Investasi Dividen Tinggi vs Growth: Risiko Pensiun Tergerus

RBC Wealth Management

RBC Wealth Management

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Investasi dividen tinggi sering dipromosikan sebagai jalan aman menuju pensiun, tetapi riset RBC Brewin Dolphin menunjukkan strategi itu bisa memangkas pertumbuhan kekayaan dalam jangka panjang. Dalam simulasi indeks global, AS, dan Inggris, pemburu “dividend aristocrats” memang mendapat pendapatan lebih besar di awal, namun tertinggal jauh dalam kenaikan nilai portofolio.

Menjelang pensiun, banyak orang mengubah fokus dari “menumbuhkan modal” menjadi “memanen pendapatan” lewat saham berdividen besar. Logikanya sederhana, arus kas rutin terasa menenangkan ketika gaji berhenti.

Namun pasar tidak memberi hadiah hanya karena strategi terdengar nyaman. Ketika inflasi terus menggerus daya beli, pendapatan yang terlihat tinggi hari ini dapat menjadi kecil nilainya di masa depan.

RBC Brewin Dolphin membandingkan indeks utama dengan versi “dividend aristocrats”, yakni saham yang konsisten menaikkan dividen dalam periode panjang. Mereka memakai ilustrasi investasi awal £10.000, dividen diambil sebagai pendapatan, dan tidak direinvestasikan.

Dalam 10 tahun, Global Dividend Aristocrats memberi pendapatan tahunan £384, sementara MSCI World hanya £105. Tetapi nilai modal berakhir di £12.408, jauh di bawah MSCI World yang mencapai £25.948.

Artinya, investor menerima “kemenangan kecil” di pendapatan, tetapi kalah telak di akumulasi kekayaan. Di akhir periode, pendapatan aristocrats hanya naik 24%, sedangkan pendapatan dari MSCI World melonjak 159% karena basis asetnya membesar.

Pola serupa muncul di AS, tempat S&P 500 mengalahkan US Dividend Aristocrats dalam kenaikan modal. Investor aristocrats memang memulai dengan pendapatan £109 lebih tinggi, tetapi kehilangan £12.099 pertumbuhan modal dibandingkan S&P 500.

RBC mencatat pendapatan dari S&P 500 tumbuh 233% meski berangkat dari basis lebih rendah. Sementara itu, strategi aristocrats hanya mencatat pertumbuhan pendapatan 113%, menandakan “mesin” pertumbuhan asetnya lebih lambat.

Kasus Inggris bahkan lebih tajam dan mematahkan asumsi umum tentang saham berdividen. FT All Share menghasilkan yield 3,49%, lebih tinggi dari UK Dividend Aristocrats yang 2,95%.

Di saat yang sama, investor FT All Share mencatat capital gain £3.367, sedangkan aristocrats justru minus -£735. Pendapatan aristocrats di Inggris juga menyusut dari £295 menjadi £273, alias pertumbuhan pendapatan negatif.

Dalam rentang lebih panjang, biaya peluang makin brutal. Dari Oktober 2011 hingga Juni 2025, US Dividend Aristocrats tertinggal £24.448 pertumbuhan modal dibanding S&P 500, yakni £33.053 versus £57.501.

Yang mengejutkan, “imbalan” dari pengorbanan modal itu hanya tambahan pendapatan tahunan sekitar £110. Angka RBC menyebut S&P 500 memberi £587 per tahun, sedangkan aristocrats £697 per tahun.

RBC menegaskan angka-angka itu belum memasukkan pajak dan biaya, yang biasanya lebih menyakitkan bagi strategi bertransaksi atau berstruktur tertentu. Mereka juga menekankan bahwa kinerja historis bukan jaminan masa depan, dengan sumber data Bloomberg.

Riset ini menyentil bias psikologis paling umum dalam perencanaan pensiun, yaitu mengira “pendapatan” selalu lebih aman daripada “pertumbuhan”. Padahal keamanan finansial sering ditentukan oleh total return, bukan sekadar kupon dividen yang masuk tiap tahun.

Rob Burgeman dari RBC Brewin Dolphin menyebut fokus berlebihan pada income punya konsekuensi jangka panjang karena “menghambat kemampuan modal untuk tumbuh bermakna.” Ia juga mengingatkan inflasi dapat “merusak” pendapatan, karena £100 hari ini tidak akan membeli barang yang sama dalam 10 tahun.

Di balik layar, saham berdividen tinggi sering berasal dari bisnis matang dan industri mapan. Perusahaan seperti ini cenderung kekurangan proyek ekspansi produktif, sehingga mengembalikan kas ke pemegang saham.

Sebaliknya, perusahaan bertumbuh biasanya menahan laba untuk investasi ulang, yang meningkatkan valuasi dan pada akhirnya memperbesar kapasitas pendapatan. Risiko memang lebih tinggi, tetapi waktu pensiun modern sering lebih panjang dari yang disadari banyak orang.

Pernyataan Burgeman bahwa “di usia 60-an Anda masih bisa mengambil risiko terukur” terasa relevan ketika harapan hidup meningkat. Ia menambahkan, bahkan bila income dibutuhkan, menjual sebagian keuntungan modal bisa lebih rasional daripada mengunci diri pada aset berorientasi dividen.

Di sini letak ironi strategi dividen murni, yaitu mengejar arus kas sambil mengerdilkan mesin penghasil arus kas masa depan. Ketika modal tidak tumbuh, pendapatan pun kehilangan daya dorong, dan ketahanan menghadapi biaya kesehatan atau perawatan menjadi rapuh.

Kesimpulan RBC Brewin Dolphin bukan larangan atas dividen, melainkan peringatan atas obsesi pada dividen. Portofolio pensiun perlu memadukan pendapatan, pertumbuhan, dan fleksibilitas untuk menghadapi fase hidup yang berubah.

Pertanyaan kuncinya bukan “berapa dividen tahun ini,” melainkan “apakah aset saya cukup tumbuh untuk membiayai 20 sampai 30 tahun pensiun.” Jika jawabannya belum jelas, mungkin saatnya menilai ulang strategi, bukan sekadar mengejar yield.

(Orbit dari berbagai sumber, 4 Oktober 2026)