah sekolah menjadikan relasi sehat sebagai budaya, bukan sekadar tema kegiatan. Jika anak-anak dibiasakan saling menghargai hari ini, kita sedang mengurangi kekerasan sosial yang lebih besar di masa depan. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)